Di media sosial ada video yang membuat penulis dan istri tertawa. Ada seorang guru Taman Kanak-kanak (TK) yang mengajak bermain murid-muridnya di halaman sekolah. Ia menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan di TK. Lagu "Kalau kau suka hati" yang akrab di telinga anak TK. Lagu ini dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul "If You're Happy and You Know It".
Lagu ini biasanya dimodifikasi oleh guru TK untuk mengajak anak-anak bertepuk tangan, melompat, tertawa, atau berteriak "hore". Seperti komando, begitu lagu ini dinyanyikan, anak-anak TK yang sedang ribut menjadi fokus dan memperhatikan guru.
Saat itu guru TK memberi arahan dengan bernyanyi "Kalau kau suka hati, sebut Bapak." Tiba-tiba terdengar suara yang ramai, nyaring, dan lantang berteriak "Bapak!".
Tentu saja ini mengejutkan yang bernyanyi dan orang-orang yang ada di halaman TK. Bukan suara anak-anak TK yang menjawab komando guru, tapi suara gemuruh para remaja.
Rupanya di depan TK, serombongan siswa SMA yang sepertinya sedang melaksanakan program jalan santai melintas. Mereka merespon komando guru TK dengan semangat. Mereka mengenal lagu yang dinyanyikan. Kenangan indah masa-masa di TK membuat mereka tanpa dikomando kompak menjawab guru TK.
Kenangan indah adalah hal yang menyenangkan untuk diingat dan terlalu manis untuk dilupakan. Kenangan indah bisa memicu rasa rindu dan cinta yang telah terlupa.
Sepasang kekasih yang akan berpisah, bisa kembali saling mencintai saat mereka teringat kenangan indah di masa dahulu. Seorang pergi merantau, bisa ingin kembali ke kampung halaman saat memori indah memanggil. Rasa masakan yang sama dengan rasa masakan ibu bisa membuat seorang anak meneteskan air mata.
Sebenarnya setiap manusia pernah mengalami kenangan yang indah bersama Tuhan. Itu terjadi saat manusia masih berada di alam ruh. Bayangkan betapa mesranya kondisi saat itu. Saat yang dicipta (makhluk) bersama dengan Yang Mencipta (Khalik). Kemesraan ini diuraikan di dalam Al-Quran:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukanlah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini (QS. Al-A’raf ayat 172)
Manusia adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Di dalam kalimat istirja’ disebutkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)." Kalimat yang mengingatkan untuk bersiap bertemu kembali.
Kenangan indah bertemu Allah SWT ini akan terulang kembali saat manusia berada di surga. Kenikmatan tertinggi bagi penghuni surga bukanlah emas, hidangan, istana, bidadari atau pakaian yang indah. Kenikmatan tertinggi bagi penghuni surga adalah saat ia kembali berjumpa dengan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW menceritakan kenikmatan memandang wajah Allah SWT saat menjelaskan surah Yunus ayat 26.
Seorang ustadz di dalam ceramahnya memberikan gambaran kebahagiaan bertemu Tuhan dengan perumpamaan cerita seorang anak yang terpisah dengan orang tua kandungnya. Saat dipertemukan namun belum diperkenalkan tentu perasaannya biasa saja. Namun saat sudah mengetahui bahwa mereka adalah orang tua kandungnya rasa cinta dan rindu tersebut akan muncul otomatis di dalam hatinya.
Demikian juga dengan manusia yang lupa bahwa dia diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan. Ia merasa dibesarkan orang tuanya. Perasaannya terhadap Tuhan biasa-biasa saja. Saat tiba hari kiamat dan terbuka semua hakikat, di saat itu ia menyadari bahwa sebenarnya ia adalah makhluk yang diciptakan.
Hubungannya dengan Tuhan lebih dahsyat dari pada hubungan seorang anak dengan ibunya. Ia adalah makhluk yang diciptakan, dipelihara, dan diberikan semua kenikmatan oleh Tuhan. Meskipun ia dikandung dan di rawat oleh ibunya, pada hakikatnya Allah SWT yang membuat ia menjadi ada.
Rasa cinta dan kekaguman kepada Allah SWT di akhirat akan memuncak melebihi cinta kepada semua makhluk. Meskipun sebagian manusia di dunia sudah mengetahui tentang kebesaran dan keagungan Tuhan, namun kebesaran dan keagungan yang sesungguhnya baru diketahui dan dirasakan di akhirat.
Di akhirat, manusia akan melihat para malaikat yang perkasa, surga yang indah, dan neraka yang menyeramkan. Saat itu barulah terasa betapa agungnya Tuhan. Saat itu semua menjadi tidak berarti di hadapan Tuhan.
Meskipun pernah bertemu Allah SWT di alam ruh, manusia melupakan semua kenangan bersamaNya. Saat manusia dilahirkan di dunia, ia lupa pertemuan dan perjanjiannya dengan Allah SWT.
Manusia lupa asal usulnya dan tidak mengetahui tujuan hidupnya. Allah SWT dengan wahyu yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul mengingatkan manusia asal dirinya. Memberi tahu adanya saat-saat indah bersama Allah SWT.
Sebagian manusia percaya dan berusaha kembali kepada Allah SWT, sebagian lagi tidak. Mereka yang percaya berusaha menemukan "jalan pulang" untuk kembali merasakan kemesraan bersama Allah SWT.
Mereka yang percaya berusaha mengenal Allah SWT. Dalam perjalanan menuju Allah SWT, mereka menemukan adanya ketenangan di dalam hati saat mengingatNya. Meskipun belum berjumpa, mereka mulai merasakan rindu dan merasa tentram kepada Allah SWT.
Mereka yang memilih tidak percaya dengan adanya Tuhan tidak akan berusaha kembali "pulang". Mereka terancam tidak akan memasuki surga dan tidak dapat bertemu kembali dengan Tuhan.
Nabi di dalam salah satu hadits mengajarkan doa,
Aku meminta kepada-Mu (ya Allah), kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…” (HR An Nasa-i)
Wallahu a’lam bishshowab

.png)

Posting Komentar