UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Ingin Hidup Tenang, Keluarkan Dunia dari Hatimu



Jundi pulang ke Yogya naik kereta. Ia membawa oleh-oleh yang dibelinya di stasiun Surabaya. Setelah menaruh oleh-oleh di rak bagasi atas, ia duduk di dekat jendela sesuai nomor tiket. Setelah beberapa lama, datang Iwan membawa kotak. Iwanduduk di samping Jundi. Iwan memangku kotak yang ia bawa.

Melihat ukuran kotak cukup besar, Jundi berkata sambil menunjuk rak yang masih luang, "Raknya masih ada yang kosong, Mas." Iwan berkata, "Saya pangku aja. Nggak apa-apa"

Iwan mengatakan bahwa kotaknya berisi guci kuno milik leluhurnya. Ada yang menawarnya dengan harga tinggi di Yogya. Keluarga besarnya sepakat untuk menjual guci dan hasil penjualannya akan dibagi sebagai warisan.

Setelah kereta berjalan beberapa jam, sepertinya Iwan mulai penat memangku guci yang ia bawa. Kakinya kesemutan. Ia menaruhnya di rak. Kakinya nyaman namun hatinya menjadi gelisah.

Sepanjang perjalanan Iwan tidak dapat tidur. Berkali-kali ia melihat ke arah gucinya. Ia khawatir kalau guci yang ia bawa akan diambil orang jika ia tertidur. Atau ada penumpang yang naik membawa barang dan menggeser gucinya dengan kasar sehingga pecah.

Sebaliknya Jundi tidur dengan nyenyak. Barang miliknya yang berada di rak hanya oleh-oleh. Baginya, hilang pun tidak masalah karena harganya tidak mahal. Remuk pun tidak apa-apa karena masih bisa dimakan. No

Jundi melewati perjalanan dalam keadaan tenang. Ia merasa tidak membawa barang berharga sehingga tidak ada beban. Ia bisa menikmati perjalanan karena terbayang akan sampai di kampung halaman yang ia rindukan.

Bagi Iwan, perjalanan kali ini terasa begitu lama dan melelahkan. Perjalanan dilalui dengan kegelisahan dan kekhawatiran. Pikirannya terfokus pada barang berharga yang harus dijaga. Ia bahkan tidak sempat menikmati perjalanan karena terus memikirkan barangnya.

Dua Kelompok Manusia

Ilustrasi kisah fiktif Jundi dan Iwan di atas adalah gambaran dua kelompok manusia yang menjalani kehidupannya di dunia. Ada kelompok manusia yang hidupnya tenang. Ada kelompok manusia yang hidupnya gelisah bahkan cemas.

Kelompok pertama adalah kelompok manusia yang menganggap dunia dan isinya bukanlah barang berharga. Mereka lebih nyaman dan tenang dalam menjalani hidup. Ketika kehilangan harta, mereka biasa saja. Seperti contoh Jundi yang tidak merasa sedih jika kehilangan oleh-olehnya.

Mereka menjadikan dunia hanya tempat persinggahan sementara menuju kampung halaman. "Ah, dunia aja. Nggak apa-apa." Itu prinsip mereka.

Bagi mereka, hidup di dunia seperti duduk beristirahat sejenak di bawah pohon saat melakukan perjalanan. Ia merasa tidak akan tinggal lama di bawah pohon tersebut. Kelompok ini disebut dengan manusia-manusia zuhud.

Kelompok kedua adalah kelompok manusia yang menjalani kehidupan dunia dengan kegelisahan. Mereka merasa akan hidup di dunia selamanya. Dunia adalah hal yang sangat berharga. Lupa bahwa semuanya akan hilang saat sudah meninggalkan dunia.

Mereka sedih jika kehilangan harta. Mereka kecewa secara berlebihan jika kehilangan kesempatan mendapatkan harta atau jabatan. Berat buat mereka untuk berinfak dan bersedekah.

Mereka menghabiskan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mengejar dunia yang dianggap sangat berharga sehingga lupa menikmati kehidupan. Seperti contoh Iwan yang tidak bisa lagi menikmati perjalanan karena menjaga barang berharga. Mereka disebut kelompok manusia yang "hubud dunya (mencintai dunia)".

Cinta Dunia Belum Tentu Mendapat Dunia

Apakah para zuhud adalah kelompok orang-orang miskin dan para hubud dunya adalah kelompok orang-orang kaya? Tidak juga. Pembagian rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Ini bukan masalah sedikit atau banyaknya dunia yang dimiliki. Ini masalah anggapan terhadap dunia.

Ada yang menganggap dunia adalah segalanya. Ada yang menganggap dunia hanyalah bekal dalam perjalanan menuju akhirat.

Perbandingan Dunia dengan Akhirat

Nabi Muhammad SAW bersabda:
Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke laut, lalu hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jarinya tersebut (air yang menetes). (HR. Muslim)
Jumlah air yang menetes dari jari yang dicelupkan, tentu tidak sebanding dengan jumlah air yang ada di lautan. Kenikmatan dunia tidak sebanding dengan kenikmatan akhirat.

Kenikmatan dunia hanya sedikit dan waktunya pun singkat dibandingkan kenikmatan akhirat. Namun banyak yang hatinya gelisah dan menghabiskan energi untuk mengejar dunia.

Banyak yang lupa bahwa dunia hanya tempat persinggahan saja. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan). (HR. Al-Bukhari).
Rahasia dari para wali Allah yang tidak merasa takut dan sedih disebabkan karena hati mereka tidak terikat dunia. Itu sebabnya mereka bisa memiliki hati yang tenang sehingga lebih khusuk dalam mengingat Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus ayat 62)
Dunia tidak berada di dalam hati orang-orang zuhud. Dunia hanya berada di tangannya saja.

Bagi orang-orang hubud dunya, dunia adalah segalanya. Seperti seseorang yang sangat cinta sehingga rela diperbudak oleh yang dicintainya.

Ada doa agar tidak menjadi hubbud dunya. 
Allahumma laa taj'alid dunya akbara hamminaa wa laa mablagha 'ilminaa. Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas pengetahuan kami. (HR. Tirmidzi)
Derajat manusia lebih tinggi dari harta. Harta bertugas untuk melayani manusia. Namun, faktanya, ada manusia yang diperbudak harta.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate