Suatu hari penulis berkunjung ke rumah seseorang dengan membawa buah rambutan. Sampai di depan rumahnya, penulis melihat ternyata di samping rumahnya ada pohon buah rambutan yang sedang berbuah lebat.
Untung penulis juga membawa makanan lain yang bisa menjadi hadiah pengganti. Rambutan yang sudah terlanjur dibawa, penulis taruh di kendaraan.
Ternyata tuan rumah menghidangkan buah rambutan. Penulis senyum-senyum sendiri. Terbayang seandainya tidak membawa hadiah cadangan. Kan lucu, menghadiahi rambutan kepada tuan rumah yang punya buah rambutan lebih banyak.
Cadangan untuk Menjamin Kepastian
Hidup menjadi lebih mudah jika memiliki cadangan. Semakin banyak hal-hal yang dicadangkan, semakin terjamin kemudahan di dalam hidup.
Untuk hal kecil seperti garam, sabun, dan gula saja sebaiknya ada cadangan. Apalagi dalam urusan besar yang berkaitan dengan nyawa. Contohnya adalah cadangan listrik yang ada di rumah sakit. Rumah sakit wajib memiliki generator listrik cadangan (genset) untuk perawatan pasien di ruang ICU, IGD, dan ruang operasi.
Generator listrik cadangan di rumah sakit, memiliki standar yang ketat. Ia harus menyala otomatis (Automatic Transfer Switch) beberapa detik setelah listrik dari PLN padam. Betapa bahayanya jiwa orang-orang yang hidupnya ditunjang dengan mesin seperti ventilator atau alat pemompa jantung jika listrik padam.
Selain dalam bentuk cadangan, ada juga yang memakai sistem redundan. Dalam bentuk cadangan, saat mesin utama mati, barulah mesin cadangan dihidupkan. Dalam sistem redundan, kedua mesin dihidupkan secara bersama-sama. Saat satu mesin gagal berfungsi, maka proses tetap bisa bertahan meskipun terseok-seok.
Contohnya sistem redundan ini adalah ginjal manusia yang terdiri dari dua unit. Saat ginjal kiri diamputasi, maka ginjal kanan akan membesar agar bisa memenuhi kebutuhan tubuh dalam menyaring darah.
Sistem redundan ini juga dipakai dalam pesawat terbang. Pesawat dirancang memiliki dua sampai empat mesin yang bekerja bersamaan. Saat salah satu mesin mati, tidak masalah, pesawat dirancang tetap bisa terbang dengan mesin yang tersisa.
Sistem cadangan maupun sistem redundan, secara hakikat adalah sama. Intinya harus ada simpanan untuk menghadapi situasi tidak terduga. Tidak memiliki cadangan, apalagi dalam hal-hal yang penting adalah kecerobohan.
Cadangan Amal Kebaikan
Salah satu hal yang penting bagi manusia adalah diterimanya amal oleh Allah SWT. Bagaimana jika amal yang selama ini dibanggakan ternyata tidak diterima oleh Allah SWT? Apa jadinya jika tidak memiliki amal-amal yang bisa menjadi cadangan untuk modal selamat di pengadilan akhirat?
Ada hal-hal yang bisa membuat amal tidak diterima atau terhapusnya pahala. Salah satunya adalah riya. Beramal karena ingin mendapat pujian dari manusia.
Riya disebut syirik khofi karena sifatnya tersembunyi. Pelakunya tidak sadar bahwa ibadah yang ia lakukan ternyata tercampur dengan niat lain berupa pujian manusia. Kelak pelakunya akan terkejut ketika mengetahui bahwa amalnya tidak diterima. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil." Mereka (para sahabat) bertanya, "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu riya." (HR Ahmad)
Bahaya riya juga disebutkan di dalam Al-Quran:
Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir. (QS. Al-Baqarah ayat 264)
Banyak manusia yang tertipu setan. Setan memperdaya dengan menggodanya untuk memamerkan amalnya di media sosial. Bisa jadi tujuan semula memperlihatkan amal adalah untuk mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Lama-lama, setan merubah niatnya menjadi mengharap pujian. Keikhlasannya tergerus dengan banyaknya pujian dan komentar kekaguman.
Lalu bagaimana dong? Jika amal-amal disembunyikan, siapa yang akan memberi contoh yang baik? Siapa yang mengajak kepada kebaikan?
Menjadi teladan tetap harus dilakukan. Persaingan antara kebaikan dan kejahatan harus dimenangkan oleh kebaikan. Parade kebaikan harus mendominasi dunia. Namun, perlu cadangan-cadangan amal yang dijamin keikhlasannya karena Allah SWT. Perlu amal-amal yang disembunyikan yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT.
Bersedekah secara terbuka dan sembunyi-sembunyi tentu merepotkan. Jika memiliki dana yang banyak tentu tidak masalah karena sedekah yang dilakukan menjadi lebih banyak. Jika dana yang ada terbatas, cara termudahnya tentu dengan membagi sedekah menjadi beberapa bagian.
Bersedekah secara terbuka dan secara tertutup, masing-masing memiliki kelebihan masing-masing. Allah SWT berfirman:
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah ayat 271)
Menyembunyikan Amal untuk Melatih Jiwa
Menyembunyikan amal, selain menjadi cadangan amal yang terjaga pahalanya, juga berefek dalam melatih keikhlasan. Semakin banyak amal yang berhasil berhasil disembunyikan tanpa terlihat orang lain, semakin tumbuh keikhlasan di dalam hati.
Media sosial digunakan setan untuk merusak keikhlasan. Obat dari rusaknya keikhlasan adalah menyembunyikan amal kebaikan. Menyembunyikan amal adalah madrasah yang mengajarkan keikhlasan.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah Ustadz Doni
BalasHapusMasya Allah Tabarakallah Ustadz Doni
BalasHapus