Suatu hari anak penulis mengatakan kepada penulis bahwa ia berpikir untuk pulang ke Indonesia. Ia ingin mengajar di unit-unit cabang yang ada di Indonesia saja.
Sebenarnya ia sangat senang bertugas di tempatnya saat ini. Ia bertugas di unit yang mengajarkan pendidikan Qiraat Asyarah (bacaan Al-Quran yang bersanad kepada Rasulullah SAW melalui sepuluh Imam). Di sana sangat mudah untuk bertemu para ulama yang tinggi ilmunya. Adalah suatu kenikmatan bergaul dengan orang-orang yang alim dan memiliki kesholehan yang kuat.
Anak penulis mengatakan alasan yang membuatnya ingin bertugas di cabang Indonesia karena merasa amanah yang diberikan saat ini cukup berat dan menantang. Ia merasa tidak nyaman jika tidak mencapai target sesuai yang diamanahkan.
Anak penulis menyampaikan kepada pimpinan unit alasan keinginan bertugas di unit yang ada di Indonesia saja. Pimpinan unit mengatakan bahwa sebenarnya ia mengetahui keterbatasan anak penulis yang bukan warga negara Turki. Tidak memiliki relasi dan jaringan yang kuat karena bukan penduduk asli.
Sebenarnya pimpinan unit memberinya target menantang bertujuan untuk menaikkan kapasitasnya. Sebenarnya capaian yang diraih sudah cukup bagus menurut penilaian pimpinan unit.
Mendengar penjelasan tersebut anak penulis mengatakan bahwa ia merasa sangat lega. Betul-betul merasakan rehat. Hilang beban yang membuat sesak dada. Ternyata pimpinan sebenarnya mengetahui kemampuannya. Target menantang hanyalah alat untuk menaikkan kapasitas. Jika kapasitas telah meningkat, hal yang terasa berat akan menjadi ringan.
Menaikkan kapasitas diperlukan agar hidup lebih berkualitas
Cerita anak penulis membuat penulis teringat peristiwa yang dialami para sahabat Nabi. Mereka betul-betul tertekan saat turun surah Al-Baqarah ayat 284 :
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah ayat 284)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati. Allah SWT juga memberitahukan bahwa Dia kelak akan melakukan perhitungan atas semua yang telah manusia lakukan dan yang manusia sembunyikan di dalam hati.
Tentu saja ini terasa berat bagi para sahabat. Menjaga tubuh untuk tidak melakukan perbuatan dosa mudah bagi sahabat. Namun menjaga pikiran dan perasaan yang ada di dalam hati lebih sulit untuk dikendalikan. Menjaga pikiran dan perasan dari hal-hal yang buruk adalah pekerjaan yang melelahkan.
Para sahabat mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengeluh betapa beratnya melaksanakan ayat ini. Namun Nabi hanya bisa mengingatkan pentingnya untuk mendengar dan taat (sami'na wa atho'na) atas perintah Allah SWT. Jangan seperti umat sebelum Nabi Muhammad SAW yang ketika mendengar perintah Tuhan mereka tidak mau menaatinya.
Mendengar nasihat Nabi, para sahabat kembali dan berusaha untuk menjaga apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya dari hal-hal yang kotor. Setelah para sahabat berlatih menjaga perasaannya, turunlah ayat yang menasakh ayat tersebut. Allah SWT berfirman:
Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir. (QS. Al Baqarah ayat 286)
Nabi Muhammad SAW menjelaskan:
Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak. Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan. (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadits tersebut pikiran buruk jika tidak dilaksanakan bukan merupakan dosa bahkan menjadi pahala. Meskipun pikiran buruk yang tidak dilaksanakan bukan merupakan dosa, para sahabat sudah berlatih untuk tidak memiliki pikiran buruk. Mereka telah naik kapasitasnya karena melaksanakan perintah di dalam surah Al-Baqarah ayat 284.
Surah Al-Baqarah ayat 284 membuat sahabat berlatih peka dan waspada terhadap pikiran dan perasaan yang buruk. Jangankan melakukan, baru berpikir saja mereka sudah berusaha untuk menghapusnya karena takut.
Beratnya beban kehidupan akan berkurang dengan berdoa
Ayat 286 surah Al-Baqarah yang membuat lega sahabat juga memberikan bonus berupa doa agar Allah SWT tidak menghukum perbuatan salah yang disebabkan lupa atau khilaf. Juga doa agar tidak mendapatkan beban yang berat dalam hidup, mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT.
Beberapa ulama menjadikan ayat 286 surah Al-Baqarah sebagai wirid yang dibaca setiap pagi dan sore. Di dalam hadits dijelaskan bahwa ketika hamba membaca doa yang ada di ayat tersebut Allah menjawab “Iya, Aku telah melakukannya”. Sungguh betapa beruntungnya orang-orang yang mengamalkan doa tersebut. Beban hidup Anda terasa berat? Sepertinya sudah saatnya Anda menjadikan wirid doa yang diajarkan Allah SWT di dalam ayat 286 surah Al-Baqarah..
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar