UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Calm Down


Suatu hari penulis mengikuti kegiatan Leadership Development Program (LDP). Salah satu agendanya adalah diskusi bersama para leader yang sudah teruji kapasitasnya. Para leader yang menjadi nara sumber adalah para kepala kanwil DJP di Jawa Timur. 

Ada peserta yang bertanya kepada salah satu leader cara atau trik agar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang gawat. Kebetulan leader yang ditanya memang pernah berada di tengah pusaran gelombang saat terjadi peristiwa yang menimbulkan krisis kepercayaan terhadap organisasi.

Peserta tersebut bertanya karena ia kagum melihat ketenangan yang ditunjukkan salah satu leader dalam menghadapi situasi yang cukup mengkhawatirkan saat itu. "Siapa bilang saya nggak panik?" ujarnya sambil tertawa. Yang ditanya menjawab bahwa sebenarnya ia juga panik.

Ia sengaja bersikap tenang agar kepanikan tidak terlihat oleh staf-stafnya. Bayangkan jika pemimpin panik, tentu para staf akan berlipat-lipat lebih panik. Jika jenderal lari, hampir pasti semua prajurit pun akan lari.

Leader harus bisa menciptakan ketenangan kepada anak buah karena ketenangan adalah syarat agar manusia bisa mengeluarkan kemampuan secara maksimal. Kepanikan akan melemahkan manusia. Tidak bisa berpikir jernih. Bahkan kepanikan bisa membuat tubuh tidak dapat bergerak seperti lumpuh.

Emosi yang berlebihan seperti marah, takut, sedih, gelisah akan mengurangi fungsi otak. Orang yang marah akan sangat mudah dipermainkan setan. Mudah di provokasi untuk melakukan perbuatan yang merusak.

Satu bisikan kecil dari setan kepada orang yang sedang marah bisa membuatnya menghabisi nyawa seseorang. Setelah marahnya reda dan otaknya sudah berfungsi kembali, barulah ia menyesali perbuatannya.

Setan akan sangat senang jika manusia tidak dalam keadaan tenang. Setan akan terus menciptakan emosi-emosi seperti kemarahan, kegelisahan, dan ketakutan untuk membuat manusia tidak bisa berpikir jernih. Allah SWT berfirman:
Setan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah ayat 268)
Di ayat tersebut setan memprovokasi manusia agar merasa takut dan gelisah. Namun, Allah SWT memberi janji-janji yang bisa membuat manusia tenang. Allah SWT menjanjikan karuniaNya untuk menenangkan manusia yang ketakutan dengan kemiskinan di masa depan. Allah SWT juga menjanjikan ampunan bagi manusia yang terlanjur berbuat keji agar tenang hatinya.

Ketenangan membuat kemampuan akal menjadi optimal. Secara tidak langsung, ketenangan akan membuat seseorang menjadi cerdas. Hasil penelitian menunjukkan jika nilai mata pelajaran di suatu sekolah tinggi, kemungkinan guru yang mengajar mata pelajaran tersebut adalah guru yang memberikan ketenangan dan kedamaian.

Contohnya jika nilai rata-rata mata pelajaran matematika anak-anak di suatu sekolah lebih rendah dari pada nilai rata-rata sekolah-sekolah pada kota yang sama, kemungkinan guru matematika di sekolah tersebut guru yang "killer". Guru yang menyebarkan ketegangan dan ketakutan sehingga anak-anak sulit untuk fokus menerima pelajaran.

Jika nilai rata-rata mata pelajaran IPA anak-anak di sekolah tersebut lebih tinggi dari pada nilai rata-rata sekolah-sekolah pada kota yang sama, kemungkinan guru IPA di sekolah tersebut baik dan menyenangkan. Guru yang menimbulkan ketenangan dan kenyamanan sehingga anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran.

Misi utama manusia hidup di dunia adalah mengenal Tuhan. Masalahnya, misi ini sulit untuk dilakukan karena Tuhan tidak bisa dibayangkan, dilihat, dan diraba. Tuhan adalah pemilik alam semesta. Tidak ada yang menyerupai, bahkan mendekati kemiripan dengan Tuhan.

Untuk mengenal Tuhan, dibutuhkan kemampuan akal dan hati yang bekerja secara maksimal. Itu semua bisa didapatkan dengan hati yang tenang. Memiliki ketenangan hati, selain merupakan kenikmatan hidup juga merupakan kunci untuk mengenal Allah SWT.

Hati yang tenang dan tidak gelisah akan membuat kemampuan berpikir dan bertadabur meningkat. Hati yang tenang membuat manusia memiliki kesempatan untuk memahami dan mengenal Allah (ma'rifatullah).

Mengajar dan mengenalkan Tuhan kepada seseorang yang masih gelisah karena keinginannya belum terpenuhi adalah perbuatan yang sia-sia. Seperti orang yang gelisah karena sangat lapar. Tidak ada kata-kata yang bisa masuk.

Semua yang memenuhi pikirannya hanyalah tentang makanan. Kenyangkan dulu perutnya baru pelajaran dimulai. Tenangkan dulu hatinya agar pengajaran lebih mudah diterima.

Bayangkan seseorang yang sedih karena memikirkan hutang dan khawatir akan masa depannya. Hari-harinya penuh dengan pertanyaan bagaimana tunjangan hari tua, dana kesehatan, biaya kuliah.

Apakah ada kesempatan untuk merenungkan ayat-ayat dalam kitab suci? Apakah ada waktu merenungkan nikmat Tuhan? Boro-boro memikirkan makna kehidupan, mikir kebutuhan dunia saja belum kelar.

Manusia-manusia yang berhasil mengenal dan mencintai Allah SWT digambarkan di dalam Al-Quran sebagai manusia-manusia yang tenang hidupnya. Mereka berhasil membebaskan hati dari rasa takut dan sedih. Mereka telah merasakan ketenangan hidup sebagaimana ayat berikut:
Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (QS. Yunus ayat 62)
Di saat manusia-manusia lain masih gelisah karena obsesi terhadap dunia, para kekasih Allah SWT hidup dalam keadaan damai. Meskipun hidup di dunia, pada dasarnya mereka telah berada di surga.

Ketenangan bisa didapatkan dari beberapa jalan. Di antaranya dengan berusaha memahami makna kehidupan. Mengganti kaca mata yang keruh dan kabur, dengan kaca mata lain yang lebih jernih dan menenangkan.

Ketenangan juga bisa didapatkan dengan membiasakan mengingat Allah SWT. Bagi orang beriman, ketenangan memiliki kolerasi yang sangat kuat dengan mengingat Allah SWT. Allah SWT berfirman:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra'd ayat 28)
Mengingat ketenangan adalah kunci untuk mengenal Tuhan, maka program-program dzikir bukanlah merupakan program sampingan. Ia adalah program utama yang mengantarkan manusia sampai kepada Tuhan.

Seseorang yang ingin menggapai ketenangan tapi menganggap enteng program dzikir seperti orang yang ingin memiliki tubuh yang bugar tapi menghapus olah raga dalam programnya. Seperti orang yang ingin buahnya tetapi memotong akarnya.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate