Ada peristiwa kecelakaan yang berujung kematian karena korban yang lebih parah tidak ditangani dengan lebih serius. Saat terjadi kecelakaan, salah satu korban terluka dan mengeluarkan darah, korban satunya terlihat tidak berdarah dan baik-baik saja.
Korban yang terlihat baik-baik saja bahkan berusaha menolong korban yang terluka. Setelah berada di rumah sakit, beberapa waktu kemudian yang terlihat tidak terluka justru meninggal dunia.
Rupanya korban yang terlihat tidak terluka ternyata kondisinya lebih parah. Ia mengalami luka dalam. Kecelakaan berupa benturan, meskipun dari luar tidak terlihat luka, bisa menyebabkan gegar otak, patah tulang, pendarahan organ tubuh dalam.
Benturan kecelakaan bisa membuat limpa, hati, paru-paru sobek sehingga memicu pendarahan hebat di dalam. Pembuluh-pembuluh darah di dalam tubuh pecah. Meskipun dari luar tidak berdarah, di dalam tubuhnya terjadi banjir darah. Tubuh luar tampak baik-baik saja, tapi di dalam luka berat.
Kadang-kadang bagian yang tidak terlihat bisa lebih besar dari yang terlihat. Kondisi ini sering diistilahkan dengan gunung es yang mengapung di laut. Gunung es di tengah laut terlihat kecil. Namun, jika dilihat dari dalam laut, ternyata gunung tersebut sangat besar. Bagian gunung yang tidak terlihat di dalam laut ternyata besarnya bahkan bisa sepuluh kali lipat dari bagian gunung yang terlihat.
Kondisi seperti gunung es juga ada dalam masalah pahala dan dosa. Perbuatan yang terlihat dari gerakan fisik biasa saja, ternyata di dalam hati sangat besar dan memberikan pahala yang luar biasa. Seperti mencintai Allah SWT. Bisa jadi tidak terlihat di luar, tapi cintanya sedalam lautan yang siap untuk berkorban saat diperlukan.
Demikian juga dengan dosa. Ada perbuatan fisik yang terlihat bukan merupakan dosa. Tapi jika dilihat dari dalam hatinya, ia sedang melakukan dosa besar.
Contohnya dosa syirik yang merupakan dosa terbesar. Tidak ada dosa-dosa besar yang bisa mengalahkan dosa syirik. Membunuh, berzina, mencuri, menipu, berjudi, dan meminum minuman keras tidak akan bisa menyaingi dosa syirik.
Allah SWT masih bisa mengampuni dosa-dosa besar seperti membunuh, tetapi untuk dosa syirik, Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh. (QS. An-Nisa ayat 48)
Jika ada seseorang yang sedang membunuh namun di dalam hatinya tidak ada kesyirikan dan ada orang yang sedang duduk di bawah pohon namun di dalam hatinya sedang menyembah sesuatu selain Allah SWT orang akan menyangka bahwa orang yang membunuh dosanya lebih besar. Padahal orang yang sedang duduk di bawah pohon dan sedang melakukan kesyirikan di dalam hatinya dosanya lebih besar.
Yang tidak terlihat di dalam hati bisa lebih dahsyat daripada yang terlihat pada jasmani. Seperti korban yang terlihat tidak terluka bisa lebih parah daripada yang terlihat terluka dan berdarah.
Ada yang terlihat rajin mengaji dan ada yang terlihat tidak mengaji. Ada yang terlihat rajin berinfak dan ada yang terlihat tidak pernah berinfak. Jika ditanya mana yang lebih mulia, jawabannya wallahu a'lam. Hanya Allah SWT yang lebih tahu.
Bisa jadi yang rajin mengaji, berinfak ternyata di dalam hatinya melakukan dosa besar yaitu sombong. Ia merasa hebat dan mulia karena rajin mengaji dan berinfak. Ia menganggap hina orang yang terlihat tidak pernah mengaji dan berinfak.
Memang mengaji dan berinfak yang ia lakukan memberikan pahala. Namun pahalanya bisa jadi tidak sebanding dengan dosa besar berupa kesombongan yang dilakukan. Nabi bersabda:
Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)
Perbuatan dosa yang dilakukan hati bisa lebih besar daripada dosa yang dilakukan jasmani. Masalahnya dosa hati ini tidak terlihat dan tidak disadari.
Saat orang mencuri, ia bisa merasakan dirinya terjatuh ke dalam dosa. Di dalam hatinya timbul rasa menyesal, takut, malu, dan rindu kepada Allah SWT. Bisa saja setelah mencuri ia segera berhenti, bertobat dan kembali kepada Allah SWT.
Saat seseorang melakukan kesombongan dan menganggap hina orang lain, bisa jadi ia tidak sadar dan terus melakukannya. Perasaan sombong bisa jadi tidak disadari. Dosa yang terus berlanjut dan bisa berlaku dalam waktu yang lama.
Perlunya waspada akan dosa-dosa yang dilakukan hati membuat seseorang harus mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah hati. Ilmu syariat harus dilengkapi dengan ilmu thoriqot dan hakikat.
Banyak orang yang merasa sudah "menang" melawan setan karena sudah rajin beribadah. Padahal setan sedang tertawa karena melihatnya terombang-ambing di dalam perasaan ujub dan sombong. Padahal setan sedang tersenyum karena melihat di dalam hatinya penuh dengan rasa kecewa dan tidak bersyukur dengan rejeki yang sudah ditetapkan.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Alloh Tabarakallah ustadz. Apa yang tidak terlihat justru bisa lebih penting dibandingkan yang zhahirnya
BalasHapus