Gus Baha pernah ditanya anaknya alasan kenapa harus terus melakukan sholat. Gus Baha menjawab bahwa selama ini mereka tinggal di bumi Allah, tapi tidak pernah membayar sewa. Dan Allah SWT pun tidak pernah meminta bayaran. Itu sebabnya mereka perlu bersujud untuk membalas kebaikan Allah SWT.
Cara Gus Baha menjawab pertanyaan anaknya menarik perhatian penulis karena berbeda dengan jawaban kebanyakan orang lainnya. Biasanya jawaban pertanyaan kenapa harus beribadah kepada Tuhan adalah agar mendapat balasan dari Tuhan. Agar mendapat ampunan, rejeki, surga, sukses, dan lain-lain.
Jawaban kebanyakan orang tentu tidak salah. Allah SWT memang menjanjikan kehidupan yang baik serta pahala surga bagi orang-orang yang berbuat baik. Allah SWT berfirman:
Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. An-Nahl Ayat 97)
Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala surga di akhirat bagi orang-orang yang mau beribadah. Itu sebabnya beribadah karena ingin mendapatkan balasan adalah hal yang wajar. Beribadah dengan niat demikian masuk dalam kategori ikhlas menurut ulama.
Alasan Nabi Sangat Bersemangat Ibadah
Nabi Muhammad SAW pun menceritakan keindahan surga kepada umatnya agar bersemangat dalam beramal. Jadi, beribadah karena ingin mendapatkan surga hal yang wajar. Namun, meskipun memberikan iming-iming berupa surga, ternyata Nabi Muhammad SAW beribadah bukan karena ingin mendapat surga.Alasan Nabi Muhammad SAW beribadah terungkap saat menjawab pertanyaan Aisyah yang heran melihat Nabi sholat sampai bengkak kakinya. Padahal Nabi Muhammad SAW sudah mendapat jaminan surga yang tertinggi disebabkan perjuangannya dalam berdakwah.
Alasan Nabi beribadah terungkap dalam hadits berikut:
Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha beliau berkata, “Adalah Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam jika sholat malam sampai bengkak kakinya.” Dan ketika Aisyah bertanya, ’’Wahai Rasullullah mengapa engkau berbuat seperti ini padahal dosa engkau sudah diampuni?” Beliau menjawab, ’’Wahai Aisyah, apakah aku tidak pantas menjadi seorang hamba yang bersyukur?’’ (HR. Muslim)Jawaban Gus Baha terhadap anaknya dan jawaban Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah memiliki kesamaan sudut pandang dalam alasan beribadah. Sama-sama merasakan kenikmatan yang besar dari Allah SWT. Beribadah bukan karena ingin mendapatkan balasan, namun karena ingin berterimakasih karena sudah mendapat kebaikan dari Allah SWT.
Perbedaan Keinginan Menyebabkan Perbedaan Derajat
"ingin berterima kasih" tentu berbeda dengan "ingin mendapat balasan". Perumpamaan "ingin berterima kasih" seperti seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Perumpamaan "ingin mendapat balasan" seperti pekerja yang bekerja untuk majikannya.Beribadah karena "ingin berterima kasih" dengan beribadah karena "ingin mendapat balasan" sudah pasti berbeda derajatnya. Beribadah karena "ingin berterima kasih" lebih tinggi derajatnya disebabkan lebih tinggi level keikhlasannya.
Beribadah karena ingin membalas kebaikan Allah SWT adalah perwujudan rasa syukur. Beribadah yang tidak menginginkan apa-apa, hanya ingin berterimakasih kepada Allah SWT. Itu sebabnya ulama mengatakan bahwa nilai syukur lebih tinggi daripada takwa.
Beribadah karena ingin membalas kebaikan Allah SWT terkandung di dalamnya rasa cinta kepada Allah SWT. Cinta karena merasakan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan beribadah karena "ingin mendapat balasan" belum tentu ada rasa cinta di dalamnya.
Seperti pekerja yang ingin mendapat upah dari majikannya. Bisa jadi ia bekerja hanya karena ingin mendapatkan upah. Tidak ada rasa cinta kepada majikannya. Berbeda dengan anak yang berbakti kepada ibunya.
Jika beribadah karena ingin membalas kebaikan Allah SWT lebih tinggi nilainya, lalu kenapa Nabi memberikan iming-iming surga untuk memotivasi ibadah? Masalahnya tidak semua orang bisa merasakan kebaikan Allah SWT. Tidak semua orang memiliki kepekaan atas nikmat-nikmat yang begitu banyak dari Allah SWT.
Tinggal di bumi Allah SWT tanpa harus membayar sewa adalah suatu kenikmatan bagi Gus Baha. Belum lagi air yang diminum, udara yang dihirup, tumbuhan yang dimakan, hewan yang dikendarai, dan lain-lain.
Saking banyaknya kenikmatan tersebut, banyak yang tidak peka itu adalah suatu kenikmatan. Tidak semua orang bisa merasakan kenikmatan dan memiliki perasaan ingin berterima kasih. Wajar Nabi memberi iming-iming pahala surga untuk memotivasi ibadah.
Berusaha meningkatkan kepekaan atas nikmat yang banyak perlu diusahakan. Agar ibadah bisa lebih ikhlas. Agar ibadah tidak lagi terasa berat. Agar ibadah menjadi proses pelepasan rasa rindu. Agar ibadah berubah menjadi kebutuhan.
Berpikir dan Berdoa
Meningkatkan kepekaan atas nikmat membutuhkan tafakur untuk membuka pikiran. Berpikir sesaat bisa membuat perubahan sudut pandang. Allah SWT berfirman:(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali Imron ayat 191)Semua yang diciptakan Allah SWT ada gunanya. Mereka yang tidak berusaha berpikir akan menganggap ular, buaya, virus, racun dan hal-hal yang menyebabkan kematian tidak ada gunanya. Padahal kematian adalah nikmat berupa proses alami untuk menjaga keseimbangan.
Jika tidak ada ular, siapa yang akan mengendalikan jumlah tikus? Manusia-manusia yang berpikirlah yang bisa melihat guna dari semua ciptaan Tuhan.
Selain berpikir, untuk bisa peka akan kenikmatan dari Allah SWT, diperlukan doa. Berdoa agar lebih mudah bersyukur. Nabi mengajarkan doa, " "Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika (Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu"
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus