Imam Ghozali di dalam kitab Mukasyafatul Qulub berkata, "Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Dia memperlihatkan aib dirinya sendiri." Diperlihatkan kelemahan-kelemahannya agar bisa menjadi lebih baik.
Memang ada orang yang tidak tahu aibnya? Banyak, itu sebabnya sering terdengar ucapan "Ngaca!".
Aib ada yang berupa fisik, ada yang berupa hati. Sebagaimana dosa ada yang berupa dosa fisik ada yang berupa dosa hati.
Melihat aib hati atau penyakit hati lebih sulit daripada penyakit fisik. Fisik yang bisa diraba saja ada bagian yang tidak terlihat dan membutuhkan alat untuk melihat, apalagi hati yang jelas-jelas tidak bisa dilihat.
Mengetahui aib diri adalah awal dari perbaikan. Seseorang biasanya tidak akan merubah sesuatu yang menurutnya sudah bagus. Buat apa dirubah, nanti malah jadi jelek.
Keinginan untuk merubah hanya muncul jika ia melihat hal-hal yang tidak bagus. Hal-hal yang menurutnya tidak pantas dan memalukan. Tanpa disuruh, ototomatis ia akan berusaha merubahnya.
Ada orang pemarah yang tidak sadar dirinya pemarah. Ada orang pendengki yang tidak tahu bahwa selama ini ia hidup dalam penuh kedengkian.
Misalnya, seseorang yang baru menyadari ternyata dirinya kurang bersyukur. Ia akan berusaha mengetahui penyebabnya dan mempelajari cara-cara untuk qona'ah. Itulah titik awal ia akan menjadi orang yang qona'ah dengan pemberian Allah SWT.
Pepatah berkata,"Fahmu sual, nisfu jawab (mengetahui soal adalah separuh kunci jawaban)." Bagaimana mengerjakan soal jika mengetahui maksud dari soal saja gagal? Maksud perintahnya saja tidak jelas, bagaimana cara mengerjakannya.
Oleh sebab itu, perbaikan diri selalu dimulai dengan mengetahui aib-aib diri. Kesadaran atas aib diri adalah separuh dari solusi perbaikannya.
Imam Ghozali memberikan beberapa cara untuk mengetahui aib diri. Meskipun secara hakikat mengetahui aib diri itu adalah pemberian Allah SWT, secara syariat itu adalah hal yang harus diusahakan.
Cara pertama yang harus dilakukan menurut Imam Ghozali adalah duduk di depan syaikh yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi penyakit hati. Menisbatkan diri sebagai murid dan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk menghilangkan aibnya.
Di dunia olahraga profesional, seorang olahragawan membutuhkan pelatih untuk menemukan kelemahannya. Pelatih yang hebat bisa melihat blind spot (titik buta) muridnya dan kemudian mengajarkan teknik menterapinya.
Sehebat-hebatnya seorang petinju ia tetap membutuhkan pelatih yang bisa mengoreksi gerakannya agar kecepatan pukulannya bertambah. Ia membutuhkan pelatih agar mentalnya berani. Ia memerlukan bimbingan agar instingnya di dalam ring tinju menjadi tajam.
Di bawah bimbingan tangan dingin Cus D'Amato, Mike Tyson menjadi mesin penghancur lawan-lawannya di arena tinju. Sulit menemukan titik lemah Mike Tyson karena blind spot-nya telah diberitahu oleh pelatihnya. Mike Tyson telah menutupi celah kelemahannya.
Menjadi pelatih bukan hanya harus mampu mencari titik terlemah. Ia juga harus mengetahui titik terkuat muridnya.
Nabi Muhammad SAW adalah syaikh yang melatih para sahabat. Beliau menegur Muadz bin Jabal yang senang membaca ayat yang terlalu panjang saat menjadi imam sholat. Bisa jadi Muadz tidak menyadarinya karena terlalu menikmati bacaan Quran.
Nabi Muhammad SAW mencegah Abas bin Abdul Muthalib menjadi pejabat. Beliau bisa melihat kelemahan Abbas dalam memegang amanah jabatan.
Nabi Muhammad SAW dengan assesment yang dilakukan mengetahui kekuatan Abdullah bin Abbas untuk menjadi ahli tafsir. Nabi Muhammad SAW yang melihat kemampuan bacaan Abdullah bin Mas'ud membimbingnya menjadi qori. Beliau adalah mursyid bagi para muridnya untuk mencapai puncak.
Bagaimana jika belum bertemu dengan syaikh untuk menemukan aib diri? Imam Ghozali memberikan tips kedua yaitu bersahabat dengan teman yang hatinya hidup dan kuat dalam beragama. Teman yang siap untuk menegurnya bukan sibuk menjilat mencari muka.
Tips kedua ini justru banyak dihindari oleh kebanyakan manusia. Manusia lebih suka bergaul dengan teman yang memuja-muji dirinya. Manusia tidak senang dengan orang yang memberinya peringatan akan aib-aibnya.
Ketika ada yang mengingatkan aib dirinya, jarinya segera menekan tombol blokir. Tidak mau lagi berteman karena dianggap tidak asyik.
Tips ketiga untuk menemukan aib diri menurut imam Ghozali adalah mendengarkan kritikan para musuh. Musuh, didasari kebenciannya, memiliki mata yang tajam dalam mencari aib seseorang.
Bisa jadi kritikan musuh sebenarnya hanyalah ekspresi rasa kebencian atau iri hati. Namun, kritikan tersebut layak untuk di interogasikan kepada diri. Apakah benar aib tersebut memang ada di dalam diri? Bisa jadi musuh jujur dengan ucapannya.
Tips keempat yang dianjurkan oleh Imam Ghozali untuk melihat aib diri adalah dengan bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat aib pada seseorang, ia harus mengintrospeksi apakah aib tersebut juga ada di dalam dirinya.
Nabi mengatakan bahwa mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain. Saat seseorang melihat saudaranya melakukan aib, sebagai cermin ia harus memberitahukannya. Di sisi lain, bagaikan melihat ke cermin, ia harus membersihkan dirinya.
Saat seseorang melihat ke cermin dan melihat ada kotoran di pipi orang yang di dalam cermin, maka ia akan membersihkan pipinya. Ia tahu bahwa orang di dalam cermin tersebut hakikatnya adalah dirinya sendiri.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus