Suatu hari istri penulis membicarakan anak yang sangat cepat menghafal Al-Quran di pesantren tempat anak penulis belajar. Ia memotivasi si bungsu untuk mengejar capaian temannya tersebut. Saat itu si bungsu belum menyelesaikan hafalan Qurannya.
Penulis ikut memotivasi, "Kok bisa Dek kamu kesalip? Khan duluan kamu masuk kelas tahfidznya?" Penulis kemudian mengingatkan konsep yang sering penulis sampaikan. "Ingat rumusnya. Orang bodoh kalah sama orang pintar, tapi orang pintar kalah sama orang rajin. Kalau kamu rajin, pasti bisa Dek.", ujar penulis.
Anak penulis berkilah, "Lah, dia itu lebih pintar dan lebih rajin." Bagaimana cara mengalahkannya? Temannya tersebut lebih cerdas dan bekerja lebih keras. Pantas aja ia bisa laju menyalip teman-temannya satu asrama.
Sebenarnya anak penulis lebih dahulu lulus di kelas tahsin (Hazırlık). Temannya gagal lulus ujian gelombang pertama dari kelas Hazırlık. Namun, temannya menjadi yang awal lulus dari kelas Hafızlık. Ia tidak menyerah dengan ketertinggalan dan memiliki mental kuat untuk menjadi yang terbaik.
Seseorang yang memiliki mental yang kuat biasanya memiliki daya tahan yang lebih hebat daripada kebanyakan orang. Ia tidak akan menyerah meski awalnya tertinggal. Pantang menyerah dan menjadi lemah.
Efek Kepahlawanan dalam Diri Seseorang
Di media sosial ada video yang bercerita tentang penelitian pengaruh persepsi diri terhadap tekad dan kemauan. Penelitian ini dikenal dengan fenomena "Batman effect".
Penelitian ini melibatkan beberapa anak yang diberikan tugas yang sama. Mereka dibagi dalam tiga kelompok dan diminta menyelesaikan permainan puzzle (menyusun kepingan menjadi bentuk tertentu). Mereka dimasukkan ke dalam tiga ruangan yang terpisah.
Puzzle tersebut tidak mungkin diselesaikan karena ada potongan-potongan yang bukan pasangan yang sebenarnya. Sekeras apapun usaha, bentuk yang ditugaskan tidak akan mungkin tersusun dengan potongan yang ada. Dari awal soalnya sudah salah, tentu tidak akan ditemukan jawaban yang benar.
Anak-anak yang ada di kelompok pertama disuruh menyelesaikan tugas tanpa pembekalan apapun. Dalam waktu singkat kelompok pertama ini menyerah. Mereka keluar ruangan paling cepat dibandingkan kelompok yang lain.
Anak-anak di kelompok kedua, sebelum mengerjakan tugas, mereka ditanya lebih dahulu siapa pahlawan super hero yang mereka kagumi. Di antaranya ada yang menyebut Batman. Mungkin ini sebabnya penelitiannya disebut dengan "Batman effect".
Setelah menyebutkan pahlawan idolanya, anak-anak tersebut diminta membayangkan bahwa diri mereka adalah pahlawan yang mereka kagumi. Yang suka dengan karakter Batman diminta membayangkan bahwa dirinya adalah Batman.
Hasilnya, meskipun juga menyerah, mereka mampu bertahan lebih lama dari kelompok pertama. Jika kelompok pertama sebentar saja sudah menyerah, kelompok kedua lebih lama dalam berusaha menyelesaikan tugas.
Tekad dan kemauan anak-anak di kelompok kedua lebih kuat dari kelompok pertama. Mereka termotivasi dengan pahlawan yang mereka idolakan. Mungkin dalam pikiran mereka, "Saya khan Batman. Nggak ada cerita Batman menyerah."
Anak-anak kelompok ketiga, selain diminta membayangkan diri mereka adalah super hero yang diidolakan, mereka juga diberikan kostum super hero tersebut. Yang mengidolakan Batman, dipakaikan kostum Batman sebelum mengerjakan tugas yang tidak mungkin diselesaikan.
Hasilnya, anak-anak kelompok tiga terbukti menjadi kelompok yang paling kuat bertahan sebelum menyerah. Mereka terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Meskipun akhirnya menyerah, mereka menjadi kelompok yang paling lama berusaha di antara tiga kelompok.
Salah satu kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian ini adalah tekad dan kemauan seseorang bisa diupgrade jika seseorang merasa dirinya manusia super. Seseorang yang merasa bahwa dirinya adalah super hero, tidak mudah menyerah. Ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan di atas rata-rata orang lain.
Semakin kuat seseorang membayangkan maka semakin yakin pula ia akan kekuatannya. Terbukti, meskipun diminta sama-sama membayangkan, anak-anak yang memakai kostum super hero lebih kuat perasaannya. Imajinasi bahwa mereka adalah super hero lebih kuat karena terbantu kostum yang dipakai.
Menceritakan Kepahlawanan akan Memperkuat Kemauan
Menceritakan pahlawan atau legenda kepada anak-anak adalah cara efektif untuk membangkitkan tekad yang kuat. Pahlawan adalah orang yang dikenal memiliki tekad yang kuat sehinggal menonjol dalam semangat dan pengorbanan.
Masalahnya, cerita tentang pahlawan terkadang berhenti sekedar menjadi pengetahuan saja. Akibatnya kesimpulan yang muncul adalah, "Oh, hebat ya. Tapi itu khan dulu. Tapi itukan mereka, bukan aku."
Cerita tentang pahlawan tidak dilanjutkan dengan penanaman bahwa semua bisa menjadi pahlawan. Pada dasarnya para pahlawan juga sama memiliki kelemahan tetapi mereka berjuang mengatasinya.
Ada pepatah Arab "Hum rijal wa nahnu rijal (mereka laki-laki dan kita juga laki-laki)". Maksud dari pepatah ini adalah sama-sama laki-laki kenapa merasa lebih rendah. Sama-sama manusia kenapa merasa tidak bisa bersaing?
Mengulangi Kejayaan adalah Hal yang Mungkin
Semakin bertambah zaman, semakin banyak rekor-rekor manusia terpecahkan. Ini menjadi bukti, semakin bertambah zaman, manusia akan semakin hebat. Rekor lari, rekor angkat berat, rekor renang, dan kekuatan fisik lainnya terus terpecahkan.
Demikian juga dengan ilmu pengetahuan. Ditemukan ilmu-ilmu yang dulu masih masih menjadi misteri. Rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia terus berkembang. Kemajuan komputer dan AI adalah rekor yang tidak dicapai oleh orang terdahulu. Hal yang dulu dicapai dalam waktu lama, sekarang bisa dilakukan lebih cepat.
Apa yang bisa dicapai para legenda di masa dahulu, semestinya bisa diulangi, bahkan dipecahkan rekornya dengan kemajuan zaman. Dulu untuk mendapatkan satu hadits perlu menempuh perjalanan yang panjang dan lama. Sekarang cukup klik, bisa didapatkan satu kitab hadits secara utuh.
Banyak orang pesimis bahwa kehebatan ulama-ulama zaman dahulu tidak akan terulang kembali? Padahal sarana dan prasarana lebih lengkap. Padahal Nabi Muhammad SAW telah mengabarkan kedahsyatan generasi di akhir zaman. Apakah ada yang salah?
Mungkin perlu meminta anak-anak untuk membayangkan para super hero. Mungkin perlu berkata kepada mereka, "Bayangkan, kau adalah Imam Syafi'i. Bayangkan, Kau adalah Imam Ghozali. Bayangkan, Kau adalah Muhammad Al Fatih.
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar