Seseorang bercerita saat berkunjung ke rumah teman-temannya di hari raya Idul Fitri. Di rumah pertama ia mendapat tawaran untuk makan ketupat dengan lauk opor ayam. Rejeki nomplok, pas lapar, pas ketemu menu yang enak.
Di rumah berikutnya, ia mendapat tawaran makanan yang sama. Meskipun sudah makan di rumah yang pertama, ia kembali makan. Tentu tidak enak membuat tuan rumah kecewa. Toh makan ketupat plus opor ayam baginya adalah hal langka dan hanya muncul saat lebaran.
Saat berkunjung di rumah berikutnya, orang tua temannya tanpa menawari lebih dahulu, langsung menghidangkan piring yang berisi ketupat yang sudah dipotong-potong dengan kuah opor ayam. Tanpa ayam, hanya kuahnya dengan taburan serbuk kedelai yang menjadi lauknya.
Sepertinya ayamnya sudah habis, namun karena orang tua temannya mengira dia belum makan, mereka menghidangkannya. Ketupat yang merupakan menu yang lezat baginya berubah menjadi bencana. Perutnya sudah penuh dari kunjungan di rumah-rumah sebelumnya.
Tidak dimakan tentu mengecewakan keramahan yang sudah diberikan. Tidak mungkin menolak dan menghilangkan senyum gembira tuan rumah karena mendapat kunjungan. Apa lagi ketupat yang sudah terlanjur diberi kuah opor akan basi jika tidak dimakan.
Faktor Internal dan Faktor Eksternal
Makanan akan terasa sedap jika memenuhi syarat faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal tentu saja adalah kelezatan dari makanan tersebut. Faktor internalnya adalah kondisi tubuh.
Lapar akan membuat makanan terasa lezat. Kenyang akan membuat makanan yang nikmat menjadi biasa saja. Bahkan terlalu kenyang akan membuat makanan yang seharusnya sedap, terasa memuakkan. Membuat mual bahkan bisa muntah karena kekenyangan.
Demikian juga jika tubuh sakit. Makanan yang nikmat akan terasa hambar. Bahkan pasien harus disuapi agar mau makan.
Selain rasa makanan, rasa-rasa yang lain juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Semua perasaan akan memiliki pengaruh yang berbeda tergantung kondisi subyektif (faktor internal) atau obyektif (faktor eksternal).
Ada cerita seseorang yang sangat marah ketika mendengar peristiwa kejahatan. Ia merasa pelakunya harus dihukum berat. Namun, setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah anggota keluarganya, ia berubah sikap. Ia merasa pelakunya bisa dimaafkan. Faktor internal berupa ikatan keluarga membuat kejahatan tersebut terlihat lebih ringan.
Ada kasidah yang dinyanyikan Nasida Ria dengan lirik berikut:
Adikku melanggar hukum
Aku yang menjadi saksi
Paman penuntut umum
Ayah yang mengadili
Walau ibu gigih membela
Yang salah diputus salah.
Lagu tersebut menceritakan keadilan yang ditegakkan. Dengan kondisi kakak sebagai saksi kejahatan, paman sebagai jaksa penuntut umum, Ayah sebagai hakim, ibu sebagai pengacara (advokat), sebenarnya bisa saja terdakwa dibebaskan. Semua unsur hukum memiliki hubungan internal dengan terdakwa sehingga mudah untuk diatur. Faktor internal lebih mudah untuk diatur. Sedangkan faktor eksternal lebih sulit untuk dikondisikan.
Melakukan modifikasi atas faktor eksternal lebih sulit daripada faktor internal. Semakin eksternal, semakin sulit untuk dikendalikan. Mengelola masyarakat tentu lebih sulit daripada mengelola keluarga. Mengelola keluarga tentu lebih sulit daripada mengelola diri sendiri.
Menyelesaikan Masalah Internal Lebih Mudah
Ketika ada masalah, faktor eksternal dan internal harus diselesaikan. Namun, jika eksternal tidak bisa diubah, sudah sepatutnya yang diubah adalah internalnya. Masalah internal lebih mudah diselesaikan karena kontrolnya ada di diri sendiri.
Contohnya adalah masalah kemiskinan. Dari faktor eksternal diri seseorang, miskin disebabkan karena sedikitnya harta. Dari faktor internal diri, miskin disebabkan karena rasa tidak cukup yang ada di dalam hati.
Meskipun seseorang memiliki harta yang banyak, kalau hatinya merasa kurang, maka ia akan merasa miskin. Buktinya banyak orang kaya yang tidak mampu membayar zakat dan banyak orang miskin yang rajin berinfak.
Bisa saja terjadi di dalam satu rumah ada anggota keluarga yang merasa miskin tetapi ada anggota keluarga lain yang merasa kaya. Suami merasa hidupnya miskin, tetapi istrinya ternyata merasa kaya.
Ada yang mengatakan faktor internal efeknya lebih kuat daripada faktor eksternal. Contohnya pohon yang ditiup angin. Jika faktor internalnya kuat, pohon tersebut memiliki akar yang kuat dan batang yang kokoh, maka faktor eksternal berupa angin badai tidak akan bisa menumbangkannya.
Namun jika pohon tersebut faktor internalnya lemah, batangnya keropos dimakan rayap dan akarnya membusuk, angin sepoi-sepoi pun bisa membuatnya tumbang. Bahkan tanpa tiupan angin atau dorongan siapa pun pohon bisa tumbang sendiri.
Kembali kepada perasaan miskin tadi. Yang paling berpengaruh menimbulkan perasaan miskin adalah faktor internal berupa hati, bukan disebabkan sedikitnya harta. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati. (HR. Ibnu Majah)
Untuk menghilangkan kemiskinan tentu dengan memperbanyak harta. Saat harta tidak bisa bertambah, maka hatilah yang harus berubah. Merubah internal diri lebih mudah daripada merubah faktor eksternal.
Ada orang yang hidupnya susah karena terombang-ambing dengan masalah-masalah yang berasal dari eksternal. Ia putus asa karena tidak bisa menyelesaikan masalah eksternal. Seandainya ia mau fokus menyelesaikan internal dirinya, tentu masalah eksternal tersebut tidak lagi terlalu mengganggu.
Seandainya ia mau membersihkan hati dengan bertaubat dan berdzikir menyebut nama Allah SWT, maka hatinya akan sehat dan kuat. Setelah hatinya bersih, masalah yang tadi mengganggu tidak lagi terasa.
Setelah hati bersih seseorang akan berubah. Setelah menjadi penyayang, sikap tetangganya yang menjengkelkan tidak lagi terasa. Setelah menjadi orang yang bersyukur, hartanya yang sedikit terasa cukup. Setelah menjadi penyabar, sikap rewel anaknya terlihat biasa. Setelah rendah hati, jabatan yang rendah tidak membuatnya marah.
Wallahu a’lam bishshowab

.png)

Posting Komentar