Suatu hari guru penulis mengatakan bahwa seiring bertambahnya pemahaman penulis, akan ada ujian hidup yang berat yang akan penulis hadapi. Itu adalah konsekuensi dari bertambahnya ilmu dan iman. Semakin tinggi maka ujian akan semakin berat.
Saat itu hati penulis menolak. Penulis tidak ingin mendapat ujian atau musibah. Namun, rumus yang disampaikan guru penulis tersebut memang merupakan kaidah yang tidak bisa dibantah dan berlaku umum.
Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kuat angin menerpanya. Semakin tinggi jenjang sekolah yang ditempuh, semakin sulit soal ujian yang harus dikerjakan. Semakin tinggi keimanan, maka semakin berat ujian.
Semakin Tinggi Keimanan, Semakin Berat Ujian
Sa’ad bin Abi Waqqash RA bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya? Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa. (HR. At-Tirmidzi)Lalu apakah seseorang tidak perlu belajar dan menaikkan level agar tidak mendapat ujian yang semakin berat? Tentu itu adalah pilihan yang tidak tepat. Seperti anak SMP yang menolak belajar tidak mau naik level menjadi SMA dengan alasan nanti soal yang dikerjakan akan semakin sulit.
Jika ia ingin terus bertahan di level SMP, ia akan kehilangan kesempatan mendapat ilmu-ilmu baru yang hanya diajarkan di SMU. Ia akan menutup kunci sukses jalan hidupnya.
Ia akan merasakan sakitnya kebodohan karena menghindari sakitnya belajar. Di saat teman-temannya telah mencapai kemakmuran, ia masih jauh tertinggal karena tidak mau bersusah payah menempuh ujian.
Perjalanan Menuju Puncak Membutuhkan Perjuangan
Setiap orang akan berjalan menuju cita-citanya. Di jalan mana pun yang ditempuh, tentu ada ujian yang harus dilewati untuk naik lebih tinggi.
Di jalan pendidikan ia harus melewati ujian untuk naik dari SD sampai sarjana. Di jalan rumah tangga ia harus melewati mencari jodoh, menikah, dan menjadi orang tua. Di jalan karir ia harus mencari pekerjaan, menorehkan prestasi, dan berjuang untuk mencapai puncak jabatan.
Jika di semua jalur perjalanan ada ujian yang harus dilewati untuk naik ke level yang lebih tinggi, tentu perjalanan menuju Allah (thoriqoh), juga akan melewati ujian-ujian. Mau perjalanannya saja tapi tidak mau ujiannya? Mana bisa?
Meskipun akan mengalami ujian, seorang salik yang sedang melakukan perjalanan menuju Allah SWT seharusnya tidak perlu merasa takut. Sebab, yang pertama kadar ujian akan setara dengan kemampuannya. Yang kedua, keyakinan bahwa ujian tersebut demi kebaikkannya.
Ustadz Apih Aden di dalam salah satu ceramahnya menjelaskan orang-orang yang belajar thoriqoh kemudian mendapat ujian. Seperti orang yang mengalami keseleo lalu pergi ke tukang pijat untuk dipijat.
Orang yang keseleo merasakan tubuhnya sakit akibat ototnya terkilir. Ia pergi ke tukang pijat meskipun ia tahu bahwa ia akan merasakan sakit yang luar biasa saat dipijat oleh tukang pijat.
Meskipun merasakan sakit, ia akan tetap bersabar dan tidak marah kepada tukang pijat karena berbaik sangka. Yakin bahwa pijatan yang diberikan adalah demi kebaikan orang yang keseleo. Ia tidak akan meminta tukang pijat berhenti meskipun ia sampai menjerit karena rasa sakit.
Begitu juga dengan ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang sedang menuju Allah SWT. Mereka tahu bahwa Allah SWT benar-benar menginginkan kebaikan untuknya.
Mereka bersabar dan tidak berhenti melakukan perjalanan. Mereka tahu bahwa sakit tersebut adalah penghapus dosa agar diri mereka betul-betul bersih sehingga bisa naik ke derajat yang lebih tinggi. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Ustadz Zainudin MZ (almarhum) berkata, "Bencana itu tiga macam. Kalau dia menimpa orang baik-baik, itu ujian. Kalau dia menimpa orang setengah baik, itu teguran. Kalau dia menimpa orang jahat, itu persekot (cicilan siksa neraka)"
Beliau memberi contoh orang yang tidak sujud, tidak bayar zakat, tidak baca Quran, dengan ulama jauh, dengan Habib jauh, bergelimang dosa, terkena bencana lalu berkata, "Saya sedang diuji nih." Beliau bertanya, "Lah, kagak sekolah ikut ulangan, mau naik kelas berapa?"
Orang yang jauh dari Allah SWT sangat rentan untuk berbuat dosa. Disebabkan karena tidak mau belajar dan berdzikir, ia akan melupakan Allah SWT sehingga lebih mudah diterkam setan.
Setan dengan mudah membakar nafsunya sehingga ia terombang-ambing di dalam dosa. Banyaknya kejahatan yang ia lakukan merupakan sebab turunnya adzab dan bencana.
Wallahu a’lam bishshowab
Di jalan pendidikan ia harus melewati ujian untuk naik dari SD sampai sarjana. Di jalan rumah tangga ia harus melewati mencari jodoh, menikah, dan menjadi orang tua. Di jalan karir ia harus mencari pekerjaan, menorehkan prestasi, dan berjuang untuk mencapai puncak jabatan.
Jika di semua jalur perjalanan ada ujian yang harus dilewati untuk naik ke level yang lebih tinggi, tentu perjalanan menuju Allah (thoriqoh), juga akan melewati ujian-ujian. Mau perjalanannya saja tapi tidak mau ujiannya? Mana bisa?
Meskipun akan mengalami ujian, seorang salik yang sedang melakukan perjalanan menuju Allah SWT seharusnya tidak perlu merasa takut. Sebab, yang pertama kadar ujian akan setara dengan kemampuannya. Yang kedua, keyakinan bahwa ujian tersebut demi kebaikkannya.
Ustadz Apih Aden di dalam salah satu ceramahnya menjelaskan orang-orang yang belajar thoriqoh kemudian mendapat ujian. Seperti orang yang mengalami keseleo lalu pergi ke tukang pijat untuk dipijat.
Orang yang keseleo merasakan tubuhnya sakit akibat ototnya terkilir. Ia pergi ke tukang pijat meskipun ia tahu bahwa ia akan merasakan sakit yang luar biasa saat dipijat oleh tukang pijat.
Meskipun merasakan sakit, ia akan tetap bersabar dan tidak marah kepada tukang pijat karena berbaik sangka. Yakin bahwa pijatan yang diberikan adalah demi kebaikan orang yang keseleo. Ia tidak akan meminta tukang pijat berhenti meskipun ia sampai menjerit karena rasa sakit.
Begitu juga dengan ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang sedang menuju Allah SWT. Mereka tahu bahwa Allah SWT benar-benar menginginkan kebaikan untuknya.
Mereka bersabar dan tidak berhenti melakukan perjalanan. Mereka tahu bahwa sakit tersebut adalah penghapus dosa agar diri mereka betul-betul bersih sehingga bisa naik ke derajat yang lebih tinggi. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba memiliki kedudukan di sisi Allah, yang tidak bisa dicapai hanya dengan amal ibadahnya. Maka Allah terus-menerus mengujinya dengan apa yang ia benci (bencana) sehingga Allah menyampaikannya ke derajat tersebut. (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani)Yang ketiga, saat seseorang tidak mendapat bencana yang berupa ujian, bisa jadi ia akan mendapat bencana berupa hukuman. Lalu bagaimana membedakan bencana yang merupakan ujian dengan bencana yang merupakan ujian?
Ustadz Zainudin MZ (almarhum) berkata, "Bencana itu tiga macam. Kalau dia menimpa orang baik-baik, itu ujian. Kalau dia menimpa orang setengah baik, itu teguran. Kalau dia menimpa orang jahat, itu persekot (cicilan siksa neraka)"
Beliau memberi contoh orang yang tidak sujud, tidak bayar zakat, tidak baca Quran, dengan ulama jauh, dengan Habib jauh, bergelimang dosa, terkena bencana lalu berkata, "Saya sedang diuji nih." Beliau bertanya, "Lah, kagak sekolah ikut ulangan, mau naik kelas berapa?"
Orang yang jauh dari Allah SWT sangat rentan untuk berbuat dosa. Disebabkan karena tidak mau belajar dan berdzikir, ia akan melupakan Allah SWT sehingga lebih mudah diterkam setan.
Setan dengan mudah membakar nafsunya sehingga ia terombang-ambing di dalam dosa. Banyaknya kejahatan yang ia lakukan merupakan sebab turunnya adzab dan bencana.
Menuju Allah SWT adalah Rute yang Harus Dituju
Jika menjadi orang baik berisiko mendapat bencana untuk membersihkan dosanya dan menjadi orang jahat berisiko mendapat bencana karena hukuman, tentu lebih baik menjadi orang baik. Kalau sama-sama sakit, mending pilih sakit yang naik level.Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus