UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Merantau Menjalani SkenarioNya

   
SK mutasi telah ditandatangani. Ada yang harus berpisah dengan keluarganya, ada pula yang disatukan setelah berpisah lama. Ada yang kini harus mengeluarkan ongkos perjalanan yang besar jika ingin bertemu keluarganya. Teman penulis pernah berkata kepada istrinya saat dulu menerima SK mutasi, "Sekarang kita kalau mau bertemu harus mengeluarkan uang beberapa juta rupiah." Sudah jadi suami istri, tapi kalau ingin bertemu biayanya jauh lebih mahal daripada ongkos pacaran.

Ada yang terpisah sehingga harus menempuh perjalanan panjang melalui darat, laut, dan udara untuk mencapai lokasi kerja. Penulis pernah bertugas di kantor unit DJP yang sebagian wilayah kerjanya berbatasan dengan Malaysia. Posisi kantornya berada di sebuah pulau.

Saat liburan, anak-anak penulis harus terbang dulu ke pulau yang berdekatan dengan pulau tempat penulis bertugas dan harus menginap dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Pesawat yang membawa mereka ke pulau tersebut tiba di sore hari, sedangkan jadwal kapal speed yang ada hanya sampai siang hari. Mereka harus menunggu esok harinya agar bisa naik speed. Biaya yang dikeluarkan meliputi tiket transportasi darat, pesawat udara, hotel, dan tiket transportasi laut. Perjalanan yang menghabiskan biaya, tenaga, dan waktu.

Penulis lebih beruntung karena meskipun terpisah dengan anak-anak, penulis selalu disertai istri mutasi ke manapun. Banyak yang harus merantau tetapi tidak bisa membawa pasangan hidupnya karena ada tanggungan orang tua, atau anak yang tidak bisa ditinggalkan.

Teman penulis menceritakan fase kehidupannya saat mutasi jauh dari keluarga. Dari matanya yang berkaca-kaca saat bercerita, penulis bisa membayangkan beratnya suasana saat itu. Ia mengatakan pernah berada di titik pilihan apakah akan keluar dari pekerjaannya ataukah tetap bertahan dan terpisah jauh dengan keluarganya. Di saat itulah anak dan istrinya menunjukkan cinta mereka.

Istrinya mengatakan bahwa silahkan pilihan apapun yang diambil suaminya dia siap. Yang penting itu yang paling nyaman buat suaminya. Ia rela suaminya keluar dari pekerjaan karena tidak tega membayangkan suaminya bersedih. Anaknya juga mengatakan bahwa jika ayahnya merasa berat dan ingin keluar dari pekerjaannya, ia siap untuk bekerja mencari nafkah. Meskipun itu mungkin akan mengorbankan pendidikannya.

Teman penulis trenyuh mendengar pernyataan anak dan istrinya. Ia mengatakan kepada anaknya untuk terus kuliah dan ia yang akan bekerja. Anak dan istrinya telah menyatakan siap menderita untuknya, ia tidak ingin membuat mereka menderita.

Merantau adalah hal yang berat. Pepatah mengatakan “Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Pepatah ini sangat dirasakan bagi mereka berada di negeri orang. Uang dengan mudah mereka dapatkan di negeri orang, tetapi rasanya tinggal di negeri sendiri jauh lebih nyaman.

Ada yang harus merantau karena mencari nafkah. Ada yang merantau karena melarikan diri disebabkan terancam jiwanya. Ada yang merantau untuk menemukan kekasihnya yang hilang. Ada yang merantau karena ingin melupakan kenangan sedih di tempat yang lama. Seperti halnya Bilal bin Rabah yang memilih meninggalkan kota Madinah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Begitu banyak kenangan di kota Madinah membuat Bilal bersedih. Ia memilih merantau untuk menghilangkan kesedihannya.

Ada yang harus merantau sejak belia karena menuntut ilmu. Saat anak penulis masuk ke pesantren, selama beberapa minggu ia menangis. Yang membuatnya berat tinggal di pesantren adalah menahan rindu. Padahal merantau saat ini tidak seberat merantau di masa dahulu. Meskipun berjauhan, dengan adanya handphone, komunikasi masih dapat dilakukan.

Sebenarnya pesantrennya secara fasilitas sangat nyaman. Pesantren yang dilengkapi dengan AC dan karpet tebal di hampir semua ruangan. Makanannya pun lumayan enak. Koki yang bertugas memiliki standar memasak yang ditetapkan lembaga tersebut. Para koki dilatih dengan standar yang sama untuk semua cabang asrama.

Sebenarnya aktivitas anak penulis sebelum dan sesudah masuk pesantren relatif sama. Bermain, berolahraga, ngobrol, belajar, dan lain-lain. Tidak ada yang berubah, bahkan kehidupannya semakin ramai dengan semakin banyaknya teman. Namun, ia merasakan ada bagian di dalam hatinya yang hampa. Itulah yang dirasakan oleh semua perantau. Seramai apapun suasana, akan terasa sepi jika berada di perantauan.

Ada yang mendapat SK mutasi dan ditempatkan di lokasi yang justru lebih menjauh dari keluarganya. Ia mengatakan bahwa harga tiket pesawat dari rumahnya menuju lokasi tugasnya saat ini dua kali lipat harga tiket lokasi sebelumnya. Sedih, namun dengan optimis ia mengatakan bahwa SK mutasi ini adalah jawaban atas doanya agar diberikan “lokasi yang terbaik” untuknya. Ia meyakini bahwa yang terbaik untuknya belum tentu sama dengan yang diinginkannya. Sebagaimana yang tercantum di dalam al-Quran:
“…Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah ayat 216)
Terkadang jawaban doa tidak sesuai dengan keinginan. Doa yang ikhlas akan dijawab dengan hal-hal yang lebih baik daripada yang diinginkan. Itulah sebabnya salah seorang sahabat Nabi berkata:
Jika Allah mengabulkan do'aku maka aku bahagia, tapi jika Allah tidak mengabulkan do'aku maka aku lebih bahagia. Karena yang pertama adalah pilihanku, sedang yang kedua adalah pilihan Allah. (Ali bin Abi Thalib)
Meyakini bahwa pilihan Allah SWT selalu lebih baik daripada pilihan manusia akan mempercepat sembuhnya luka. Daripada tenggelam dalam kedukaan, lebih baik mencari hikmah dari skenario terbaik yang telah Allah SWT pilih.

Secara hakikat, semua manusia adalah perantau. Mereka pergi ke dunia untuk menjalankan tugasnya mencari jalan “pulang”. Mencari dan menemukan cinta sejati. Jika saatnya tiba, para perantau akan kembali kepada Maha Pencipta. Allah SWT berfirman:
"(Yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan Kepada Nya lah kami kembali). (QS. Al-Baqarah ayat 156)
Mereka yang di dunia berhasil mengenali Sang Maha Pencipta akan mencintaiNya. Setelah merantau di dunia, para pecinta Tuhan akan melampiaskan rindunya. Itulah sebabnya kenikmatan tertinggi di akhirat bukanlah surga, tetapi bertemu dengan Sang Maha Pencipta. Bagi penduduk surga, tidak ada kenikmatan di surga yang dapat mengalahkan kenikmatan bertemu Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda terkait ayat 35 pada surah Qof:
Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?” Maka mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?” Maka Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat Allah ‘azza wa jalla.” Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat tersebut di atas (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya). (HR. Muslim)
Bisa jadi SK mutasi adalah skenario untuk kembali kepada Nya. Bisa jadi SK mutasi adalah surat keputusan untuk lebih mengenalNya.

Wallahu a’lam bishshowab.

1 komentar

  1. La Haula wala quwwata Illa Billah betul ustadz kita hanya menjalani takdir Allah yg selalu terbaik buat umat manusia yg tunduk pada hukum Allah

    BalasHapus
Translate