Maya dan Heni mengikuti pelatihan di kantor pusat. Selain mengikuti pelatihan, pimpinan cabang menitipkan kepada mereka untuk menyampaikan kepada pimpinan pusat terkait permalahan di cabang mereka.
Sampai di kantor pusat, Heni mengajak Maya mendatangi sekretaris kantor untuk mendapatkan jadwal bertemu dengan pimpinan perusahaan. "Nggak usah." tolak Maya. Heni berkata, "Khan aturannya bilang ke sekretarisnya. Minta ijin ketemu Ibu Rini."
Maya mengeluarkan HPnya. Setelah beberapa saat ia berkata, "Rin, aku di ruang lobi kantormu." Terdengar jawaban, "Lho, Kamu di sini? Sebentar aku ke lobi." Ternyata Maya kawan akrab Rini semasa kuliah. Tanpa harus mengikuti aturan formal, tanpa appointment dahulu, Maya bisa bertemu dengan pimpinan perusahaan.
Keakraban akan membuat hal-hal yang kurang dalam aturan formal bisa dimaafkan. Dalam kondisi normal, aturan formal harus dipenuhi dengan ketat. Sedikit saja tidak terpenuhi, hal yang diajukan bisa ditolak.
Secara formal, Maya adalah karyawan yang harus ijin dulu untuk bertemu pimpinan perusahaan. Namun, Maya menggunakan kedekatannya untuk bertemu Rini.
Di dalam beribadah, ada orang-orang yang terlihat kaku dan saklek dalam ibadah. Ini menunjukkan ketidakdekatannya dengan Tuhan. Seharusnya hubungan hamba dengan Tuhan lebih mesra daripada suami dan istri. Seharus lebih indah daripada ibu dan anak.
Penulis pernah melihat seseorang yang bertakbir berkali-kali saat akan memulai sholat. Jika karena salah niat, misalnya baru ingat seharusnya sholat Isya bukan maghrib, tentu hanya sekali mengulanginya. Ini diulang sampai berkali-kali. Merasa kurang mantap takbirnya sehingga mengulanginya berkali-kali. Merasa Allah SWT tidak akan mau memaafkan takbirnya yang kurang sempurna.
Ada juga yang berwudhu berkali-kali sehingga boros air. Nabi bersabda:
Sesungguhnya bagi wudhu itu ada setan yang dinamakan Al-Walhan, maka takutilah kamu akan waswas air. (HR. Tirmidzi)Ada juga yang berlebih-lebihan dalam bacaan Al-Quran dan memandang sholat seseorang tidak akan diterima jika bacaan surah Al-Fatihahnya tidak sempurna. Tidak akan diterima jika salah pengucapan huruf. Padahal di dalam surah Al-Fatihah ada huruf dhod yang cukup sulit untuk dipraktekkan. Konon hanya sedikit orang yang bisa mengucapkan huruf dhod dengan benar.
Untuk mengetahui tingkat kesulitan huruf dhod, berikut keterangan Imam Sibawaih yang dikenal sebagai "Bapak Ilmu Nahwu" dan "Imam madzhab" bahasa Arab. Beliau mengatakan bahwa tempat keluar huruf dhod adalah mulai dari di antara pinggir lidah dan gigi geraham di sekitar lidah.
Beliau juga mengatakan bahwa dhad bersifat rikhwah alias tipis (huruf yang bisa diteruskan suaranya bila mau). Pusing? Itu bicara sifat rikhwah, belum bicara sifat-sifat huruf dhod lainnya seperti isti'la', ithbaq, ismat, dan istitholah.
Gus Baha pernah mengadakan perjalanan bersama beberapa santrinya. Mereka berhenti di suatu masjid untuk melaksanakan sholat. Ternyata imamnya sudah tua. Ia membaca ayat dengan susah payah.
Selesai sholat, ada santrinya yang menanyakan kepada Gus Baha apakah mereka perlu mengulangi sholatnya. Menurutnya, bacaan imamnya salah sehingga tidak diterima Allah SWT. Gus Baha mengatakan bahwa ia saja tidak tega kalau sholat imam tersebut tidak diterima, apalagi Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tentu Allah SWT bisa menerima dan memaafkannya.
Di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali diceritakan tentang musibah kekeringan di zaman Nabi Musa. Nabi bersama umatnya melaksanakan sholat memohon diturunkan hujan. Ternyata hujan tidak turun.
Allah SWT berfirman bahwa di dalam jamaah tersebut ada seseorang yang suka mengadu domba, sehingga doa mereka terhalang. Allah memerintahkan Nabi Musa mencari seseorang yang bernama Barkh. Seorang Wali Allah SWT yang tidak ikut dalam sholat tersebut.
Setelah berhasil bertemu dengan Barkh, Nabi Musa meminta ia berdoa. Nabi Musa terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Barkh, "Ya Allah, apakah hujan ini tidak turun karena maksiat hamba-Mu? Bukankah maksiat mereka tidak merugikan-Mu? Apakah Engkau kehabisan stok air di langit, ataukah angin sudah tidak mau lagi patuh membawa mendung karena Engkau sudah tidak lagi dermawan?"
Hujan turun dengan deras. Secara aturan syariat, mestinya permintaan mereka yang sholat istisqa (sholat minta hujan) lebih layak dikabulkan. Namun Barkh, meskipun tidak sholat istisqa bahkan dengan kata-kata yang "kurang layak", bisa mendapat hujan karena mengandalkan kedekatan dan kemesraannya dengan Allah SWT.
Penulis pernah mengikuti pelatihan ruqyah. Pelatihan pengobatan atas gangguan jin dengan bacaan ayat Al-Quran. Ada peserta yang menanyakan bagaimana jika bacaan Quran mereka masih belum benar. Trainer sambil menunjuk salah satu asistennya mengatakan bahwa asistennya bacaannya masih salah, tapi faktanya tetap manjur.
Fenomena dikabulkannya permintaan atau doa meskipun secara syariat belum sempurna bukan berarti meremehkan syariat. Bukan berarti belajar ilmu fikih tidak penting. Namun, fenomena tersebut menunjukkan ada unsur lain yang menentukan diterimanya suatu ibadah yaitu kedekatan dan kemesraan dengan Allah SWT.
Ibadah secara syariat bisa saja sah, karena terpenuhi secara formal bacaan dan gerakannya. Namun, ibadah tersebut belum tentu diterima (qobul). Contohnya sholat istisqo yang dilakukan umat Nabi Musa. Di sisi lain, ada ibadah yang secara syariat kurang sempurna, tetapi karena kedekatan dan kemesraan, ibadah tersebut diterima Allah SWT.
Ibadah yang ideal adalah ibadah yang "sah" dan "diterima". Sah karena sesuai syariat. Diterima karena kebersihan hati dan hubungan kemesraan. Itu sebabnya belajar syariat penting, belajar thoriqot juga penting. Belajar cara bacaan sholat penting, belajar cara khusuk sholat juga penting.
Secara bahasa, "syariat" dan "thoriqot" memiliki arti yang sama yaitu "jalan". Syariat dan thoriqot adalah jalan untuk menuju Allah SWT. Syariat adalah jalan lahiriah, sedangkan thoriqot adalah jalan batiniah. Syariat bisa dikatakan jalan formal, sedangkan thoriqot adalah jalan yang mengandalkan kedekatan dan kemesraan. Kedua-duanya harus ditempuh secara bersama-sama.
Ada yang berkata, "Yang penting ilmu syariat. Bereskan dulu ilmu syariat baru belajar thoriqot." Mau sampai kapan belajar syariat? Mau sampai kapan belajar mengucapkan huruf "dhod"? Tidakkah ingin merasakan kemesraan dan kedekatan karena sudah mengenal Allah SWT?
Wallahu a’lam bishshowab
Gus Baha pernah mengadakan perjalanan bersama beberapa santrinya. Mereka berhenti di suatu masjid untuk melaksanakan sholat. Ternyata imamnya sudah tua. Ia membaca ayat dengan susah payah.
Selesai sholat, ada santrinya yang menanyakan kepada Gus Baha apakah mereka perlu mengulangi sholatnya. Menurutnya, bacaan imamnya salah sehingga tidak diterima Allah SWT. Gus Baha mengatakan bahwa ia saja tidak tega kalau sholat imam tersebut tidak diterima, apalagi Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tentu Allah SWT bisa menerima dan memaafkannya.
Di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali diceritakan tentang musibah kekeringan di zaman Nabi Musa. Nabi bersama umatnya melaksanakan sholat memohon diturunkan hujan. Ternyata hujan tidak turun.
Allah SWT berfirman bahwa di dalam jamaah tersebut ada seseorang yang suka mengadu domba, sehingga doa mereka terhalang. Allah memerintahkan Nabi Musa mencari seseorang yang bernama Barkh. Seorang Wali Allah SWT yang tidak ikut dalam sholat tersebut.
Setelah berhasil bertemu dengan Barkh, Nabi Musa meminta ia berdoa. Nabi Musa terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Barkh, "Ya Allah, apakah hujan ini tidak turun karena maksiat hamba-Mu? Bukankah maksiat mereka tidak merugikan-Mu? Apakah Engkau kehabisan stok air di langit, ataukah angin sudah tidak mau lagi patuh membawa mendung karena Engkau sudah tidak lagi dermawan?"
Hujan turun dengan deras. Secara aturan syariat, mestinya permintaan mereka yang sholat istisqa (sholat minta hujan) lebih layak dikabulkan. Namun Barkh, meskipun tidak sholat istisqa bahkan dengan kata-kata yang "kurang layak", bisa mendapat hujan karena mengandalkan kedekatan dan kemesraannya dengan Allah SWT.
Penulis pernah mengikuti pelatihan ruqyah. Pelatihan pengobatan atas gangguan jin dengan bacaan ayat Al-Quran. Ada peserta yang menanyakan bagaimana jika bacaan Quran mereka masih belum benar. Trainer sambil menunjuk salah satu asistennya mengatakan bahwa asistennya bacaannya masih salah, tapi faktanya tetap manjur.
Fenomena dikabulkannya permintaan atau doa meskipun secara syariat belum sempurna bukan berarti meremehkan syariat. Bukan berarti belajar ilmu fikih tidak penting. Namun, fenomena tersebut menunjukkan ada unsur lain yang menentukan diterimanya suatu ibadah yaitu kedekatan dan kemesraan dengan Allah SWT.
Ibadah secara syariat bisa saja sah, karena terpenuhi secara formal bacaan dan gerakannya. Namun, ibadah tersebut belum tentu diterima (qobul). Contohnya sholat istisqo yang dilakukan umat Nabi Musa. Di sisi lain, ada ibadah yang secara syariat kurang sempurna, tetapi karena kedekatan dan kemesraan, ibadah tersebut diterima Allah SWT.
Ibadah yang ideal adalah ibadah yang "sah" dan "diterima". Sah karena sesuai syariat. Diterima karena kebersihan hati dan hubungan kemesraan. Itu sebabnya belajar syariat penting, belajar thoriqot juga penting. Belajar cara bacaan sholat penting, belajar cara khusuk sholat juga penting.
Secara bahasa, "syariat" dan "thoriqot" memiliki arti yang sama yaitu "jalan". Syariat dan thoriqot adalah jalan untuk menuju Allah SWT. Syariat adalah jalan lahiriah, sedangkan thoriqot adalah jalan batiniah. Syariat bisa dikatakan jalan formal, sedangkan thoriqot adalah jalan yang mengandalkan kedekatan dan kemesraan. Kedua-duanya harus ditempuh secara bersama-sama.
Ada yang berkata, "Yang penting ilmu syariat. Bereskan dulu ilmu syariat baru belajar thoriqot." Mau sampai kapan belajar syariat? Mau sampai kapan belajar mengucapkan huruf "dhod"? Tidakkah ingin merasakan kemesraan dan kedekatan karena sudah mengenal Allah SWT?
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar