Cinta adalah Ibadah Tertinggi

1 komentar
  

Saat proses pemberangkatan anak untuk melanjutkan pendidikan ke Turki, penulis masuk dalam grup WA yang dibuat untuk persiapan. Grup WA tersebut merupakan gabungan wali murid dari cabang-cabang pesantren Sulaimaniyah yang anaknya mendapatkan bea siswa dari Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang berpusat di Turki. Setiap hari grup diramaikan dengan pembahasan paspor, cek kesehatan, visa pelajar, surat keterangan kepolisian, dan lain-lain.

Usai pemberangkatan, grup WA berubah menjadi tempat mengobrol para wali murid. Obrolan yang didasari atas kerinduan karena buah hati berada di negeri orang. Salah satu cerita yang disampaikan wali murid adalah tentang anaknya yang mengirim pesan lewat HP menjelang terbang ke Turki untuk mengambil benda yang ia sembunyikan di rumah. Terletak di kolong tempat tidurnya.

Benda tersebut dilampiri surat dengan kata pembuka "Untuk seorang Ratu tak bermahkota, namun bertelapak kaki surga...". Rupanya ia membelikan ibunya alat pemijat karena selama ini ia yang memijat jika ibunya lelah. Di dalam suratnya ia meminta maaf karena selama berada di Turki, ia tidak akan bisa lagi memijat ibunya. Ia membelikan alat pemijat tersebut untuk menggantikan dirinya memijat ibunya.

Entah kenapa benda tersebut tidak diberikan langsung sebelum berangkat ke Turki. Mungkin sang anak tidak ingin membuat ibunya menangis dan merasa berat melepas dirinya. Atau mungkin sang anak tidak terbiasa beromantis ria dengan lisan sehingga ia tumpahkan perasaan cintanya dengan tulisan di surat sepanjang empat lembar tersebut.

Alat pemijat tersebut menjadi hadiah yang istimewa karena diberikan dengan dasar cinta. Mendapat hadiah dari doorprize atau undian memang memberikan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan yang dirasakan tidak akan dapat menyaingi kebahagiaan mendapat hadiah atas dasar cinta. Hadiah atas dasar cinta, meskipun remeh, akan mampu mengguncangkan jiwa. Lihatlah ekspresi seorang wanita yang mendapat sekuntum bunga dari seorang pria. Hanya sekuntum bunga, namun di balik bunga tersebut terlihat perasaan kasih yang besar.

Apalagi jika hadiah tersebut cukup mahal dan diperlukan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Ibu yang mendapatkan hadiah pemijat tentu tahu bahwa anaknya harus menabung untuk membelikannya. Itulah yang membuatnya menangis. Terbayang kecintaan anaknya kepada dirinya. Anak rela mengorbankan uang sakunya karena tidak tega ibunya lelah dan ia tidak mampu memijatnya.

Perbuatan yang disertai dengan rasa cinta akan dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan perbuatan yang dikerjakan atas dasar keinginan mendapatkan imbalan. Buruh dan majikan yang terikat perjanjian, ketika hubungan kerja sudah berakhir, akan saling melupakan. Bagi buruh, majikan memberinya upah karena ia mengharapkan mendapatkan pelayanan darinya. Bagi majikan, buruh bekerja melayaninya karena buruh mengharapkan imbalan upah. Tidak ada unsur perasaan di sana. Semua karena harapan adanya imbalan.

Berbeda dengan perbuatan yang didasarkan rasa cinta. Tidak ada harapan imbalan di dalamnya. Seorang anak tidak akan bisa melupakan jasa ibu karena ibu memberikan pelayanan tanpa mengharapkan imbalan dari anaknya.

Ketika anaknya sukses, ibu tidak meminta sepeser pun uang untuk pembayaran jasanya selama ini. Bahkan, saat anaknya telah memiliki keluarga sendiri, ibu masih terus memberikan apa yang ia miliki untuk membahagiakan anaknya. Jika dulu anaknya tempat mencurahkan kasih sayang, kini cucunya yang merupakan buah hati dari anaknya yang kini merasakan kasih sayangnya.

Pelayanan yang paling tinggi nilainya adalah pelayanan atas dasar cinta. Itulah sebabnya ibadah yang didasari rasa cinta akan lebih tinggi nilainya di hadapan Allah SWT dari pada ibadah yang disebabkan motif-motif yang lain. Sama-sama sholat dengan khusyuk, bisa berbeda nilainya jika motifnya berbeda. Ada yang sholat karena mengharapkan rezekinya lancar. Ada yang sholat karena terbiasa sejak kecil dan takut mendapatkan siksa neraka. Yang tertinggi adalah mereka yang sholat karena cinta kepada Allah SWT. Ia sholat karena mengharapkan ridho dan cintaNya.

Manusia dan jin diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutkan:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyaat ayat 56)
Ibadah yang tertinggi adalah cinta. Tanpa melakukan apapun, cinta sudah merupakan ibadah yang bernilai. Orang yang di dalam hatinya mencintai Allah SWT, meskipun ia tidak mengucapkannya, Allah SWT mengetahui dan memahami cintanya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah ayat 165)
Allah SWT mengetahui manusia-manusia yang mencintai makhluk, yang cintanya sama atau melebihi dari kecintaannya kepada Allah SWT. Allah SWT juga mengetahui siapa-siapa yang amat sangat cintanya kepada Allah SWT. Merekalah kekasih-kekasih Allah SWT yang sejati. Derajat mereka sangat tinggi sebagai wali-wali Allah SWT.

Manusia-manusia yang beramal kebaikan didasari karena mengharap imbalan dari Allah SWT adalah orang-orang sholeh. Mereka akan mendapatkan imbalan dari Allah SWT berupa kehidupan yang baik di dunia dan balasan surga di akhirat. Orang-orang sholeh ini tidak akan dapat mengejar derajat para wali-wali Allah SWT. Para wali-wali Allah SWT akan mendapatkan posisi yang tinggi di sisi Allah SWT karena mereka beramal disebabkan cinta kepada Allah SWT.

Kok bisa ada orang yang beramal tetapi tujuan utamanya bukan menginginkan surga dan takut neraka? Kok bisa beribadah karena mencintai Allah SWT? Itu bukanlah hal yang aneh bagi mereka yang dimabuk cinta. Tanyakanlah kepada para ibu, “Kok bisa Anda rela mengandung, menyusui, dan merawat anakmu tanpa mengharapkan imbalan?” Para ibu akan menjawab, “Bisa, aku mencintainya.”

Mencintai Allah SWT adalah hal yang harus dikejar agar bisa menjadi hamba yang sempurna. Tingkat keikhlasan akan ditentukan oleh tingkat cinta hamba kepada Allah SWT. Semakin cinta hamba kepada Allah SWT, maka semakin ikhlas amalnya. Ia tidak peduli apakah amalnya diketahui orang lain atau tidak. Ia beramal karena Allah SWT. Baginya, cukup Allah SWT yang tahu amalnya. Ia bahkan merasa malu kepada Allah SWT untuk memamerkan amalnya kepada makhluk. Ia takut Allah SWT cemburu ketika ia melakukan riya.

Cinta kepada Allah SWT akan dapat dirasakan jika hamba mengenal Allah SWT. Itulah sebabnya manusia diminta berusaha mengenali Tuhan sehingga sampai pada kesimpulan tidak ada lagi tandingan bagiNya. Perintah untuk mengetahui makna “Laa ilaha illallah” tercantum dalam ayat Al-Quran:
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad ayat 19)
Ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) adalah ilmu yang paling utama harus dipelajari. Ibadah yang dilakukan tanpa rasa cinta akan melelahkan. Ibadah dengan cinta menimbulkan kenikmatan.Itulah sebabnya ulama mengatakan bahwa “awaluddin ma’rifatullah” (awal dari beragama adalah mengenal Allah SWT lebih dahulu).

Wallahu a’lam bishshowab.
Lembar Nasihat
Blog ini bermula dari kumpulan tulisan buletin Jumat Mushola KPP Pratama Tenggarong. Buletin jumat diterbitkan untuk Karyawan Muslimin/Muslimah di KPP Pratama Tenggarong. Agar dapat dibaca oleh pembaca yang lebih luas, serta adanya revisi yang harus dilakukan, tulisan-tulisan tersebut ditampilkan kembali dalam blog.

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar