Utari menggoreng ikan untuk makan siang. Sengaja ia melebihkan ikan yang digoreng untuk memberi makan beberapa kucing liar yang ada di blok tempat tinggalnya. Utari memang sering memberi makan kucing-kucing liar tersebut. Setelah masak, ia menaruh ikan di meja makan kemudian pergi mandi.
Keluar dari kamar mandi, Utari melihat sekelebat ada kucing berwarna hitam yang melompat dari meja dan kabur melalui jendela sambil menggondol satu ikan di mulutnya. "Hei!", bentak Utari dengan jengkel.
Selesai makan, Utari membawa sisa ikan ke depan rumahnya. "Teng, teng, teng", Utari mengetuk piring seng untuk memanggil kucing-kucing. Dari ujung blok, dua ekor kucing berwarna putih dan abu-abu berlari menghampiri Utari. Mereka sudah mengenal kode "ajakan makan" dari Utari
Berbeda dengan kucing hitam yang mencuri ikan, kucing putih dan abu-abu makan di dekat kaki Utari. Mereka tidak melarikan diri sambil membawa ikan yang diberi Utari. Bahkan kucing berwarna putih membiarkan dirinya dielus punggungnya oleh Utari.
Kucing hitam melarikan diri dan memakan ikan hasil curiannya di tempat yang jauh karena merasa bersalah. Ia tidak makan di atas meja makan karena takut mendapat hukuman dari pemilik ikan.
Perbuatan Dosa Membawa Kegelisahan
Dari ilustrasi fiksi di atas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan dosa atau salah dapat dirasakan oleh pelakunya. Kucing saja tahu kalau dia berbuat salah, apalagi manusia. Setiap perbuatan salah akan memberikan kegelisahan yang membuatnya bersembunyi karena tidak ingin diketahui.
Masalahnya, kenapa banyak manusia yang memilih tetap berbuat dosa? Padahal ia tahu bahwa itu adalah kesalahan.
Banyak manusia yang mengejar kenikmatan meskipun itu perbuatan dosa dengan alasan untuk "kebahagiaan". Padahal kenikmatan tidak sama dengan kebahagiaan. Mereka mengira kebahagiaan akan mereka dapatkan setelah menikmati hasil perbuatan dosanya. Padahal justru itu membuat mereka semakin jauh dari kebahagiaan.
Kenikmatan Sifatnya Sesaat.
Kenikmatan adalah hal yang dirasakan oleh panca indera yang ada pada jasmani atau tubuh manusia. Sesuatu yang dinikmati oleh mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Kenikmatan sifatnya sesaat dan tidak bertahan lama, sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang lebih dalam dan bertahan lebih lama.
Kenikmatan memakan daging panggang yang lezat misalnya. Kenikmatan ini akan bertahan selama daging tersebut masih berada di dalam mulut. Saat sudah ditelan, kenikmatan daging yang gurih tersebut sudah hilang.
Kenikmatan tidak sama dengan kebahagiaan. Jika daging panggang yang dimakan tersebut berasal dari hasil kejahatan, mungkin rasa nikmat akan muncul di mulut, tapi di sisi lain muncul kegelisahan. Ada rasa tidak bahagia disebabkan memakan barang hasil kejahatan.
Meskipun kenikmatan daging panggang sudah hilang setelah ditelan, rasa gelisah akibat memakan hasil kejahatan masih terus bertahan. Kegelisahan yang ditimbulkan bertahan lebih lama dan mengerogoti kebahagiaan.
Secara garis besar, manusia terbagi dari jasmani dan ruhani. Jasmani berasal dari tanah sedangkan ruhani berasal dari hembusan Tuhan. Karena berasal dari unsur yang berbeda, berbeda pula kebutuhannya.
Jasmani membutuhkan hal-hal yang berasal dari tanah/bumi seperti makanan, emas, rumah, wanita, jabatan, dan harta kekayaan dunia lainnya. Sedangkan ruhani yang berasal dari tiupan Tuhan kenikmatannya adalah beribadah, merasakan kehadiran Tuhan, dan perbuatan baik lainnya. Ruhani merasa tenang saat mengingat/memandang Tuhan.
Saat memakan makanan hasil kejahatan, jasmani akan merasakan kenikmatan, tetapi ruhani merasa kesakitan. Seandainya bisa mengeluarkan suara, sebenarnya ruhaninya sedang merintih kesakitan saat mulut menikmati hasil kejahatan.
Saat memakan makanan yang berasal dari barang yang halal, jasmani akan merasakan kenikmatan demikian juga dengan ruhani. Itu sebabnya makanan yang baik adalah makanan yang halalan dan thayyiban. Halal agar ruhaninya tidak menolak dan thoyib (kandungan gizi yang baik) agar jasmaninya tidak menderita.
Sebaliknya ada perbuatan-perbuatan yang secara jasmani mungkin akan melelahkan atau menyakitkan, tetapi secara ruhani memberikan kebahagiaan. Penulis pernah mendengar perkataan teman yang sedang menjalankan ibadah puasa, "Perutku lapar, tapi hatiku bahagia."
Saat menolong orang, seperti misalnya mendorong kendaraan yang mogok di tengah jalan, tubuh merasakan tidak enak. Lelah karena mendorong kendaraan ke tepi jalan. Tapi ada rasa bahagia yang mengalir. Ruh merasakan kenikmatan karena telah melakukan perbuatan yang diperintahkan Tuhan.
Kenikmatan yang Tidak Dirasakan oleh Orang yang Sakit
Tapi kenapa ada orang-orang yang tidak bisa merasakan kebahagiaan saat berbuat baik? Pertempuran antara ruh yang mengajak untuk tunduk kepada Tuhan dan jasmani yang mengajak untuk mengikuti hawa nafsu berlangsung di dalam hati. Itu sebabnya hati diberi nama kalbu (qolbu bahasa Arab yang artinya sesuatu yang mengalami bolak-balik). Ia bisa berubah kondisi tergantung hasil pertempuran.
Hati dikelompokkan menjadi tiga. Hati yang sehat (qolbun salim), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit). Hati yang bersih dan sehat akan bisa merasakan kebahagiaan saat melakukan kebaikan. Itu sebabnya, secara fitrah, anak kecil yang belum melakukan dosa akan menyukai kebaikan.
Semua anak akan tersenyum jika melihat kebaikan dan menangis jika melihat kejahatan. Coba saja pura-pura memukuli kucing di hadapan anak-anak. Mereka akan menangis dan berseru, "Jangan dipukul, kasihan!"
Allah SWT berfirman tentang orang-orang memilih mengikuti perintah Tuhan dari pada memuaskan hawa nafsu:
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)" (QS. An-Naziat ayat 40-41)
Hati yang kotor sehingga sulit merasakan indahnya kebaikan, perlu dibersihkan dengan istighfar dan bertobat. Hati juga perlu diberikan vitamin berupa zikir (mengingat Tuhan) untuk membuatnya kembali sehat.
Wallahu a’lam bishshowab.



Posting Komentar