Ada obrolan tentang perjalanan seseorang dari fase ke fase. Saat masih berada di bangku SMP, mereka berkata, "Enak kalau sudah SMA, bisa buat SIM dan naik motor sendiri. Pulang tidak perlu menunggu jemputan."
Saat sekolah di SMA, mereka berkata, "Enak kalau sudah mahasiswa. Nggak perlu pakai seragam dan bisa memilih pelajaran sesuai jurusan yang disukai." Yang tidak suka matematika bisa menghindari matematika dengan memilih jurusan sosial seperti psikologi dan hukum. Atau memilih ilmu-ilmu humaniora seperti sejarah, filsafat, yang tidak ada hitung-hitungannya.
Saat menjadi mahasiswa, mereka kembali berkata, "Enak kalau sudah kerja. Punya uang sendiri, nggak perlu minta ke orang tua." Tidak sabar menunggu kelulusan kuliah.
Saat sudah bekerja, bukannya menikmati kehidupan, mereka berkata, "Enak kalau sudah punya berkeluarga. Rasanya pingin cepat nikah." Hidup terasa lengkap dengan adanya keluarga.
Saat sudah memiliki anak dan istri, pusing dengan banyaknya tagihan, mereka berkata, "Ternyata enak jadi anak SMP. Tiap hari kerjaannya bermain. Nggak banyak pikiran. Kalau perlu uang tinggal minta orang tua." Lah, jadi yang enak di fase kehidupan yang mana?
Idealnya saat berada di bangku SMA, nikmati saja kondisi menjadi anak SMA. Toh ini adalah impian saat masih SMP yang sudah tercapai. Tidak perlu gelisah dengan menginginkan masa SMA cepat berlalu agar bisa menjadi mahasiswa.
Nikmati kondisi saat ini
Bahagia itu hari ini, bukan kemarin, besok atau lusa. Di saat belia, nikmati masa-masa indah yang ada. Di saat lanjut usia, nikmati kebersahajaan dan kebijaksanaan hidup yang dimiliki.
Manusia terkadang kehilangan fokus karena membayangkan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan atau terjebak nostalgia masa lalu. Padahal kondisi yang paling penting dalam kehidupan adalah kondisi yang sedang dijalani saat ini. Kondisi saat ini bisa diatur sesuai keinginan hati.
Masa lalu sudah terjadi, tidak bisa lagi diubah. Masa lalu cukup diambil sebagai pelajaran tanpa perlu berpanjang-panjang untuk diingat dan disesali. Kesalahan-kesalahan di masa lalu bisa diperbaiki di masa kini dengan memperbanyak istighfar.
Masa depan belum terjadi. Tidak perlu menghabiskan energi untuk membayangkan hal yang akan terjadi. Bisa jadi kecemasan atau keinginan yang dibayangkan ternyata tidak terjadi. Risiko-risiko di masa depan bisa dihindari di masa kini dengan melakukan yang terbaik di masa kini.
Menikmati kondisi saat ini adalah kunci ketenangan. Fokus dengan masa kini akan menghasilkan kinerja yang terbaik. Fokus dengan yang dilakukan saat ini adalah tips untuk menghadirkan hasil yang maksimal di fase berikutnya.
Menikmati Ibadah dengan Mengosongkan Pikiran
Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari. Memaksimalkan ibadah bisa dilakukan dengan tenang jika mampu fokus dengan ibadah yang sedang dikerjakan.
Pentingnya fokus dalam ibadah dan tidak terganggu dengan kegiatan lain tergambar dalam hadits berikut:
Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar). (HR. Muslim)
Guru penulis mengajarkan, saat berwudhu sebelum melakukan sholat, fokus dengan wudhu yang sedang dilakukan. Fokus mengharapkan agar dosa-dosa berguguran dari tangan, mata, telinga, mulut dan anggota wudhu lainnya. Selain membersihkan jasmani dari kotoran, wudhu juga membersihkan diri dari dosa agar bisa lebih khusyuk dalam sholat.
Fokus dalam sholat juga dijelaskan oleh Guru Sekumpul di dalam ceramahnya. Saat sholat jangan memikirkan pekerjaan atau masalah lain di luar sholat. Mengosongkan diri dari hal-hal selain sholat akan membuat sholat lebih fokus. Proses mengosongkan diri ini bisa dilakukan di awal sholat saat mengucapkan takbiratul ihram.
Bahkan lebih detil lagi Guru Sekumpul mengatakan bahwa saat sedang sholat, ketika berdiri jangan memikirkan rukuk. Ketika rukuk tidak usah memikirkan i'tidal, Ketika i'tidal tidak usah memikirkan sujud. Fokus dan nikmati apa yang sedang dijalani.
Seseorang yang memiliki beberapa kegiatan rutin harian terkadang kehilangan fokus. Contohnya orang yang terbiasa membaca Al-Quran dan melaksanakan wirid setiap hari. Jika tidak fokus, akan sulit menikmati keduanya.
Saat menjalankan wirid, pikirannya terganggu karena perasaan belum membaca Al-Quran. Atau saat membaca Al-Quran, pikirannya terbayang-bayang dengan wirid yang belum dilaksanakan.
Seharusnya saat menjalankan wirid, ia tidak usah memikirkan Al-Quran yang belum dibaca. Fokus saja menikmati wirid yang sedang dilaksanakan. Lebih detil lagi, saat wirid, fokus dengan dzikir yang sedang dijalankan.
Ketika melaksanakan wirid harian, saat membaca istighfar tidak usah terbayang dengan sholawat yang belum dilaksanakan. Saat sholawat tidak usah terpikir dengan tahlil yang menjadi agenda berikutnya. Nikmati saja dengan khusyuk apa yang ada.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus