UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Beriman Dulu sebelum Beribadah

  

Suatu hari Gus Baha bercerita tentang seseorang yang bertanya saat ada berita tentang seseorang yang mengaku Nabi. Ia bertanya, "Orang itu nyantrinya di pesantren mana ya?"

Semula Gus Baha berpikir bahwa ia bertanya tentang pesantren pengaku Nabi karena ingin menandai pesantren-pesantren yang bermasalah. Namun komentar berikutnya dari penanya membuat Gus Baha terkejut.

Si penanya berkata, "Kok pintar sekali ya, sampai bisa jadi Nabi." Rupanya penanya kagum dengan orang mengaku Nabi dan mengira ia adalah benar-benar Nabi.

Tentu saja Gus Baha merasa geli karena pemahaman penanya di luar prediksinya. Bisa-bisanya penanya tidak tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir yang diutus Tuhan. Bisa-bisanya penanya mengira bahwa mungkin saja ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Wajar saja Gus Baha terkejut. Informasi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir tertulis jelas di dalam Al-Quran. Pemahaman tentang Nabi adalah hal yang pokok yang termasuk dalam rukun iman yang wajib diketahui umat Islam.

Akidah Pelajaran Wajib setiap Orang

Faktanya, ternyata ada umat Islam yang belum selesai pelajarannya dalam hal-hal yang pokok. Penulis pernah melihat video di youtube yang meminta beberapa siswa menyebutkan tentang enam rukun iman.

Beberapa gagal menyebutkannya. Jika menyebutkannya saja gagal, jangan-jangan mereka juga tidak tahu pengertian dan konsep-konsepnya.

Pelajaran rukun iman adalah pelajaran yang pokok dan wajib diketahui oleh umat Islam. Satu saja rukun iman tidak diyakini maka statusnya keluar dari Islam. Contohnya, meskipun meyakini adanya Allah SWT, Malaikat, Kitab, Rasul, hari kiamat, namun, jika ia tidak meyakini adanya takdir, batal imannya.

Setiap orang tua wajib mengajarkan rukun iman yang merupakan pelajaran akidah yang tidak bisa ditawar. Pelajaran ini jauh lebih penting daripada pelajaran fikih ibadah.

Bisa jadi orang tuanya sudah merasa cukup ketika melihat anaknya sudah mengetahui gerakan dan bacaan sholat. Merasa aman ketika anaknya bisa membaca Al-Quran dengan benar. Padahal itu belum cukup.

Jika anaknya ternyata meyakini sesuatu yang membuatnya musyrik, maka hapuslah semua amal yang dilakukannya. Allah SWT berfirman:
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. (QS. Az Zumar ayat 65)
Salah dalam memahami ibadah hanya mengurangi pahala atau maksimal membatalkan ibadah saja. Efek terberatnya berupa dosa yang tidak mengeluarkan status seseorang sebagai hamba Allah. Salah dalam keimanan bisa berefek mengeluarkan seseorang dari Islam dan menjadi kafir.

Nabi Muhammad SAW menceritakan tentang orang-orang yang banyak ibadahnya. Namun secara hakikat mereka telah keluar dari Islam. Mereka disebut dengan istilah khawarij. Nabi bersabda:
Dari kelompok orang ini (orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An-Najdi), akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim)
Untuk menjamin keselamatan agama, orang tua harus meneliti keyakinan akidah anak-anaknya. Berbeda dengan sholat yang bisa dilihat pelaksanaannya, keyakinan harus digali dengan diskusi untuk menjamin bahwa mereka memiliki pemahaman yang benar.

Pemahaman akidah ini bukan hanya sekedar mampu menyebutkan rukun-rukun iman. Mereka juga harus yakin dengan uraian dari masing-masing rukun iman tersebut.

Contohnya rukun iman adanya Allah SWT. Harus meyakini sifat-sifatNya, asmaNya, perbuatanNya. Ketika seseorang meyakini adanya Allah SWT, tetapi ia mengira bahwa Allah SWT tidak adil, maka batal imannya.

Dalam kasus Khawarij di atas, mereka keluar dari Islam salah satunya karena merasa Nabi Muhammad SAW tidak adil. Mereka berani berkata, "Berlaku adillah Muhammad." Padahal Nabi Muhammad SAW sudah memutuskan berdasarkan perintah Allah SWT.

Kaum Khawarij merasa apa yang ada di dalam pikiran mereka lebih pas. Mereka berpendapat bahwa cara mereka lebih adil. Padahal logika manusia terbatas dan manusia tidak memiliki semua data secara menyeluruh.

Mempelajari Akidah dengan Kurikulum yang disusun Ulama

Jika sudah memahami pelajaran akidah adalah penting, lalu bagaimana caranya? "Kami ingin mengajarkan rukun iman dan uraiannya. Tapi mulai dari mana? Bukankah menceritakan Allah SWT itu tidak ada batasnya?" Pertanyaan ini mungkin akan muncul di kepala para orang tua yang ingin mengajarkan akidah kepada anak-anaknya.

Cara termudah untuk mengajarkan akidah kepada anak-anak adalah dengan mengikuti kurikulum yang telah disusun ulama. Titik-titik penting yang harus difahami diterangkan ulama untuk memahami garis besarnya.

Contohnya mengenal Allah SWT. Sifat Allah SWT tentu tidak terbatas. Namun, menurut ulama, minimal seseorang harus mengenal dua puluh sifat wajib Allah yang pokok yang memudahkan seseorang memiliki gambaran yang benar terhadap Allah SWT.

Sifat dua puluh yang disusun ulama tentu saja bukan berarti membatasi Allah SWT hanya memiliki dua puluh sifat saja. Tuduhan ulama memperkedil sifat Allah adalah tuduhan yang keji terhadap ulama. Ulama hanya menyusun rangkuman secara sistematis agar memudahkan saja.

Dengan minimal memahami sifat wajib dua puluh maka akidah anak akan terjaga. Anak akan memiliki adab yang benar terhadap Allah SWT. Tidak akan tersirat dalam pikiran anak keyakinan Allah memiliki anak, Allah tidak Maha Tahu jika telah mengenal sifat wajib dua puluh.

Akidah adalah Pintu Gerbang untuk Mencintai Tuhan

Pelajaran akidah akan menentukan kemampuan seseorang untuk menjadi hamba sejati. Bagaimana bisa mencintai Alllah SWT dan RasulNya jika tingkat pengenalannya masih rendah? Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW fokus mengajarkan akidah selama tiga belas tahun di Mekkah sebelum mengajarkan fikih ibadah di Madinah.

Wallahu a’lam bishshowab

1 komentar

Translate