UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Latih Perasaanmu, Tuhan Melihat Isi Hatimu.



Sebuah perusahaan ingin mempromosikan salah satu dari dua orang karyawan terbaiknya untuk memimpin cabang baru perusahaan. Mereka sama-sama hebat dalam bekerja. Sama dalam keuletan, kecerdasan, dan prestasi kerja. Keduanya juga bersikap baik dalam bertingkah laku.

Sebagai pemilik perusahaan, Hendro ingin mendapatkan kandidat yang terbaik. Hendro memasang alat perekam di ruang kerja mereka. Hendro ingin mendengar percakapan yang mereka lakukan untuk mengetahui lebih dalam.

Melalui rekaman diketahui, meskipun keduanya bertingkah laku sopan, ternyata keduanya memiliki perasaaan yang berbeda terhadap perusahaan. Yang satu merasa nyaman bekerja di perusahaan. Ia menghormati dan merasa pimpinan perusahaan sudah bersikap bijak. Baginya perusahaan sudah cukup perhatian dan peduli dengan kesejahteraan karyawan.

Yang satu lagi sering mengeluh dan menganggap perusahaan kurang menghargai karyawan. Ia mengeluh gaji terlalu rendah dan pekerjaan terlalu banyak. Ia sering berkoar-koar pingin pindah kerja.

Hendro memutuskan mempromosikan kandidat yang memiliki perasaan lebih hormat terhadap perusahaan. Meskipun prestasi dan kinerja sama, ia dianggap lebih tinggi nilainya karena perasaan yang ada di dalam hatinya. Sering membela perusahaan dan merasa dirinya adalah bagian dari perusahaan.

Perasaaan Menentukan Nilai Seseorang

Ilustrasi kisah di atas menjelaskan dua orang yang melakukan perbuatan yang sama, bisa memiliki nilai yang berbeda karena perasaan yang ada di dalam hati. Ilustrasi di atas bisa menjelaskan perkataan seorang ulama di kalangan tabi'in, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani, tentang keistimewaan Abu Bakar Ash-Shidiq:
"Abu Bakar tidaklah mendahului mereka (para sahabat yang lain) karena banyaknya shalat atau puasa, tetapi karena sesuatu (rahasia) yang tertanam kuat di dalam dadanya (hatinya)." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa umatnya yang paling penyayang terhadap sesamanya adalah Abu Bakar. Nabi juga mengatakan bahwa Abu Bakar memiliki iman yang sangat kuat. Entah perasaan apa lagi yang ada di dalam hati Abu Bakar yang membuatnya ia lebih unggul.

Pentingnya menjaga perasaan juga tersirat dari hadits Nabi Muhammad SAW berikut:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian." (HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan, selain amal, Allah SWT juga melihat hati seseorang. Nilai amal akan tergantung dari nilai hati dan perasaan pelakunya. Ada yang beramal karena ingin dipuji orang. Ada yang beramal karena ingin urusan dunianya lancar. Ada yang beramal karena ingin mendapat surga. Ada yang beramal karena perasaan cinta kepada Allah SWT.

Perbedaan dalam niat dan perasaan inilah yang akan membedakan pahala dari amal seseorang. Tidak heran nilai satu rakaat yang dilakukan oleh kekasih (wali) Allah, bisa ratusan atau bahkan ribuan kali dari nilai satu rakaat yang dikerjakan oleh orang biasa.

Banyak yang tidak Memperhatikan Kualitas Perasaannya

Banyak orang yang tidak terlalu memperhatikan pentingnya menjaga perasaan. Padahal hanya gara-gara perasaan, seseorang bisa mendapat dosa meskipun jasmaninya tidak melakukan apa-apa.

Karena perasaan hasad yang ada di dalam hati, pahala akan habis sebagaimana yang disampaikan dalam hadits tentang hasad. Karena perasaan sombong, seseorang dicatat melakukan dosa besar. Karena perasaan tidak bersyukur,seseorang terancam adzab yang pedih. Karena merasa ada kekuatan lain selain Allah (syirik), seseorang akan terhapus amal kebaikkannya.

Belajar melatih perasaan sama pentingnya dengan belajar fikih untuk mengetahui tata cara ibadah. Belajar merasakan adanya Allah SWT di dalam sholat sama pentingnya dengan belajar gerakan/bacaan sholat. Nabi bersabda:
"Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu." (HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan perlunya merasakan kehadiran Allah SWT untuk menimbulkan kekhusukan di saat beribadah. Itu sebabnya menjaga perasaan untuk selalu merasa diawasi Allah SWT adalah hal yang penting.

Perjalanan Seimbang Syariat dan Tarekat

Ada yang mengatakan selesaikan dulu pelajaran syariat (ibadah lahir). Belajar tarekat (ibadah batin) itu nanti saja. Yang penting gerakan dan bacaannya benar.

Kenapa tidak dilakukan secara bersama-sama? Bukankah Nabi selama tiga belas tahun, saat awal berdakwah di Mekkah, justru fokus mengajar sahabat untuk mengenal dan mencintai Allah SWT? bukankah ulama berkata, "Awwaludin ma'rifatullah (awal beragama adalah mengenal Allah SWT)?"

Memang memperkuat ilmu syariat agar tidak terpeleset dalam tipuan setan adalah hal yang penting. Namun, mau berapa lama rakaat-rakaat sholat terasa kosong dan hampa? Mau berapa lama hati kering dan malas beribadah karena tidak muncul perasaan cinta kepada Allah dan RasulNya?

Guru yang ideal tentu guru yang ahli dalam masalah syariat sekaligus ahli dalam masalah hati. Memahami fikih sekaligus memiliki kedekatan dengan Allah SWT.

Masalahnya, mencari guru yang memahami syariat sekaligus memiliki perasaan cinta yang kuat kepada Allah dan RasulNya bukan hal yang mudah. Meskipun di masa dahulu para ulama yang demikian sangat banyak. Mereka mengajarkan syariat sekaligus membersihkan hati.

Dalam perkembangan zaman, ada yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu syariat berupa fikih ibadah, bahasa Arab, ilmu Quran dan hadits namun tidak sempat menjalankan kurikulum untuk membersihkan hati dan mengenal Allah SWT. Guru-guru yang menjalankan program ini sekarang biasa disebut dengan ustadz.

Ada yang fokus membimbing muridnya untuk bertaubat, membersihkan penyakit hati, mengajarkan akhlak mulia, dan mencintai Allah dan Rasulnya. Mereka mengembleng muridnya dengan riyadhoh melawan nafsunya tapi tidak sempat mengajarkan fikih secara mendalam. Guru-guru yang biasa menjalankan program ini biasa disebut dengan Mursyid. Bekas-bekas sujud tampak di wajah mereka. Melihat wajahnya saja bisa menambah keimanan. Nabi bersabda:
"Yaitu orang-orang yang apabila dilihat, mereka mengingatkan kalian kepada Allah."(HR. Al-Bukhari)
Guru yang ideal tentu adalah yang mampu menjalankan program ustadz sekaligus mursyid. Mengajarkan ilmu syariat sekaligus menggembleng tarekat. Sebagaimana yang dilakukan Nabi di dalam ayat:
Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Jumu'ah ayat 2)
Selain menyucikan jiwa (yuzakkihim) Nabi juga mengajarkan Quran dan sunah (yu‘allimuhumul kitaba wal hikmah). Perasaan yang ada di dalam hati sama pentingnya dengan kesahihan ibadah yang dilakukan.

Allah SWT melihat hati sekaligus melihat amal perbuatan. Itu sebabnya melatih dan menjaga perasaan adalah kewajiban yang harus dilakukan.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate