UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Selesaikan Pemicunya, Tuntaskan sampai ke Akarnya.

   


Suatu hari penulis berbincang-bincang dengan seseorang. Ia mengeluhkan pelanggan yang membuatnya kesal. Ia bertanya tentang cara-cara menghadapi pelanggan yang menjengkelkan.

Setiap permasalahan akan mudah diselesaikan jika bisa dilokalisir tempat utama terjadinya masalah. Masalah utama adalah masalah terbesar yang memicu munculnya masalah-masalah kecil lainnya.

Sibuk menyelesaikan cabang masalah tapi lupa membereskan akar masalah akan membuat penyelesaiannya tidak akan tuntas. Bagaimana menghentikan tumbuhnya cabang jika akar terus mengirimkan zat nutrisi?

Dalam kasus kebakaran, meskipun asap berada di mana-mana dan menimbulkan kehebohan, petugas pemadam akan fokus mencari titik api. Sumber masalah utama ada di titik api bukan di asap.

Jika api bisa ditaklukkan, bisa dikatakan masalah akan terselesaikan. Asap yang menghitam akan berangsur-angsur hilang. Masalah sampingan akan reda setelah masalah utama sudah hilang.

Contoh lain adalah penyakit diabetes yang memicu penyakit-penyakit lainnya. Luka yang tidak sembuh-sembuh, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, disfungsi ereksi, infeksi kulit, dan beberapa penyakit lainnnya akan sulit disembuhkan jika diabetesnya tidak diselesaikan.

Diabetes membuat gula menjadi manis. Jika darah mengandung banyak gula, maka bagaimana luka akan sembuh? Meskipun berbagai macam obat luka telah diteteskan, luka tetap tidak mengering dan akhirnya membuat daging membusuk.

Bukan asapnya yang dihilangkan, tetapi apinya yang harus dipadamkan lebih dahulu. Bukan lukanya yang disembuhkan, tapi kandungan gula di dalam darah yang perlu dinormalkan.

Saat gula di dalam darah sudah berkurang, luka akan berangsur-angsur sembuh. Seperti asap yang akan hilang dengan sendirinya ketika api sudah padam.

Pengobatan dengan memandang manusia secara keseluruhan disebut dengan pengobatan holistik. Perasaan cemas, sedih, dengki, dan marah bisa memicu kerusakan satu organ tubuh. Kerusakan satu organ seperti ginjal atau liver bisa memicu penyakit-penyakit lainnya.

Pengobatan penyakit secara keseluruhan (holistik) menjadi gambaran cara penyelesaian masalah. Agar bisa lebih tuntas diselesaikan perlu diselesaikan secara holistik.

Kembali ke permasalahan customer yang menjengkelkan di awal tulisan. Unsur-unsur yang memicu perasaan menjengkelkan bisa bermacam-macam. Bisa dari pelanggannya. Bisa juga dari petugas yang memberi pelayanan.

Bisa dari karakter pelanggan yang memang suka cari gara-gara. Bisa dari petugas yang memang lalai yang memicu keluhan pelanggan. Bisa juga dari suasana hati yang tidak nyaman dari petugas. Keluhan yang wajar dari pelanggan dianggap usaha mencari gara-gara.

Pemicu rasa jengkel bisa dari internal petugas, bisa dari eksternal petugas. Biasanya faktor internal lebih berpengaruh daripada faktor eksternal. Artinya faktor internal lebih kuat efeknya dan lebih sering menjadi pemicu dan penyebab.

Di antara faktor internal yang bermacam-macam, maka kondisi hati adalah penyebab utama munculnya rasa jengkel. Jika hati lapang seluas samudra, tragedi-tragedi kecil tidak akan mengganggunya.

Jika hati dalam keadaan bahagia, hal-hal kecil bisa dimaafkan. Jika hati dalam keadaan cinta, kesalahan-kesalahan menjadi tidak berarti. Jika hati dalam keadaan berbaik sangka, selalu ada alasan untuk membenarkan perbuatan yang salah.

Kondisi hati yang bersih akan meredam munculnya perasaan jengkel. Hati yang bersih akan dipenuhi rasa syukur, bahagia, kasih, dan cinta yang membuatnya mudah memaafkan dan mudah berbaik sangka.

Hati yang bersih memberi efek mudah mencintai. Cinta adalah kunci dari mudahnya memberi maaf. Sebesar apapun kesalahan, cinta memberikan kunci untuk membuka pintu maaf.

Seperti cerita tentang seseorang yang sangat marah ketika mengetahui suatu perbuatan jahat. Ia menginginkan pelaku harus dihukum berat. Namun, ketika mengetahui bahwa pelakunya adalah keluarganya, hilang rasa marahnya. Rasa cinta akan memaafkan segalanya.

Hati yang bersih juga menjadi modal untuk berbaik sangka. Ia mengira kesalahan orang lain dilakukan karena tidak sengaja. Ia mengira mungkin ada faktor lain yang membuat ia terpaksa.

Buya Arrazy Hasyim mengatakan bahwa orang yang hatinya kotor akan mudah menuduh orang lain jahat. Ini disebabkan karena ia melihat orang lain seperti dirinya. Mudah berburuk sangka karena ia juga akan melakukan hal yang sama dengan yang ia tuduhkan.

Seorang pencuri akan mudah mencurigai seseorang sebagai pencuri. Ia berburuk sangka seseorang akan mencuri karena ia pun suka mencuri. Begitu juga dengan pezina. Ia mengira bahwa banyak masyarakat adalah pezina seperti dirinya.

Sebaliknya orang yang hatinya bersih, ia akan cenderung menganggap orang lain sama dengan dirinya. Ia memandang orang lain itu dermawan karena ia pun dermawan. Ia mengira orang lain rajin beribadah karena ia juga rajin beribadah.

Posisi hati yang penuh cinta dan selalu berbaik sangka membuat seseorang tidak mudah jengkel kepada seseorang. ia bahkan cenderung meminta maaf lebih dahulu ketika ada pelanggan yang terlihat kecewa. Cenderung menyalahkan diri sendiri dan membela orang lain.

Jadi, kalau ditanya bagaimana cara menghadapi pelanggan yang menjengkelkan, jawabannya banyak. Tapi cara yang paling efektif adalah membersihkan hati. Lokasi utama penyebab munculnya kejengkelan.

Hati adalah penyebab utama kebahagiaan atau kesedihan. Hati seperti titik api di dalam kebakaran.

Jika kondisi hati bersih maka kehidupannya akan terbakar dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jika kondisi hatinya kotor, kehidupannya akan terbakar dengan kesedihan dan kekecewaan.

Ketika pertanyaan menghadapi pelanggan yang menjengkelkan itu muncul, terlintas dalam pikiran penulis untuk mengajaknya mengikuti program pembersihan hati. Mungkin sudah saatnya ia berlatih untuk membersihkan hati. Mungkin ini waktu yang tepat mengajaknya mengambil sanad dzikir.

Wallahu a’lam bishshowab

Posting Komentar

Translate