UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Bukan Mata yang Buta, tapi Hati yang tertutup.



Jika ada seorang laki-laki yang buta sejak lahir, menikah dengan wanita tercantik di dunia, mungkin banyak laki-laki yang menyayangkannya. Orang yang buta tentu tidak bisa melihat kecantikan wajah seseorang. Bisa jadi ada yang berkomentar, "Kecantikan wajahnya sia-sia. Mending wanitanya nikah sama aku aja."

Bagi orang yang buta, wajah cantik dengan wajah yang biasa saja hampir tidak ada bedanya. Bagi orang buta kecantikan wajah semua wanita relatif sama. Sama seperti orang tuli yang menganggap kualitas suara semua sound system sama. Sama-sama tidak kedengaran sehingga tidak tahu perbedaannya.

Seseorang yang tidak mengetahui keistimewaan sesuatu akan meremehkannya. Ia menganggap biasa sesuatu yang sebenarny bernilai tinggi. Lebih parah lagi, ia menganggap yang sebenarnya baik dinilai jelek dan sebaliknya yang kualitasnya jelek dianggap baik.

Sodorkan Intan permata dengan nilai satu milyar dan satu mangkuk es krim kepada seorang anak balita. Ia akan memilih satu mangkuk es krim. Padahal kalau ia mengambil intan tersebut, ia akan memiliki kemampuan untuk membeli berpuluh-puluh mangkuk es krim. Bahkan, dengan uang satu milyar, ia bisa membeli pabrik es krim dan minum sepuas-puasnya.

Anak balita tidak mengetahui nilai dari intan permata. Ia mengira itu hanyalah sebongkah batu biasa yang tidak ada harganya. Intan permata menjadi tidak berguna di tangan anak balita.

Di dalam ceramah yang disampaikan oleh para da'i sering dikatakan bahwa nikmat terbesar bagi manusia adalah nikmat iman dan Islam. Meskipun seseorang berada pada kondisi yang paling rendah sekalipun, selama ia memiliki iman dan Islam, sesungguhnya ia lebih beruntung dari pada orang yang tidak mendapatkan iman dan Islam.

Saat mengalami kekalahan perang dari kafir Quraisy di bukit Uhud, kaum Muslimin sangat sedih. Allah SWT menghibur kaum Muslimin dengan mengingatkan nikmat berupa iman dalam ayat:
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran ayat 139)
Kekalahan dalam perang Uhud membuat kaum Muslimin banyak yang terluka dan terbunuh. Tujuh puluh orang kaum Muslimin meninggal di dalam perang Uhud. Namun, mereka tidak boleh terlalu lama bersedih karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan nikmat yang terbesar. Nikmat yang lebih besar daripada kesehatan, kekayaan, bahkan jiwa.

Masalahnya, kenapa ada orang yang mengaku beriman namun merasa biasa-biasa saja. Tidak merasa memiliki hal yang istimewa dan luar biasa. Merasa tidak wajib untuk bersyukur atas anugerah iman dan Islam.

Lebih aneh lagi ada yang mengaku memiliki iman dan Islam, namun merasa dirinya sial dan kurang beruntung. Merasa dirinya malang dengan alasan terbatasnya harta, jabatan, dan kenikmatan lainnya.

Allah SWT berfirman di dalam surah Al-Mu'minun, "Sungguh beruntung orang-orang beriman." Faktanya ada orang yang mengaku beriman tetapi merasa tidak beruntung.

Penyebab perasaan yang biasa-biasa saja terhadap karunia iman dan Islam bisa disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan. Tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang iman dan Islamnya.

Seperti anak yang tidak mengetahui nilai dari intan permata. Mengira sama saja dengan batu lainnya. Mengira beriman kepada Allah SWT yang merupakan Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Penyayang, Maha Agung sama dengan beriman kepada tuhan-tuhan lainnya.

Gus Baha dalam salah satu ceramahnya menyatakan kebanggaannya memiliki Tuhan yang sangat hebat. Tuhan yang tidak melahirkan atau dilahirkan. Tuhan yang tidak bergantung kepada sesuatu pun. Tuhan yang tidak ada yang serupa denganNya.

Tuhan yang Maha Tinggi dan tidak memiliki lawan yang setara atau yang lebih hebat. Tidak seperti cerita dewa-dewa yang saling berperang memperebutkan kekuasaan.

Nabi Yusuf saat berada di penjara, membanggakan dirinya karena memiliki Tuhan yang tidak ada sekutu bagiNya. Ia mengatakan bahwa banyak manusia yang tidak bersyukur terhadap iman. Iman adalah karunia Allah SWT yang dianggap biasa-biasa saja. Ucapan Nabi Yusuf diabadikan di dalam Al-Quran:
Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Yusuf ayat 38)
Nabi Yusuf mempertanyakan orang yang memiliki iman yang salah. Beriman kepada Tuhan yang bukan satu-satunya. Tuhan yang memiliki saingan dan sekutu dan bukan pengatur mutlak alam semesta. Nabi Yusuf berkata kepada kedua temannya di penjara:
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa? (QS. Yusuf ayat 39)
Kebahagiaan memiliki iman terhadap Tuhan Yang Maha Esa membuat Masyitoh rela digoreng hidup-hidup oleh Fir'aun. Asiyah, istri Firaun, tersadar setelah melihat keteguhan Masyitoh di dalam minyak yang mendidih. Asiyah pun beriman kepada Nabi Musa dan akhirnya meregang nyawa menyusul Masyitoh.

Ketidakmampuan untuk melihat anugerah berupa iman dan Islam bagaikan orang buta yang tidak mampu melihat kecantikan atau ketampanan wajah seseorang. Al-Quran menceritakan orang-orang yang matanya bisa melihat namun mendapat julukan buta. Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj ayat 46)
Jadi, apakah Anda merasa mendapat karunia dan sangat berbahagia dengan iman dan Islam Anda? Atau jangan-jangan Anda buta?

Wallahu a’lam bishshowab

Posting Komentar

Translate