Di dalam Al-Quran, nafsu terbagi tiga yaitu nafsu amarah, nafsu lawamah, dan nafsu muthmainah. Manusia yang dirinya dikuasai nafsu amarah, yang merupakan nafsu terendah, akan sulit untuk bahagia.
Manusia yang dirinya didominasi oleh nafsu muthmainah akan memiliki ketenangan di dalam hidupnya. Perasaan tenang yang ada di dalam hatinya membuatnya mudah menemukan Tuhan.
Nafsu amarah adalah nafsu-nafsu yang terkait dengan jasmani manusia. Nafsu ini jika dipuaskan berisiko mengambil hak orang lain dan menimbulkan kerusakan. Itu sebabnya mereka yang jiwanya dikuasai nafsu ini akan sulit untuk mencapai puncak kebahagiaan.
Nafsu amarah adalah nafsu-nafsu yang juga dimiliki binatang dan setan. Binatang ternak memiliki nafsu untuk makan dan hubungan seksual. Binatang buas memiliki sifat ganas, ingin berkuasa, dan menghabisi dengan sadis. Setan memiliki nafsu berupa iri dengki, dendam, dan suka mengadu domba.
Nafsu amarah jika diperturutkan akan semakin membesar dan sulit untuk dikendalikan. Contohnya nafsu ingin berkuasa. Sudah menguasai satu wilayah, tidak puas dan ingin menguasai wilayah yang lebih besar. Sudah mendapat wanita yang cantik, ia ingin memiliki wanita yang lain. Alasannya ada kecantikan jenis lain yang ia inginkan.
Karena nafsu amarah sulit dibendung jika diikuti, nafsu ini berisiko memberikan kerugian pihak lain dan menimbulkan permusuhan. Nafsu amarah yang berkobar-kobar rentan melanggar batas hak orang lain.
Manusia yang jiwanya dikuasai nafsu amarah akan mengalami kegelisahan. Hidup dalam keadaan melelahkan karena menahan rasa yang tidak selesai-selesai untuk dipuaskan.
Nafsu muthmainah adalah nafsu yang terkait dengan kebutuhan ruh. Rasa laparnya berupa keinginan bersama Allah SWT. Ruh berasal dari tiupan Allah SWT dan ingin kembali kepada Allah SWT.
Sungguh beruntung manusia yang dirinya dikuasai nafsul muthmainah. Selain mudah untuk disalurkan, nafsu ini tidak akan mengganggu hak orang lain. Silahkan sepuasnya seseorang beribadah, mengingat Tuhan, atau menyayangi fakir miskin. Tidak ada yang akan merasa terganggu.
Allah SWT memanggil mesra orang-orang yang cenderung dengan nafsu muthmainah. Allah SWT berfirman:
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr ayat 27-30)
Pertanyaannya, bagaimana menggeser keinginan dan kesenangan dari dominasi nafsu amarah menjadi dominasi nafsu muthmainah? Apakah itu bisa dilakukan?
Jawabannya tentu sangat bisa dan harus dilakukan. Ketika Allah SWT memerintahkan manusia untuk memiliki nafsu muthmainah, tentu perintah tersebut bisa diwujudkan. Tinggal mau atau tidak mewujudkannya.
Kebutuhan jasmani tentu tidak bisa dihilangkan selama manusia masih memiliki jasmani. Keinginan jasmani tetap diberikan secara proporsional. Yang dilakukan adalah menumbuhkan kebutuhan ruhani agar menjadi dominan.
Perubahan keinginan adalah hal yang bisa terjadi. Lihatlah perubahan keinginan manusia sejalan dengan pertambahan usianya. Anak balita memiliki keinginan yang berbeda dengan anak remaja. Begitu juga ketika manusia dewasa atau tua.
Jika ada kue coklat, mainan, cincin emas, laptop, bisa ditebak usia berapa manusia yang akan mengambilnya. Pergeseran keinginan terjadi dengan bertambahnya umur.
Jika dilihat, penyebab terjadinya pergeseran keinginan disebabkan karena adanya tambahan ilmu pengetahuan. Anak kecil belum mengenal kenikmatan yang lebih tinggi sehingga keinginannya terbatas pada hal yang ia ketahui.
Selain mengetahui secara teori, hal terkuat yang bisa merubah keinginan adalah merasakan langsung kenikmatan. Teori masih memberikan pertanyaan yang membuat ragu.
Agar hidup lebih indah, seseorang harus berusaha menggeser dominasi keinginan amarah menjadi keinginan muthmainah. Sungguh merupakan kerugian yang besar bagi manusia yang tidak berupaya mengejar kenikmatan nafsu muthmainnah.
Umumnya, saat manusia sudah lanjut usia, ia mulai menyadari ada yang salah dalam hidupnya. Ia mulai bertaubat dan berusaha memahami makna kehidupan.
Di saat hatinya telah bersih sehingga mulai menyadari hakikat kehidupan ia baru melihat dengan jelas. Ada kenikmatan yang lebih dahsyat daripada kenikmatan yang selama ini ia kejar. Ada ketenangan hidup, yang belum difahaminya di masa lalu. Ia berubah menjadi lebih bijaksana.
Sayangnya ada manusia yang umurnya bertambah namun pengetahuannya tidak. Di saat teman seangkatannya sudah tersenyum bahagia merasakan rahmat Allah SWT, ia masih gelisah mengejar harta yang tidak cukup baginya.
Teman seangkatannya merasakan kasih sayang Tuhan meskipun dengan hidup seadanya. Teman seangkatannya merasakan limpahan kenikmatan yang bertubi-tubi meskipun terlihat hidupnya biasa-biasa saja. Nafsu muthmainah yang membuat mereka merasakan ketenangan.
Meskipun membutuhkan ilmu yang mendalam serta kebersihan hati, nafsu muthmainah bukan hanya dikuasai orang yang lanjut usia. Banyak anak muda yang memiliki nafsu muthmainah.
Di usia belia mereka sudah mencapai ketenangan jiwa. Harta kekayaan yang ada di tangan mereka tidak merusak nafsu keinginan mereka. Meskipun usia biologis mereka muda, usia ruh mereka telah melampaui usia kebanyakan orang lain.
Bulan Ramadhan di depan mata. Bagi orang beriman, Ramadhan bukan hanya sekedar bulan mencari pahala. Ramadhan adalah bulan untuk menguatkan nafsu muthmainah. Ramadhan adalah bulan untuk menjadi takwa.
*Wallahu a’lam bishshowab*



Posting Komentar