Ada lirik lagu yang menceritakan seseorang yang rindu dengan kota tempat kekasihnya berasal. Kekasihnya telah tiada. Berikut lirik lagu yang dibawakan KLA Project:
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Lagu ini akan terasa berlebihan bagi yang belum pernah merasakan cinta yang mendalam. Mereka akan berkata, "Buat apa kembali ke sana? Khan kekasihnya sudah tidak ada?"
Mereka yang cintanya hanya biasa-biasa saja tentu juga heran dengan cerita Layla Majnun. Qois berkata, "Aku lewati rumah Layla. Aku ciumi tembok-tembok rumah Layla. Aku menciumi tembok bukan karena aku mencintai tembok. Namun aku mencintai orang yang berada di balik tembok itu.” Qois seperti orang gila (Majnun) karena sangat cinta kepada Layla.
Qois menyukai hal yang berhubungan dengan Layla. Jangankan melihat Layla, melihat rumahnya saja sudah membuat hatinya nyaman. Mendengar nama Layla sudah membuat dadanya berguncang.
Qois adalah pemuda yang terpandai di maktab tempat ia belajar. Saat Layla dikirim untuk belajar di maktab yang sama, Qois terpukau. Kecantikan Layla membuat Qois melupakan segalanya. Layla berubah menjadi hal yang paling penting di dalam hidupnya.
Cinta kepada Tuhan adalah Puncak dari Rasa Cinta
Konon kisah Layla Majnun, merupakan kisah sufi. Kisah perumpamaan orang yang sangat cinta kepada Tuhan. Seseorang yang melihat keindahan Tuhan lalu sudah tidak perduli lagi dengan segala sesuatu.Ketika Allah SWT telah menampakkan sifat Jalal dan Jamal kepada manusia yang telah dipilihNya, maka manusia itu akan terpesona. Ia tidak akan mampu menahan apa yang ada di dalam hatinya karena terlalu takjub. Maha Agung dan Maha Indah yang dirasakan akan membuatnya bertekuk lutut untuk menghamba.
Di dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56 disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah. Implementasi dari ibadah yang tertinggi adalah mencintai Allah SWT. Bukan sekedar taat karena ingin surga dan takut neraka. Mereka yang berhasil mencintai Allah (wali Allah) adalah hamba-hamba yang tertinggi tingkatnya.
Rute Menuju Cinta Allah
Mencintai sesuatu yang bisa diindera dengan panca indera tentu lebih mudah. Pepatah berkata, "Dari mata turun ke hati" yang artinya awal mula cinta berasal dari pandangan mata. Tetapi Allah SWT tidak bisa dilihat dengan panca indera. Bahkan dibayangkan saja tidak boleh.Lalu bagaimana caranya agar bisa mencintai Allah SWT dengan sesungguhnya? Tentu ada jalan yang harus ditempuh. Tidak mungkin Allah SWT menyuruh untuk menuju ke suatu tempat tanpa ada sama sekali rute yang bisa dilalui.
Memang ada yang tanpa melalui perjalanan bisa mendapatkan perasaan cinta Allah SWT. Mereka disebut dengan Wali Majdzub. Jumlah mereka sangat sedikit. Buya Yahya menjelaskan bahwa mereka tidak bisa dijadikan guru karena proses cintanya tidak melalui perjalanan.
Mereka sangat cinta kepada Allah SWT sampai tidak perduli lagi dengan manusia. Mirip seperti Qois yang dikira orang gila karena sudah tidak perduli lagi dengan segala sesuatu. Masalah timbul karena terkadang ada orang yang dikira wali majdzub padahal sifat cueknya kepada dunia disebabkan benar-benar gila. Bukan karena sangat cinta kepada Allah SWT.
Mayoritas wali Allah mendapatkan perasaan cinta kepada Allah setelah melalui proses perjalanan. Mereka melakukan prilaku suluk sehingga disebut dengan salik (orang yang melakukan perjalanan).
Buya Arrazy Hasyim menjelaskan rute untuk mendapatkan perasaan cinta kepada Allah SWT. Pintu gerbang untuk bisa merasakan cinta kepada Allah SWT adalah mencintai RasulNya. Mereka yang berhasil mencintai Nabi Muhammad SAW akan mudah merasakan cinta kepada Allah SWT.
Apa iya cinta kepada Nabi bisa menyebabkan cinta kepada Allah SWT? Lihat kisah di awal tulisan. Kisah seseorang yang menjadi rindu kota Jogja disebabkan cinta kepada kekasihnya. Kisah Qois yang menyukai rumah disebabkan di dalamnya ada Layla.
Banyak orang yang mempelajari hadits Nabi hanya untuk mengetahui tata cara hidupnya saja. Tujuan mereka mempelajari siroh nabi hanya ingin mengetahui cara ibadah saja. Mereka tidak berusaha mencintai Nabi Muhammad SAW.
Mungkin di dalam pandangan mereka, Nabi Muhammad SAW hanya seperti guru yang mengajar di sekolah. Setelah pelajaran difahami, selesai hubungan. Tidak perlu ada hubungan khusus berupa cinta. Padahal mencintai Allah dan RasulNya adalah kewajiban.
Di dalam surah At-Taubah ayat 24 Allah SWT mengancam orang-orang yang mencintai orangtua, anak, saudara, isteri, keluarga, harta, perniagaan, dan tempat tinggal melebihi cintanya kepada Allah dan RasulNya. Mereka tidak merasa wajib mencintai. Cukup beribadah dan lakukan perintah, selesai. Tinggal menunggu gaji berupa surga.
Rute Menuju Cinta kepada Nabi
Lalu bagaimana cara termudah mencintai Nabi Muhammad SAW? Caranya adalah mencintai orang-orang yang mencintai Nabi Muhammad SAW. Terutama para mursyid yang tersambung sanadnya dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah murid dari murid yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW.Nabi Muhammad SAW sangat mencintai dan selalu mendoakan murid-muridnya. Murid-muridnya pun sangat mencintai Nabi Muhammad SAW. Kecintaan yang kuat terhadap Nabi Muhammad SAW menjadi modal besar saat mereka mengangkat murid-murid. Sangat mudah mengajarkan cinta kepada Nabi bagi mereka yang sudah mencintai Nabi.
Sebaliknya sulit bagi seseorang untuk mengajarkan cinta kepada Nabi jika diri sendiri belum cinta. Seperti orang yang tidak bisa berenang tetapi menjadi guru renang. Seperti orang yang tidak pernah makan apel tetapi menceritakan rasa apel.
Jadi, pintu gerbang untuk bisa mencintai Allah SWT adalah mencintai Nabi. Pintu gerbang mencintai Nabi adalah mencintai para guru/syekh/mursyid yang mencintai Nabi Muhammad SAW.
Ribet dan panjang amat rutenya. Kenapa enggak langsung aja cinta kepada Allah. Memangnya bisa? Yakin terpilih jadi wali majdzub?
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus