UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Ketidaktahuan yang Menggelisahkan

  


Ustadz Tengku Zulkarnain (almarhum) di dalam salah satu ceramahnya menceritakan tentang ulama yang menangis karena tidak berhasil memahami maksud dari hadits. Ada beberapa hadits yang terlihat bertentangan sehingga membuatnya bingung.

Hadits yang membuat gelisah ulama tersebut adalah hadits-hadits yang menceritakan kondisi sakaratul maut. Di dalam sebuah hadits diceritakan bahwa saat nyawa dicabut, sakitnya seperti binatang yang dikuliti dalam keadaan hidup. Di dalam hadits lain sakitnya seperti tusukan tiga ratus pedang.

Di sisi lain, ada hadits yang menceritakan orang beriman dicabut nyawanya dengan sangat lembut. Malaikat Izrail menarik nyawa dari tubuh seperti rambut yang ditarik dari tepung. Lalu mana yang benar? Apakah cara tarikannya berbeda atau hanya perasaannya saja yang berbeda?

Sang ulama berusaha memahami hadits-hadits yang terlihat kontradiksi tersebut. Ia sholat tahajud di malam hari dan berpuasa di siang hari sebagai washilah untuk bisa memahami hadits-hadits tentang sakaratul maut.

Setelah beberapa lama mengalami kegelisahan, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi ia menanyakan maksud hadits yang maknanya seperti berlawanan tersebut. Di dalam mimpi, Nabi Muhammad SAW menyuruhnya untuk membaca surah Yusuf.

Saat terbangun, sang ulama langsung membaca surah Yusuf di dalam Al-Quran. Di dalam surah Yusuf diceritakan para wanita di sekitar istana Mesir meremehkan Zulaikha yang jatuh cinta kepada pelayannya yang bernama Yusuf.

Zulaikha mengundang mereka dan menyediakan buah-buahan dan pisau untuk mengupas buah. Saat para wanita sedang mengupas buah dengan pisau, Zulaikha menyuruh Yusuf untuk lewat di depan mereka.

Para wanita terpesona dengan ketampanan Nabi Yusuf. Tanpa sadar mereka mengiris jari mereka sendiri dengan pisau. Namun, ketampanan Nabi Yusuf yang luar biasa membuat mereka tidak merasakan pedihnya jari yang teriris pisau.

Setelah Nabi Yusuf berlalu, mereka baru sadar dan mengerang kesakitan akibat luka-lukanya. Zulaikha membayar kontan hinaan para wanita yang meremehkannya. Ternyata tidak ada wanita yang tidak kagum dengan ketampanan Nabi Yusuf.

Setelah sang ulama membaca surah Yusuf barulah ia faham maksud dari hadits-hadits yang berkaitan dengan sakaratul maut. Saat malaikat Izrail mencabut nyawa seseorang, sakitnya memang seperti binatang yang dikuliti hidup-hidup. Namun, orang-orang beriman tidak merasakan sakit karena diperlihatkan surga.

Di dalam sebuah hadits dijelaskan, saat orang beriman sekarat, ia akan melihat tempatnya di surga. Istana yang megah, taman yang indah, dan bidadari-bidadari surga yang belum pernah terlintas di dalam pikiran manusia sangatlah memukau. Itu sebabnya ia tidak merasakan dahsyatnya sakaratul maut. Tarikan malaikat maut yang memutuskan semua urat syaraf terasa hanya seperti rambut yang ditarik dari tepung.

Gelisah karena tidak Faham

Kegelisahan ulama dalam memahami hadits tentu menjadi renungan. Hanya karena tidak bisa memahami hadits saja membuatnya menangis. Bagi orang awam, tidak memahami hadits, adalah hal yang biasa. Nggak tahu ya sudah, nggak apa-apa.

Puncak kegelisahannya terlihat dari usahanya berpuasa dan sholat malam selama berhari-hari. Kegelisahan yang mendapat apresiasi dari Nabi Muhammad SAW yang mendatanginya di dalam mimpi.

Kegelisahan karena tidak bisa memahami hadits atau ayat Al-Quran adalah tanda kuatnya keimanan. Kegelisahan ini disebabkan karena keyakinan bahwa memahami agama adalah hal yang sangat penting di dalam hidup. Meyakini bahwa Al-Quran dan hadits adalah petunjuk hidup yang membawa kepada keselamatan.

Bagi para ulama, memahami agama adalah hal yang penting. Lihatlah Imam Syafi'i yang sholat subuh menggunakan wudhu sholat Isya. Ia tidak tidur semalaman karena merumuskan masalah agama.

Begitu juga dengan Imam Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari). Demi mendapatkan jawaban kebenaran hadits, beliau berjalan melintasi Hijaz, Irak, Mesir, Syam, sampai Persia. Satu demi satu hadits diteliti sebelum dimasukkan ke dalam kitab.

Untuk menguji kesahihan hadits Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam At-Tirmidzi rela berjalan ribuan kilometer untuk mengkonfirmasi kebenaran nya. Mereka penasaran, apakah benar hadits tersebut berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Pentingnya Belajar dan Beribadah

Guru Sekumpul mengatakan bahwa Tuhan memberikan dua macam tugas yaitu beribadah dan belajar. Keduanya tidak boleh ditinggalkan. Beliau berkata,"Tuntutlah ilmu, jangan ditinggalkan wirid (ibadah). Berwirid olehmu, jangan meninggalkan menuntut ilmu."

Bagi ulama, mencari ilmu sama pentingnya dengan beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak heran mereka berusaha keras untuk memahami ilmu sekeras mereka beribadah.

Tantangan Zaman dalam Belajar Agama

Hiruk-pikuk dunia dengan adanya media sosial mengganggu keinginan untuk belajar. Di zaman dahulu anak-anak pergi menghabiskan waktu antara maghrib dan isya di surau untuk belajar. Mereka tidak memegang HP dan chanel televisi pun tidak sebanyak sekarang.

Di zaman sekarang, dunia semakin ramai. Media sosial mempertontonkan kelakuan-kelakuan konyol yang dibuat-buat untuk menarik perhatian. Belum lagi drama-drama yang berjilid-jilid.

Tarikan hiburan yang kuat ini tentu menghalangi keinginan untuk belajar. Jangankan menangis karena tidak memahami hadits, membaca atau mendengarkan hadits pun menjadi tidak menarik.

Namun, seiring dengan bertambah besarnya tantangan, fasilitas yang ada pun semakin mudah. Dengan adanya kitab hadits digital, tidak perlu lagi berjalan ribuan kilo untuk bertanya tentang sebuah hadits. Dengan adanya tafsir Al-Quran digital, Kini tidak perlu lagi membuka ribuan lembar untuk memahami tafsir sebuah ayat.

Yang dibutuhkan saat ini adalah kegelisahan untuk memahami agama. Saat kegelisahan dan kebutuhan atas ilmu agama telah muncul, gadget yang dimiliki akan berfungsi sebagai kitab yang menjadi kunci gerbang ilmu. Jika tidak, ia hanyalah alat hiburan semata.

Wallahu a’lam bishshowab


Lebih lamaTerbaru

2 komentar

Translate