UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Ingin Mencintai Tuhan? Ikuti Saja Polanya

  

Tedi dan Hardi memiliki pekerjaan yang sama sebagai ojek sepeda motor. Mereka sering bertemu di bawah pohon rindang di depan kantor pos saat menunggu penumpang. Biasanya mereka bekerja mulai sekitar jam enam pagi sampai sekitar jam satu siang.

Suatu hari Tedi berkata, "Aku pulang. Kamu nggak pulang Har?". Hardi menjawab, "Nanti, aku sekarang narik sampai jam empat. Sudah sebulan pulang jam empat. Ayo naik level Ted." Tedi menyahut, "Enggak ah, capek."

Selang beberapa beberapa bulan, Hardi tidak lagi terlihat di tempat biasa mangkal. Ia sudah memiliki mobil yang digunakan untuk usaha. Rupanya selama ini ia sengaja menambah jam kerja agar bisa menabung untuk membayar uang muka untuk membeli mobil.

Setelah memiliki mobil, profesi Hardi tidak berubah, mengantar penumpang. Bedanya, dengan kendaraan mobil yang sekarang ia miliki, penghasilan bersihnya menjadi empat kali lipat dari sebelumnya. Terkadang ia menyewakan mobilnya secara harian, namun lebih sering ia mengantar penumpang ke luar kota.

Meskipun penghasilannya sudah meningkat, Hardi tetap mempertahankan konsumsi hariannya. Selain untuk membayar angsuran mobil yang belum lunas, Hardi berkeinginan bisa dapat terus menabung untuk bisa menaikkan taraf kesejahteraannya lebih tinggi lagi. Ia ingin membeli bus.

Setelah melunasi mobilnya, Hardi mulai ancang-ancang mengumpulkan uang untuk membeli bus. Polanya sama seperti membeli mobil, menabung untuk membayar uang muka dan sisanya akan diangsur dengan menggunakan kelebihan pendapatan harian dari mengoperasikan bus.

Hardi tidak tergiur untuk mengkonsumsi secara maksimal tambahan penghasilannya. Memang konsumsi biaya hidupnya meningkat seiring dengan bertambahnya penghasilan. Namun, ia tetap berusaha menyisihkan uangnya sampai cita-citanya memiliki bus tercapai.

Menurut perhitungan Hardi, jika ia memiliki kendaraan bus, penghasilannya dalam sehari bisa tiga kali lipat dari penghasilannya saat ini dengan menggunakan kendaraan mobil. Penghasilan bersih itu pun sudah dikurangi gaji supir bus sehingga ia bisa istirahat di rumah tanpa harus membawa sendiri kendaraan yang ia miliki.

Suatu hari Hardi bertemu Tedi di jalan. Ia mengajak Tedi makan di restoran. "Bagaimana kabarnya?" Tanya Hardi. Tedi menjawab, "Yah, seperti biasa." Jawab Tedi sambil tertawa.

Sekarang Hardi sudah memiliki bus sehingga penghasilannya dalam sehari sekitar dua belas kali lipat dari penghasilan sehari Tedi yang masih menjadi ojek motor. Hardi juga tidak perlu repot mengendarainya karena sudah memiliki supir yang ia gaji untuk menjalankannya.

Meningkatkan Level Perlu Pengorbanan

Perbedaan Tedi dan Hardi di atas disebabkan karena Hardi mau mengorbankan waktu dan tenaga lebih banyak untuk menaikkan levelnya. Saat Hardi telah mengalami kenaikan level, dengan waktu dan tenaga yang lebih sedikit, ia bisa mendapatkan hasil lebih banyak dari pada orang-orang yang berada di level bawah.

Menaikkan level untuk hasil yang lebih banyak adalah pola yang berlaku di semua sektor. Karyawan, pedagang, nelayan, atlet, aktor, petani, dan lain-lain yang berhasil menaikkan level akan mendapatkan hasil yang berlipat. Karyawan yang menaikkan level menjadi direktur, penghasilannya akan meningkat. Begitu juga dengan nelayan yang semula hanya mengandalkan kail. Setelah menaikkan level dengan kapal dan jala, hasilnya akan berlipat ganda.

Pola yang sama juga terjadi bagi hamba-hamba Tuhan yang ingin menaikkan level menjadi kekasih Tuhan. Untuk meningkatkan diri menjadi hamba yang istimewa (Wali Allah) juga harus mengorbankan waktu dan tenaga tambahan untuk belajar dan beribadah. Polanya sama dengan ilustrasi fiksi sebagaimana cerita Hardi di atas.

Jika Hardi menambah jam kerjanya semula hanya sampai jam satu menjadi sampai jam empat sore, tentu hamba Allah yang ingin menaikkan levelnya juga harus menambah jam ibadah atau belajarnya. Harus mengurangi istirahat agar bisa digunakan untuk mendengar ceramah, mendatangi majelis dzikir, mengaji Al-Quran, tahajud, dan ibadah-ibadah lainnya. Jumlah jamnya harus lebih banyak dari pada orang-orang biasa.

Hindari Mengisi Ember yang Bocor

Saat penghasilannya bertambah, Hardi berusaha menahan diri untuk tidak menambah anggaran biaya hidupnya. Ia menghemat dengan menabung agar memiliki surplus untuk menaikkan levelnya. Demikian juga hamba-hamba Allah yang ingin meneikkan levelnya. Meskipun pahala dan ilmunya bertambah, mereka harus menahan diri dari menambah dosa agar memiliki keistimewaan di hadapan Allah SWT.

Saat Hardi telah menaikkan levelnya, satu hari penghasilannya setara dengan penghasilan Tedi selama berhari-hari. Demikian juga dengan para Wali Allah. Satu tasbih yang ia ucapkan, pahalanya bisa setara dengan ribuan tasbih yang didengungkan oleh hamba Allah biasa. Satu rakaat sholat wali Allah bisa setara dengan ribuan rakaat sholat orang biasa.

Hamba-hamba Allah SWT yang melakukan usaha menaikan level di dalam istilah sufi disebut dengan salik (orang yang menempuh jalan). Mereka rela mengurangi tidur, makan, dan bergaul agar bisa lebih fokus mengenal dan mencintai Allah SWT.

Secara umum mereka memiliki pola yang sama dan melalui jalan yang sama. Tapi, khan ada orang-orang yang tiba-tiba menjadi Wali Allah tanpa harus berlelah-lelah melalui perjalanan? Mereka yang ditarik oleh Allah SWT untuk mencintai dan mengenal diriNya tanpa proses bersusah-payah belajar dan mengamalkan wirid-wirid. Mereka yang mengalami jadzbah (tarikan) yang disebut dengan wali majdzub.

Iya, memang ada wali majdzub. Tapi berapa jumlahnya? Sangat langka dan sedikit sekali. Sama langkanya seperti orang yang kaya raya tanpa usaha karena beruntung. Lagi jalan-jalan tiba-tiba tersandung intan permata. Berapa perbandingan jumlahnya orang-orang yang kaya dengan cara demikian dengan jumlah orang yang kaya raya dari hasil usaha?

Ikuti Saja Polanya

Pola yang sama dalam proses kenaikan level tidak bisa dibantah. Secara statistik, mereka yang berhasil menaikkan level dengan usaha dan kerja keras lebih banyak dari pada mereka yang hanya diam dan mengharap datangnya Dewi Keberuntungan.

Mereka yang ingin menjadi kekasih Allah tetapi tidak ingin menempuh jalan yang telah dilalui para kekasih Allah bagaikan pungguk merindukan bulan. Ingin mencintai Allah SWT tetapi tidak mau repot menyebut namaNya dengan mesra. Ingin merasakan kehadiranNya namun malas bersujud kepadaNya. Ingin mengetahui kebijaksanaanNya namun segan membaca kitabNya. Sudah! Bangun dari mimpimu, ikuti saja polanya!

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate