UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Bagaimana Membuat Amal Menjadi Besar?

 

Suatu hari Presiden Soekarno berbincang-bincang dengan Prof. DR. H. Kadirun Yahya. Beliau merupakan rektor di suatu universitas yang juga memiliki ijazah mursyid dari salah satu tarekat.

Presiden Soekarno bertanya tentang hadits seorang wanita pelacur yang masuk ke dalam surga hanya karena memberi minum seekor anjing. Jika dilihat sekilas, secara matematis sulit dirumuskan. Bagaimana mungkin amal yang sedikit dan sebentar bisa mengalahkan perbuatan dosa yang besar dan dilakukan selama bertahun-tahun. Bagaimana perhitungannya?

Hadits yang menceritakan wanita pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum seekor anjing diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Hadits yang shohih dan sering diceramahkan oleh para penceramah.

Betapa beruntungnya wanita pelacur yang diceritakan dalam hadits tersebut. Apa rahasianya sehingga amal yang sedikit bisa mendapat nilai yang luar biasa?

Presiden Soekarno menyampaikan alasan kenapa ia menanyakan hal tersebut. Beliau berkata, "...Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.”

Konsep Angka Tak Terhingga

Berhadapan dengan Presiden Soekarno yang merupakan insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung), yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) tentu diperlukan jawaban yang logis. Prof. DR. H. Kadirun Yahya yang ahli dalam ilmu eksakta menggunakan pendekatan matematika untuk menjelaskannya. Prof. DR. H. Kadirun Yahya adalah akademisi yang sekaligus seorang sufi.

Beliau merumuskan dengan menggunakan konsep angka tak terhingga. Di dunia matematika angka tak terhingga diwakili dengan simbol yang mirip angka delapan yang dibaringkan (∞). Sebesar apapun angka, jika dibagi dengan angka tak terhingga hasilnya akan nol. Satu dibagi angka tak terhingga hasilnya nol. Seribu trilyun dibagi angka tak terhingga hasilnya juga nol.

Jika pembaginya bukan tak terhingga, maka hasilnya tidak boleh ditulis nol. Satu dibagi sepuluh maka harus ditulis satu per sepuluh ( 1/10). Satu dibagi seratus trilyun, hasilnya satu per seratus trilyun, tidak boleh ditulis nol.

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Besar dan Maha Segala-galanya. Allah SWT adalah Dzat Yang tidak Terhingga. Sebesar apapun dosa, ketika pelakunya meminta ampun dan terhubung dengan Dzat Yang tidak Terhingga, hasilnya akan nol. Dosanya akan dihapus.

Angka tak terhingga juga memiliki sifat yang membuat semua angka jika dikalikan dengan tak terhingga hasilnya tak terhingga. satu dikali tak terhingga hasilnya tak terhingga. Sejuta dikali tak terhingga hasilnya tak terhingga.

Sekecil apapun amal, jika dilakukan oleh seseorang yang terhubung dengan Dzat Yang Maha Besar maka nilainya menjadi besar. Meskipun hanya memberi minum air kepada anjing, ia akan menjadi amal yang besar jika pelakunya terhubung dengan Allah SWT.

Masalahnya, bagaimana "menghubungkan" amal dengan dengan Allah SWT? Prof. DR. H. Kadirun Yahya menjelaskannya dengan menggunakan perumpamaan frekuensi. Dua alat yang memiliki frekuensi yang sama akan terhubung.

Frekuensi yang Sama akan Membuat Terhubung

Beliau berkata, “Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio (stasiun pemancar radio), kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati.”

Ibarat HP, meskipun yang satu berada di Indonesia dan yang lainnya berada di Amerika, jika nomor yang dihubungi benar, pasti akan tersambung. Sebaliknya, meskipun kedua HP tersebut hanya terpisah dinding, jika nomor yang dihubungi salah, tidak akan tersambung. Beda frekuensi.

Wanita pelacur tersebut beruntung karena saat ia memberi minum anjing, ia dalam posisi frekuensi yang tepat. Ia benar-benar dalam posisi ikhlas yang sempurna.

Mencintai Nabi adalah Awal dari Keterhubungan

Pernyataan Prof. DR. H. Kadirun Yahya terkait frekuensi menarik perhatian Presiden Soekarno. Ia bertanya cara agar bisa memiliki frekuensi yang membuatnya terhubung dengan Allah Yang Maha Besar.

Prof. DR. H. Kadirun Yahya menjawab, “Melalui isi dada Rasulullah”. Beliau menjelaskan pentingnya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW agar memiliki frekuensi yang dimaksud. Beliau juga menjelaskan hadits bahwa doa akan sulit terkabul jika tidak dimulai dengan sholawat.

Penjelasan Prof. DR. H. Kadirun Yahya sejalan dengan ceramah yang pernah penulis dengar. Pintu agar dapat mencintai Allah SWT adalah dengan mencintai Nabi Muhammad SAW. Cara untuk dapat mencintai Nabi Muhammad SAW adalah dengan memperbanyak sholawat. Sholawat adalah tangga untuk dapat mencintai Allah SWT.

Saat seseorang sudah berhasil mencintai Allah SWT, maka ia beramal karena ingin menyenangkan Allah SWT. Amalnya terhubung dengan Dzat Yang tidak Terhingga. Ia beramal bukan karena ingin surga atau takut neraka tapi karena ingin mendapat ridho dari Dzat Yang Maha Besar. Amal dengan tingkat keikhlasan yang paling tinggi.

Masalahnya tidak semua orang menganggap sholawat adalah hal yang penting sehingga meninggalkan kebiasaan untuk memperbanyak sholawat. Tidak memahami bahwa setiap rumah memiliki pintu. Padahal untuk dapat masuk ke dalam rumah, cara yang termudah adalah melalui pintunya.

Pintu untuk merasakan kedekatan kepada Allah SWT adalah dengan mencintai Nabi Muhammad SAW. Para wali Allah SWT sangat mencintai Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya mereka bisa merasakan cinta kepada Allah SWT yang bergejolak di dalam dada Nabi Muhammad SAW.

Para kekasih Allah SWT memiliki frekuensi yang terhubung dengan Allah SWT. Wajar jika doa-doa mereka lebih mudah terkabul. Wajar jika amal mereka menjadi besar nilainya. Mereka adalah orang-orang yang sangat ikhlas dalam beramal.

Wallahu a’lam bishshowab

1 komentar

Translate