Di suatu pengajian ada yang mempertanyakan bukti bahwa Tuhan menguji seseorang sesuai dengan kemampuannya. Apa iya ujian tidak akan melebihi kadar daya tahan seseorang? Lalu kenapa ada orang bunuh diri? Bukankah itu tanda bahwa ia diuji melebihi kemampuannya?
Apa bukti kebenaran ayat Al-Quran di dalam surah Al-Baqarah yang menyebutkan "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..."? Padahal banyak orang yang menyerah kemudian melanggar perintah Tuhan.
Manusia terkadang beralasan sudah tidak kuat lagi. Ia kemudian mengambil jalan pintas yang dilarang agama. Seperti para koruptor yang menggunakan alasan bahwa kebutuhan hidupnya tidak tercukupi. Mereka beralasan, "Aku kan malu kalau pakai mobil yang lama. Belum lagi buat wisata ke luar negeri. Aku khan belum pernah ke Korea." Alasan yang dibuat-buat karena tidak mau bersabar.
Ujian akan Hilang dan Berlalu
Sebenarnya rasa sakit atau tidak enaknya masih bisa di tahan. Kalau ia mau bertahan sebentar di puncak ujian, niscaya ujian itu akan hilang atau ia menjadi terbiasa dan sudah tidak lagi merasakan itu sebagai gangguan. Namun, dengan alasan "tidak tahan lagi", manusia melanggar perintah Allah SWT.
Manusia yang merasa bahwa ujian yang diterima sudah melewati batas kemampuannya menuduh bahwa Tuhan tidak mengerti batas kemampuan. Padahal semua sudah diukur sesuai dosisnya.
Buktinya, ada manusia lain yang lebih berat dari pada ujian yang ia terima ternyata mampu bertahan. Ada yang lebih miskin. Ada yang lebih lama sakitnya. Ada yang lebih berat penderitaannya ternyata mampu bertahan.
Seperti anak kecil yang disuruh ibunya memakai sendiri kaus kakinya. Ia beralasan itu adalah hal yang tidak mampu ia lakukan. Ia berkata, "Nggak bisa, Ma!" Sang ibu, karena sudah memperhatikan perkembangan anaknya sejak bayi, ia tahu kemampuan motorik dan psikomotorik anaknya. Ibunya berkata, "Bisa, kamu bisa. Coba dulu."
Seorang ibu tidak mungkin menyuruh anaknya dengan perintah yang tidak mungkin bisa dilakukan anak. Saat anak berusia empat tahun, tidak mungkin ibu menyuruh anak menggeser lemari. Tubuhnya belum cukup kuat. Paling ibu hanya menyuruhnya dengan pekerjaan ringan seperti menyiram bunga.
Jika ibu yang mengasuh mengetahui kemampuan anaknya, demikian pula Allah SWT mengetahui kemampuan makhluk ciptaanNya. Jika ibu hanya sekedar merawat dan membesarkan mengetahui batas kemampuan anaknya, apalagi Allah SWT yang menciptakan.
Ibu dengan logika yang dimilikinya tidak akan mungkin memberikan tugas kepada anaknya di luar kemampuannya. Apalagi Allah SWT yang selain memiliki sifat Maha Adil dan Maha Mengetahui tidak akan memberikan beban di luar kemampuan dari makhluk yang diciptakanNya.
Pertolongan akan Datang Jika Sudah Tiba Saatnya
Saat seseorang memilih untuk bersabar, ia akan diberi fasilitas Allah SWT bantuan yang membuatnya mampu bertahan. Meskipun manusia pikir sudah tidak mungkin lagi ada jalan keluar, ia harus bersabar sampai pertolongan tiba.
Contohnya adalah kisah Asiyah istri Fir'aun. Ia beriman kepada Nabi Musa dan disiksa dengan kejam oleh Fir'aun. Asiyah memilih tetap bersabar dan berdoa yang diabadikan di dalam Al-Quran surah At Tahrim ayat 11. Di saat siksaan mendekati puncaknya, tiba-tiba Asiyah tersenyum dan tertawa.
Fir'aun dan tentaranya merasa heran. Mereka mengira Asiyah telah gila karena tidak tahan lagi dengan siksaan yang diterima. Padahal Asiyah tertawa karena begitu bahagia melihat tempatnya di surga dan tidak merasakan lagi siksaan yang ia terima. Saat keindahan surga di depan mata, manusia akan terpesona dan lupa akan dunia. (baca: https://www.lembarnasihat.com/2026/02/ketidaktahuan-yang-menggelisahkan.html )
Di dalam tafsir ibnu Katsir dijelaskan bahwa saat batu besar dijatuhkan ke Asiyah, ia sudah tidak bernyawa. Allah SWT sudah mencabut rohnya sehingga Asiyah tidak lagi merasakan saat tubuhnya hancur. Asiyah berhasil bersabar mempertahankan imannya.
Di saat seseorang memiliki tubuh yang rendah dalam menahan rasa sakit, Allah SWT bisa memberikan fasilitas berupa berkurangnya rasa sakit. Nabi Muhammad SAW bersabda tentang orang-orang yang mati syahid di dalam mempertahankan agama:
Seorang syahid tidak akan merasakan sakitnya terbunuh, melainkan hanya seperti rasa sakit ketika salah seorang dari kalian digigit semut atau dicubit. (HR. At-Tirmidzi)
Kok bisa rasanya hanya seperti digigit semut? Bukannya tertusuk tombak dan tertebas pedang sakitnya lebih dari itu? Penulis teringat cerita teman ketika kakinya patah. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang melihat tulang yang muncul di lukanya sangat heboh, merinding, dan gemetar. Tapi ia sebenarnya tidak merasakan sakit seperti yang diperkirakan orang-orang. Hanya rasa nyut-nyut biasa.
Perlu Usaha Saling Menguatkan dalam Kesabaran
Saling menasehati dalam kesabaran (tawashou bish-shobir) perlu dilakukan sesama manusia. Ini tercantum di dalam surah Al-'Ashr ayat 1-3. Setiap manusia yang mendapat ujian, terkadang membutuhkan motivasi atau bantuan untuk mengurangi rasa sakit saat menghadapi ujian.
Manusia selevel Imam Ahmad bin Hanbal sekalipun juga membutuhkan nasihat untuk bersabar. Padahal beliau merupakan imam madzhab dan memiliki iman yang sangat kuat. Ini disebabkan semakin tinggi keimanan, semakin berat ujiannya.
Imam Ahmad mengatakan bahwa nasihat terbaik yang pernah beliau terima justru dari mulut pencuri. Pencuri tersebut memberi semangat kepada Imam Ahmad untuk bersabar saat beliau disiksa karena mempertahankan pendapat bahwa Al-Quran adalah kalam Allah SWT.
Manusia membutuhkan untuk saling memberi nasihat agar bersabar karena bisa jadi seseorang lelah menghadapi ujian dan hampir menyerah. Bisa jadi seseorang membutuhkan teman untuk mencurahkan perasaan agar terasa lebih ringan. Bisa jadi seseorang belum tahu bahwa ujian ini pasti bisa ia lalui dan telah diukur kadarnya oleh Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz. Jadi merasa sangat malu. Selalu ada alasan yang dianggap bisa rodo sah melakukan kemaksiatan
BalasHapus