UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Menaikkan Level dari Mengetahui Menjadi Merasakan



Ada pertanyaan, "Apakah seseorang bisa mengetahui bahwa dirinya adalah kekasih Allah (wali Allah) atau tidak?" Ada perbedaan pendapat. Sebagian menjawab "iya". Sebagian lagi menjawab "tidak".

Alasan yang mengatakan "tidak" adalah jika seseorang mengetahui bahwa dirinya adalah wali Allah, akan timbul rasa ujub dan sombong pada dirinya. Rasa sombong ini akan membuat dia kehilangan ke-wali-annya. Itu sebabnya tidak mungkin seseorang tahu bahwa dirinya adalah seorang Wali Allah.

Buya Arrazy Hasyim menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut. Untuk para wali yang sifatnya umum, mereka tidak mengetahui bahwa diri mereka adalah kekasih Allah SWT. Wali umum hanya bisa menduga-duga tetapi tidak mengetahui secara pasti apakah dirinya adalah Wali Allah atau bukan. Wali yang sifatnya umum ini ada di dalam Al-Quran ayat 257 surah Al-Baqarah.

Untuk wali yang levelnya khusus (Wali Qutub, Wali Autad, Wali Abdal, Wali Nuqoba dan lain-lain), mereka mengetahui bahwa diri mereka adalah Wali Allah. Mereka bahkan bisa mengenali sesama Wali Allah.

Para Wali Allah bisa mencium aroma harum Wali Allah lain yang ada di sekitar mereka. Wali yang berada di level atas biasanya akan mencari dan membimbing Wali yang lebih bawah atau calon wali untuk membantu level mereka naik lebih tinggi.

Di dalam proses belajar syariat, biasanya para murid akan mendatangi guru atau ustadz. Seseorang yang akan belajar fikih, hadits, atau membaca Al-Quran, ia akan mencari guru untuk mengajarkannya.

Konon, saat seseorang sudah kuat pengamalan syariatnya, ia akan didatangi Wali Allah yang akan mengajarkan ilmu hakikat. Jika saat proses belajar syariat ia mencari guru, saat proses belajar hakikat, ia akan didatangi guru. Diajarkan ilmu hakikat sehingga lebih berkualitas dalam menjalankan syariat. Para Wali Allah mengetahui siapa-siapa yang layak untuk diberikan bimbingan lebih tinggi.

Penulis membaca beberapa kisah para Wali Allah yang membimbing para calon Wali Allah di dalam kitab Silsilah Saadat (Silsilatudz Dzahab). Begitu juga dengan kisah wali-wali di Nusantara. Contohnya Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi pedagang rumput untuk membimbing Adipati (Bupati) Semarang. Kelak Adipati Semarang ini, setelah menjadi Wali Allah, dikenal dengan nama Ki Ageng Pandanaran.

Ilmu Hakikat yang Menguatkan Ilmu Syariat

Jika para Wali Allah mengetahui dirinya wali, apa iya mereka tidak menjadi sombong? Jika demikian, tentu para Nabi adalah orang-orang yang paling sombong. Para Nabi memiliki mukjizat yang lebih hebat daripada karomah yang dimiliki para Wali Allah. Tentu para Nabi lebih mungkin menjadi sombong.

Ilmu para Nabi dan Wali Allah telah mencapai level yang membuat mereka mampu mengelola hati dengan kuat. Mereka bisa menghilangkan rasa sombong dan tidak akan terperdaya dengan tipu daya setan. Mereka tidak sombong karena sudah menguasai ilmu hakikat. Di antaranya adalah hakikat "kepemilikan".

Cara gampangnya adalah tukang parkir yang mengatur mobil-mobil mewah. Tukang parkir tidak akan sombong karena ia tahu bahwa secara hakikat ia bukanlah pemilik mobil-mobil mewah tersebut.

Meskipun ia bisa mengatur letak mobil-mobil tersebut, ia bukanlah pemiliknya. Ia hanya dititipi saja. Sewaktu-waktu pemilik mobil yang asli bisa mengambil kembali semua mobilnya.

Demikian juga para Nabi dan Wali Allah, mereka bisa melihat dengan jelas bahwa kekayaan, keilmuan, kesholehan, keimanan, dan segala yang ada di tangan mereka adalah titipan milik Allah SWT. Mereka tetap rendah hati karena merasa dirinya fakir dan tidak memiliki apa-apa.

Para Nabi dan Wali Allah yang sudah menguasai ilmu hakikat justru merasa sangat malu untuk menyombongkan diri. Mereka malu karena mereka faham bahwa semua kehebatan berupa mukjizat atau karomah yang mereka miliki hakikatnya milik Allah. Tentu hal yang lucu dan tidak beradab mengaku-aku sesuatu yang bukan miliknya.

Seperti malunya tukang parkir untuk menyombongkan diri atas mobil-mobil mewah yang dititipkan kepada dirinya. Ia pasti akan ditertawakan orang-orang jika ketahuan bukan sebagai pemilik. Apalagi jika dilaporkan kepada pemilik mobil, lebih malu lagi.

Secara hakikat, segala sesuatu adalah milik Allah. Manusia hanya dititipi saja. Misalnya ada seseorang yang membeli sebidang tanah. Berdasarkan ilmu syariat, tanah itu miliknya. Namun berdasarkan ilmu hakikat, tanah itu milik Allah SWT. Ia hanya dititipi saja. Bahkan, bukan hanya tanahnya, dirinyapun milik Allah SWT.

Selain mengetahui hakikat "kepemilikan", para Nabi dan Wali Allah juga mengetahui hakikat dari "dunia". Itu sebabnya mereka tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia. Ilmu hakikat membuat mereka bisa melihat dengan jelas segalanya.

Banyak manusia yang cinta terhadap dunia. Mereka mengejar dunia dan melupakan Allah SWT. Mereka menjadi budak dunia. Sebaliknya para Wali Allah yang sudah mengetahui hakikat dunia, menggunakan dunia untuk mengejar cinta Allah SWT.

Di dalam Al-Quran Allah SWT menjelaskan hakikat dunia. Salah satunya adalah:
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Al-Hadid ayat 20)
Menguasai ilmu hakikat adalah langkah selanjutnya setelah menguasai ilmu syariat. Ilmu hakikat dipelajari agar bisa melaksanakan ilmu syariat dengan baik. Ucapan bahwa jika sudah menguasai ilmu hakikat maka tidak perlu lagi menjalankan syariat adalah ucapan yang tidak benar. Justru ilmu hakikat akan membuat seseorang bisa lebih kuat menjalankan syariat.

Jika seseorang merasa sudah menjalankan syariat dengan baik tetapi hidup tidak tenang dan sering diombang-ambingkan hawa nafsu, mungkin ia perlu menaikkan level menjadi lebih tinggi. Mungkin ia baru menguasai ilmu syariat dan belum menguasai ilmu hakikat.

Mungkin sudah saatnya ia berdoa agar bisa dipertemukan dengan Mursyid pembimbing. Sudah saatnya meningkatkan level dari "ilmul yaqin" menjadi "haqqul yaqin". Sudah saatnya menaikkan level dari sekedar "mengetahui" menjadi "merasakan".

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate