Arman seorang pengusaha sukses. Ia membeli klub bola yang sedang naik daun. Klub tersebut baru saja promosi ke divisi yang lebih tinggi. Arman menggaji Andi sebagai pelatih. Andi dikenal sebagai pelatih yang bertangan dingin dan sukses mengantar beberapa klub menjadi juara divisi.
Meskipun dikenal sebagai penyusun strategi yang handal, ternyata Andi tidak bisa dengan bebas menentukan strategi timnya. Ia tidak bisa bebas memilih pemain dan menyusun pola permainan. Arman sebagai pemilik sering membatalkan strategi yang sudah disusun oleh Andi.
Sebenarnya, sebagai pelatih, Andi lebih mengetahui tipe para pemain. Dengan tipe pemain yang dimiliki, seharusnya mereka memakai formasi seimbang antara menyerang dan bertahan. Namun, Arman menginginkan tim bermain dengan formasi 3-3-4. Ia mau lebih banyak penyerang, padahal hanya sedikit pemain yang memiliki kapasitas sebagai striker.
Akibatnya sering diintervensi oleh Arman, tim tidak bisa menjalankan strategi permainan sebagaimana yang dikehendaki oleh pelatih. Klub sering mengalami kekalahan dan mengalami degradasi divisi.
Kisah fiktif di atas adalah ilustrasi tentang seseorang yang tidak benar-benar menyerahkan urusannya. Pemilik klub, meskipun mengetahui bahwa ia bukan pelatih, terkadang merasa lebih pintar dan tidak mau mengikuti strategi yang telah ditetapkan oleh pelatih. Secara de jure ia mewakilkan urusan kepada pelatih, tetapi secara de facto, ia tidak mau mengikutinya.
Merasa pintar dan lebih tahu juga menghalangi banyak manusia untuk mewakilkan urusannya kepada Tuhan. Tawakalnya tidak totalitas. Sering tidak puas dengan ketentuan dan ketetapan Tuhan. Tidak memasrahkan kehidupan dirinya untuk diurus oleh Tuhan.
Awal dari kepasrahan yang tidak totalitas ini disebabkan adanya rasa tidak percaya. Jika kepercayaan kuat, tentu pasrahnya bisa lebih kuat. Contohnya seseorang yang percaya kepada dokter. Ia akan pasrah jika dokter mengambil keputusan untuk menyuntik, mengoperasi atau mengamputasi.
Orang yang mampu bertawakal dengan baik adalah orang yang kuat imannya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal (QS. Al-Anfal ayat 2 )Tawakal artinya mewakilkan urusan. Tawakal kepada Allah SWT artinya menyerahkan urusan kepada Allah SWT karena meyakini tidak memiliki pengetahuan untuk mengatur urusan dirinya.
Tawakal kepada Allah SWT dapat diartikan melaksanakan aturan yang ditetapkan dan menyerahkan hasil akhir segala urusan kepada Allah SWT. Tawakal berarti meyakini bahwa perintah dan larangan Allah SWT adalah yang terbaik. Tawakal juga meyakini bahwa hasil akhir yang diberikan juga adalah yang terbaik.
Pelanggaran atas larangan adalah bukti ketidaktawakalan seseorang. Contohnya seseorang pencuri. Ia tidak yakin bahwa kebutuhannya akan tercukupi sehingga melakukan pencurian. Tidak yakin janji Allah SWT bahwa kebutuhan rezekinya akan dipenuhi.
Tidakkah ia melihat bahwa selama ini Allah SWT telah mengatur rezeki alam semesta? Buktinya, setiap makhluk hidup diberi alat dan kemampuan untuk mendapatkan rezeki mereka. Taruhlah sejumput gula, tidak perlu waktu lama, semut yang diberi Allah SWT penciuman tajam akan datang.
Lihatlah burung-burung pemakan daging seperti burung Elang dan Rajawali. Mereka diberi paruh yang melengkung dan tajam untuk merobek daging. Mereka juga diberi cakar yang tajam untuk mencengkeram mangsa. Bentuk yang tidak diberikan kepada burung pemakan biji-bijian.
Bahkan tanaman pun diberi kemampuan untuk mendapatkan rejekinya. Perhatikan ujung akar yang memiliki kemampuan hidrotropisme (menjalar ke arah tanah yang lembab agar mendapat air). Dari mana akar tersebut tahu bahwa tanah yang dituju mengandung air? Kenapa ia tidak menuju tanah yang kering?
Selain memberikan sarana untuk mencari rejeki, Allah SWT juga bisa mendatangkan rezeki di manapun makhlukNya berada. Meskipun berada di atas gunung yang tinggi atau berada di laut yang dalam, rezekinya akan sampai. Allah SWT berfirman:
Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Thalaq ayat 3)
Bukti lain tidak tawakal seseorang adalah keengganan melaksanakan perintah. Ini didasari kurangnya keyakinan bahwa perintah-perintah tersebut adalah resep terjitu untuk mendapatkan puncak kebahagiaan dan kesuksesan.
Enggan melaksanakan sholat, puasa, membaca Quran, dan lain-lain. Padahal melaksanakan perintah Tuhan adalah tanda bahwa seseorang memasrahkan diri untuk diatur oleh Tuhan.
Tingkat tawakal juga terlihat dari tingkat penerimaan terhadap kondisi yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Tidak yakin bahwa jalan hidup yang ditetapkan adalah jalan terbaik untuk mencapai ridho Allah SWT. Menyesali dan mempertanyakan kondisi dengan bertanya kenapa aku miskin, bodoh, sakit, dan terus membujang?
Di kalangan sufi ada keyakinan bahwa tidak ada ketentuan Allah SWT yang tidak baik. Semuanya baik, tergantung kaca mata yang memandang. Menjadi kaya itu baik, menjadi miskin juga baik. Pintar baik, bodoh pun baik. Sehat baik, sakit juga ada kebaikannya. Memiliki jodoh baik, belum memiliki pasangan pun adalah yang terbaik.
Bisa jadi miskin membuat seseorang rendah hati dan tidak sombong. Bisa jadi bodoh membuat seseorang tidak berhenti belajar sehingga mendapatkan pahala mencari ilmu. Bisa jadi sakit adalah kafarat sehingga terhapus dosa-dosa. Bisa jadi membujang adalah menghindarkannya mengalami kegaduhan karena belum siap berumah tangga.
Tapi khan ada orang yang kaya namun rendah hati, orang pintar yang semangat mencari ilmu, orang sehat yang rajin beribadah, dan orang yang memiliki keluarga bahagia? Tentu tidak semua orang memiliki kemampuan dan bakat yang sama. Di dalam klub bola, pelatihlah yang lebih tahu kemampuan pemainnya.
Pelatih lebih tahu siapa yang lebih layak menjadi kiper, defender, winger atau striker. Kalau mau jadi pemain yang hebat, ikutilah strategi pelatih. Kalau mau jadi mahkluk yang sukses, ikutilah skenario sang Khalik.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus