Memiliki tujuh anak membuat penulis harus bersikap akomodatif dan fleksibel. Setiap anak memiliki karakter dan kesukaan yang berbeda-beda yang harus diakomodir.
Contohnya dalam masalah makanan. Ada anak penulis yang suka jenis makanan berkuah. Sayur lodeh, sayur asem, soto, rawon, dan sop adalah makanan yang istimewa baginya. Namun, makanan tanpa kuah seperti tumis, pecel, lalapan, dan botok kurang disukainya.
Sebaliknya ada anak penulis yang justru suka makanan tanpa kuah. Ia menyukai makanan yang bisa disantap menggunakan jari-jari tanpa memerlukan sendok. Akibatnya menu di rumah kami harus disusun secara seimbang.
Namun, ada anak penulis yang menyukai semua jenis makanan. Mau yang berkuah ataupun yang tidak berkuah tidak masalah. Kelihatannya baginya hanya ada tiga kelompok makanan. Kelompok enak, enak sekali, dan enak banget. Tidak ada makanan yang tidak enak.
Memiliki selera yang baik terhadap semua jenis makanan tentu menguntungkan baginya. Apapun menu hari itu, ia tetap merasa nyaman. Tidak ada makanan yang bisa mengganggu suasana hatinya. Mirip lirik lagu "Di sini senang di sana senang. Di mana-mana hatiku senang"
Anak penulis yang menyukai semua jenis makanan berhasil menemukan sensasi kenikmatan pada setiap makanan. Ia mengetahui sisi kenikmatan makanan yang berkuah, ia juga mengerti istimewanya makanan tanpa kuah. Itu sebabnya ia bisa menikmati semuanya.
Zona Bahagia yang Luas
Di dalam kehidupan, ada orang-orang yang mudah sekali bahagia. Ini disebabkan banyak hal-hal yang bisa membuat mereka bahagia. Mereka bisa melihat keindahan dalam semua peristiwa. Sebentar-sebentar senang, sebentar-sebentar gembira.
Penulis pernah melihat seseorang yang terpeleset dan jatuh. Anehnya, bukannya cemberut, ia malah tertawa. Mungkin ia melihat hal yang lucu terkait kecerobohannya. Bisa memandang indah hal yang seharusnya musibah.
Ada juga manusia yang lebih banyak mengeluh dari pada tertawa. Unsur-unsur yang membuat ia bahagia sangat terbatas. Istilah Gus Baha "Angel tenan syarat bahagiamu".
Salah satu penyebab sulit bahagia disebabkan pandangan yang terbatas. Contohnya sudut pandang tentang rejeki. Ada yang berpandangan sempit, ada yang memandangnya dengan lebih luas.
Contoh yang berpandangan sempit adalah anggapan bahwa rejeki itu hanyalah uang. Syarat bahagia adalah kaya. Ia baru merasa senang jika ada peristiwa yang menambah hartanya.
Ciri orang yang seperti ini fokus kehidupannya adalah mencari uang. Bahkan tanpa sadar ia mengorbankan banyak hal selain uang. Mengorbankan kesehatan, keharmonisan keluarga, dan menghabiskan waktunya untuk bekerja. Yang penting kaya.
Fokus terhadap uang membuatnya mengaitkan semua peristiwa dengan uang. Saat berwisata yang merupakan peristiwa menyenangkan bagi orang lain, baginya adalah hal yang tidak mengenakkan. "Duh habis berapa nih duit buat wisata?"
Jangan heran bila mereka menjadi bakhil. Di saat orang lain menganggap kesempatan pergi haji dan umroh adalah rejeki, ia melihatnya sebagai kerugian. Di saat orang lain bahagia bisa berinfak, ia mencatatnya sebagai pengurangan aset.
Peristiwa yang berkaitan dengan uang di dalam kehidupan sehari-hari hanya sedikit. Kegiatan jual beli, menerima gaji, mendapat hadiah, atau menemukan benda berharga hanya mengambil slot waktu sedikit saja dibandingkan peristiwa-peristiwa lainnya.
Orang yang berpandangan luas dan menganggap rejeki bukan hanya uang tentu lebih mudah bahagia. Banyak peristiwa yang ia anggap sebagai rejeki.
Banyak peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak berkaitan dengan uang. Saat bercanda dengan keluarga, beribadah, berolahraga, membaca, menghadiri majelis dzikir, bersilaturahim, menonton, dan makan bersama, jika dilihat sebagai rejeki tentu akan menambah kebahagiaan.
Benarkah kesehatan adalah rejeki? Tanyakan kepada mereka yang membayar mahal untuk sembuh. Sebagai informasi, rekor obat termahal saat ini adalah Lenmeldy. Obat penyakit leukodistrofi metakromatik. Harga satu dosisnya sekitar enam puluh tiga milyar rupiah.
Benarkah memiliki anak yang sholeh dan berilmu adalah rejeki? Tanyakan kepada ibu Imam Rabi'ah bin Abi Abdurrahman. Ia menghabiskan uang, jika dikurs-kan, sekitar seratus dua puluh milyar rupiah untuk membiayai anaknya belajar.
Benarkah memiliki pasangan adalah rejeki? Tanyakan kepada Mughal Shah Jahan yang sedih karena meninggalnya istrinya. Ia membangun Taj Mahal, jika dikurs-kan, dengan biaya sekarang sekitar lima belas trilyun rupiah untuk mengenangnya.
Memandang Kemulian Berdasarkan Banyaknya Harta
Di dalam Al-Quran diceritakan orang-orang di zaman Nabi Musa yang memandang rejeki atau keberuntungan itu hanya diukur dengan harta. Ini tampak dari ucapan mereka saat melihat Karun memamerkan hartanya. Orang-orang yang berpandangan lebih luas tentang rejeki menegur mereka. Allah SWT berfirman:
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash ayat 79-80)
Perdagangan yang Menguntungkan Utsman bin Affan
Salah satu cerita yang menggambarkan dengan jelas bahwa rejeki bukan hanya uang adalah kisah Utsman bin Affan. Ia membawa seratus ekor unta yang penuh dengan muatan bahan makanan. Bayangkan di saat kota Madinah paceklik dan tidak ada makanan, datang dengan seratus truk kontainer berisi makanan. Berapa keuntungan yang akan didapat?
Para pedagang mencoba mengambil keuntungan dengan membelinya. Mereka menawar ke Utsman bin Affan. Utsman menolak menjualnya. Tawaran terus naik sampai sepuluh kali lipat dari modal.
Utsman menolak dan mengatakan bahwa ada yang sudah menawar lebih dari itu. Para pedagang heran. Siapa yang berani menawar lebih dari sepuluh kali lipat? Ternyata Utsman membagikan seluruh makanan kepada penduduk Madinah secara gratis.
Utsman mengetahui bahwa di saat kelaparan melanda, menyumbangkan makanan adalah amal yang utama. Pas banyak yang kelaparan, pas punya banyak makanan. Rejeki nomplok pikir Utsman bin Affan. Baginya rejeki bukan hanya uang.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz Ya Allah jadikan kami kaya terutama kaya hati
BalasHapus