UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Apakah Masih Perlu Menjalankan Syariat jika Sudah mengetahui Hakikat?

   

Ada anekdot tentang pasien yang akan dioperasi. Saat temannya berkunjung, pasien terlihat sangat cemas. Temannya bertanya, "Kenapa? Kamu takut?" Pasien mengatakan bahwa saat pengecekan persiapan operasi kemarin, susternya berkata, "Nggak apa-apa. Nggak usah takut, saya tahu ini pengalaman pertama kamu."

Temannya bertanya, "Sepertinya dia suster yang berpengalaman. Masalahnya di mana?" Pasien berkata, "Masalahnya suster tersebut bukan berkata kepadaku. Ia sedang berkata kepada dokter yang besok mengoperasi aku. Dokternya aja takut, apalagi aku."

Seseorang biasanya merasa lebih tenang jika ditangani oleh dokter yang senior. Itu sebabnya ada yang rela berobat ke luar negeri karena ingin mendapatkan dokter yang terbaik dalam bidangnya. Dokter yang masih yunior dianggap belum memiliki kemampuan diagnosa yang akurat.

Bukan hanya masalah kesehatan. Di semua bidang, ketika para ahli telah turun tangan, semua menjadi lega. Ketika para ahli mengambil alih komando, semua merasa tenang. Dengan tangan dinginnya, pasti sang ahli akan menyelesaikan masalah yang ada.

Masalah muncul jika "The Master" sudah tidak ada. Muncul kecemasan karena kuatnya kebergantungan. Padahal segala emosi berupa takut, gelisah, dan marah justru akan mengurangi kemampuan otak untuk berpikir dengan jernih. Rasa tidak percaya diri akan hancur.

Bahaya Bergantung kepada Manusia 

Di dalam pergerakan atau organisasi, kebergantungan pada satu atau dua orang bisa menghambat keberlangsungan suatu pergerakan. Banyak organisasi besar yang kemudian mati karena kehilangan tokoh utama. Saat Komandan sudah tidak ada, mereka seperti anak ayam kehilangan induknya. Tidak tahu harus berbuat apa.

Umar bin Khattab pernah mengalami dilema saat memiliki jendral yang sangat kuat. Ia memiliki panglima pasukan yang memiliki rekor tidak pernah kalah di dalam pertempuran yang bernama Khalid bin Walid.

Kedahsyatan Khalid bin Walid tergambar dari gelarnya yaitu "Saifullah". Gelar yang langsung diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Khalid bin Walid. Gelar ini diberikan setelah Khalid bin Walid dengan hanya tiga ribu pasukan melawan gabungan tentara Romawi dan sekutunya yang berjumlah dua ratus ribu orang di perang Mu'tah.

Bagi Umar bin Khattab sebagai khalifah, tentu memiliki panglima perang sehebat Khalid bin Walid adalah hal yang menguntungkan. Strategi Khalid bin Walid yang jitu sering membuat lawan-lawannya terkecoh. Dengan menjadikan Khalid bin Walid sebagai Jenderal, Umar bin Khattab cukup duduk dengan tenang di Madinah.

Di sisi lain, ada hal yang berbahaya yang timbul jika Khalid bin Walid terus menjadi panglima. Rekor tak terkalahkan Khalid bin Walid membuat pasukannya menggantungkan harapan kepada Khalid bin Walid. Mereka merasa yakin menang jika berada di bawah komando Khalid bin Walid.

Rasa percaya diri pasukan yang kuat karena di bawah komando Khalid bin Walid justru membuat Umar bin Khattab khawatir. Apa yang akan terjadi jika Khalid bin Walid terbunuh di medan perang? Bisa jadi mental pasukan akan hancur karena runtuhnya rasa percaya diri. Musuh dengan mudah membantai.

Yang lebih berbahaya lagi adalah kemenangan Khalid bin Walid yang berturut-turut akan menimbulkan keyakinan bahwa penentu kemenangan adalah Khalid bin Walid. Ini masalah akidah. Betapa berbahayanya jika pasukan melupakan bahwa penentu kemenangan adalah Allah SWT. Meyakini bahwa Khalid bin Walid juga menjadi unsur penentu kemenangan di samping Allah SWT.

Menjaga Akidah adalah Hal yang Utama

Umar bin Khattab mengambil keputusan memecat Khalid bin Walid dari jabatan panglima pasukan. Semula Khalid bin Walid protes karena merasa tidak melakukan kesalahan. Kinerjanya selama ini selalu di atas standar.

Setelah mengetahui alasan Umar bin Khattab, Khalid bin Walid menerima pemecatan dirinya. Ia tetap ikut berperang meskipun kini ia hanyalah prajurit biasa yang tidak memegang tongkat komando.

Bagaimanapun, akidah pasukan lebih penting daripada kemenangan yang diraih. Tidak boleh ada keyakinan di dalam diri pasukan bahwa penentu kemenangan adalah Khalid bin Walid. Penentu kemenangan adalah Allah SWT. Pasukan harus bergantung kepada Allah SWT, bukan kepada Khalid bin Walid.

Umar bin Khattab berencana akan melantik kembali Khalid bin Walid setelah pasukan memiliki keyakinan bahwa penentu kemenangan bukan Khalid bin Walid. Setelah sekitar empat tahun berjalan sejak pemecatan, Umar berniat mengangkat Khalid bin Walid kembali menjadi panglima pasukan.

Rencana Umar bin Khattab gagal. Khalid bin Walid mengalami sakit dan meninggal di atas tempat tidur. Umar bin Khattab sangat sedih karena ia sangat menghormati Khalid bin Walid.

Syariat Harus tetap Dilaksanakan

Sejarah kehidupan Khalid bin Walid menunjukkan betapa pentingnya akidah umat. Tidak boleh ada sedikitpun syirik muncul di dalam hati. Meskipun secara syariat manusia disuruh menggunakan hukum sebab akibat, namun yang harus ada di dalam hati adalah keyakinan bahwa keberhasilan seratus persen ditentukan oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW menyuruh umatnya untuk meminum obat saat sakit. Namun keyakinan yang harus ada di dalam hati adalah sehebat apapun obat, ia tidak akan bisa menyembuhkan tanpa seijin Allah SWT. Manusia harus tetap menggantungkan harapannya kepada Allah SWT.

Tidak boleh ada keyakinan bahwa selain Allah SWT, obat juga menjadi penentu kesembuhan. Tidak boleh meyakini bahwa kesembuhan disebabkan sembilan puluh sembilan persen karena Allah SWT dan satu persen karena obat. Itu adalah perbuatan syirik yang menyekutukan Allah SWT dengan obat.

Kalau gitu tidak usah makan obat saja, khan penentu kesembuhan adalah Allah SWT? Meminum obat adalah perintah dari Nabi Muhammad SAW yang berarti adalah perintah Allah SWT. Manusia tidak boleh melanggar syariat meskipun sudah faham hakikat. Melanggar syariat berarti melanggar perintah Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate