UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Masih Terasa Sakit? Naiklah Lebih Tinggi

    


Pada suatu hari ada seseorang yang bertanya bagaimana menjaga semangat. Si penanya seorang aktifis di salah satu lembaga sosial. Ia sebenarnya ingin berbuat banyak untuk lembaga. Namun, melihat anggota lain bekerja dengan seenaknya, ia jadi patah semangat dan malas untuk berbuat lebih.

Mendengar pertanyaan tersebut, penulis teringat perkataan Gus Baha. Beliau mengatakan bahwa ikhlas itu gampang bagi orang yang sudah mencapai level hakikat. Orang yang sudah mencapai level hakikat justru sulit untuk tidak ikhlas

Sejalan dengan penjelasan Gus Baha, kembali pada pertanyaan bagaimana menjaga semangat, kunci agar tetap bersemangat adalah dengan berusaha meng-upgrade diri ke level hakikat. Level yang akan membuat seseorang ikhlas bekerja dan tidak lagi terpengaruh dengan perbuatan orang lain.

Hakikat Menjadi Kunci Agar Istiqomah

Kenapa mencapai level hakikat bisa membuat seseorang ikhlas? Saat seseorang mengetahui hakikat dari tujuan ia beramal, maka ia tidak lagi terpengaruh dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tujuannya.

Contohnya seseorang yang memberi sedekah. Jika ia memberikan sedekah dengan tujuan benar-benar untuk mendapat ridho Allah SWT, maka tidak masalah siapa pun yang menerima sedekahnya. Meskipun yang menerima sedekah memusuhinya. Yang penting ia sudah bersedekah.

Namun, jika ia bersedekah karena ingin mendapatkan pujian dari yang menerima sedekah, semangatnya akan pudar jika yang diberi sedekah tidak menunjukkan rasa terima kasih. Bisa-bisa ia tidak akan memberi sedekah lagi.

Pemberi sedekah yang belum mencapai level hakikat akan kecewa jika penerima sedekah menyakiti hatinya. Mereka lupa bahwa hakikat sedekah itu untuk mendapatkan rido Allah SWT, bukan mendapatkan tanda terima kasih dari penerima sedekah.

Hakikat Membuat Hidup Lebih Tenang

Menguasai ilmu hakikat akan membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi kehidupan. Ini disebabkan ahli hakikat tahu di balik semua kejadian. Secara hakikat ada Allah SWT yang berkehendak.

Itu sebabnya ahli hakikat lebih tangguh dan stabil mentalnya. Sedangkan mereka yang belum menguasai ilmu hakikat akan terombang-ambing perasaannya.

Contohnya saat ada orang yang menderita penyakit setelah makan di warung yang kurang menjaga kebersihan. Perasaan yang muncul di antaranya adalah perasaan marah.

Ia marah dan menyalahkan hal-hal yang menurutnya menyebabkan dirinya sakit. "Gara-gara penjual makanan yang kurang bersih, aku jadi sakit.", pikirnya.

Ia juga kecewa dan menyesal. Ia berkata, "Seandainya tidak makan di warung itu, tentu aku tidak sakit. Coba kemarin makan di rumah saja.

Ia juga diliputi kesedihan karena merasakan penderitaan dari sakitnya. Ia mengeluhkan rasa nyeri yang dideritanya. Sedih karena kehilangan kesempatan untuk beraktivitas.

Perasaan lain yang timbul pada diri orang yang belum menguasai ilmu hakikat adalah perasaan gelisah. Berapa dana pengobatan yang harus dikeluarkannya? Berapa lama waktu penyembuhannya? Apakah sakit ini akan bertambah parah?

Rasa marah, menyesal, sedih, dan gelisah disebabkan menderita sakit akan membuat hidupnya tidak tenang. Sekarang bandingkan dengan seseorang yang telah menguasai ilmu hakikat saat menderita sakit.

Penulis pernah mendengar ceramah seorang ustadz yang mengatakan bahwa bagi orang-orang arifin, kondisi sakit adalah kondisi yang membahagiakan. Mereka tetap tenang tanpa muncul perasaan marah, menyesal, sedih atau gelisah. Bahkan hari-hari sakit adalah hari raya bagi mereka.

Ahli Hakikat Bisa Memandang Lebih Jelas

Ahli hakikat tahu bahwa di balik sakit yang menimpa, ada Allah SWT yang berkehendak. Itu sebabnya mereka tidak marah kepada hal-hal yang tampaknya secara dzhahir menjadi penyebab.

Ahli hakikat juga tidak akan menyesali perbuatannya. Ia tahu bahwa meskipun ia telah berusaha maksimal dalam menghindari penyakit, ia akan tetap sakit jika telah ditetapkan oleh Allah SWT. Meskipun ia tidak makan di warung yang diduga menjadi penyebab, ia akan tetap sakit melalui jalur makanan lain.

Orang yang menguasai hakikat tidak sedih atas sakitnya karena yakin Allah SWT akan "membayar" lunas semua penderitaannya. Semakin kuat rasa sakit yang dirasakannya, semakin banyak dosa-dosanya dihapuskan dan semakin tinggi derajatnya. Itu yang membuat mereka bahagia saat menderita sakit.

Nabi bersabda:
Tidak ada seorang muslimpun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. (HR. Muslim)
Penyakit bisa jadi adalah perwujudan kasih sayang Allah SWT kepada hambaNya. Selain penghapus dosa, penyakit adalah sarana menaikkan derajat dan menjadi pintu pahala atas kesabaran.

Ada ustadz yang memberikan ilustrasi. Seandainya ada orang yang diberi tawaran akan dibayar 1 milyar untuk setiap cubitan, tentu dia akan bahagia setiap kali mendapat cubitan. Semakin banyak cubitan, semakin lebar senyumnya. Terbayang berapa milyar uang yang akan didapatkannya.

Orang yang menguasai ilmu hakikat tidak akan gelisah saat menderita sakit. Ia tahu bahwa ujian yang diberikan Allah SWT selalu sebanding dengan kemampuan. Sebagaimana guru yang tidak mungkin memberikan soal yang tingkat kesulitannya di atas kemampuan muridnya.

Belajar syariat saja tidak cukup. Menaikkan level pandangan dari sudut pandang syariat menjadi sudut pandang syariat yang dilengkapi hakikat adalah kunci ketenangan hidup. Kunci menjadi orang-orang yang dikatakan di dalam Al-Quran "Laa khoufun alaihim wa laa hum Yahzanun."

Wallahu a’lam bishshowab

Posting Komentar

Translate