Eliot Ness kesulitan menangkap Alphonse Gabriel Capone (Al Capone) yang merupakan bos mafia keturunan Italia. Al Capone, dengan uang hasil bisnis ilegal, "membeli" para penegak hukum, pejabat, dan kepolisian yang membuatnya tidak tersentuh hukum.
Kisah yang terjadi pada tahun 1930-an di Amerika ini dibuat film dengan judul "The Untochables". Di dalam salah satu adegannya, Al Capone mempermalukan Eliot karena gagal dalam melakukan penggerebekan barang ilegal berupa minuman keras. Ada anggota tim Eliot yang berkhianat dan membocorkan rencana penggerebekan.
Langkanya mencari polisi yang jujur di saat itu membuat Eliot kesulitan merekrut anggota yang bisa dipercaya untuk menangkap Al Capone. Banyak polisi dan pejabat telah tercemari uang Al Capone sehingga mereka menjadi pelindung Al Capone.
Rekan setia Eliot, Jimmy Malone, memberikan usulan untuk mendapatkan anggota tim yang berintegritas. Ia mengatakan bahwa jika tidak ingin mendapat apel yang busuk, ambil langsung dari pohonnya. Apel yang sudah dipetik dan tidak lagi berada di pohon kemungkinan sudah busuk. Apel yang masih berada di tangkainya, tentu lebih segar.
Para polisi dan penegak hukum yang sudah bekerja di kantor kemungkinan sudah merasakan uang Al Capone. Mereka telah "terbeli" dan menjadi kroni Al Capone. Sedangkan para calon polisi yang masih berada di akademi polisi, belum mendapat pengaruh dari kroni Al Capone.
Eliot menerima usulan Jimmy Malone. Ia merekrut anggota timnya dari lulusan akademi yang belum dipengaruhi oleh kroni Al Capone. Meskipun baru lulus dan belum memiliki pengalaman di berbagai medan operasi, mereka tetap dipilih.
Eliot mendapatkan pasukan yang masih bersih dan memiliki loyalitas yang kuat. Dengan anggota tim yang memiliki integritas tinggi, Eliot berhasil memenjarakan Al Capone.
Integritas Lebih Tinggi dari pada Profesionalisme
Di dalam dunia kerja, nilai integritas yaitu kejujuran, menjunjung nilai-nilai mulia, dan konsisten bertahan pada kebenaran dianggap lebih tinggi daripada nilai profesionalisme. Meskipun memiliki skill dan pengetahuan yang tinggi, jika integritasnya rendah, biasanya perusahaan akan berpikir untuk menerimanya.
Kemampuan dan pengetahuan yang tinggi memang menjanjikan kontribusi yang maksimal. Namun, kemampuan yang tinggi, jika berada di tangan orang yang tidak berakhlak, akan memberikan daya hancur yang luar biasa. Semakin cerdas penjahat, semakin besar dampaknya dan semakin sulit untuk dilacak modus operandinya.
Penulis pernah membaca trik wawancara menguji integritas terhadap para pencari kerja. Pewawancara menunjukkan sikap bahwa perusahaan sangat menghargai kebersihan. Pewawancara bertanya kepada calon pekerja, "Tadi saat masuk ke kantor ini, sudah menggosok sepatu di keset?"
Sebenarnya di depan gedung kantor tidak tersedia keset untuk membersihkan alas kaki. Bagi mereka yang menjawab "sudah", itu menjadi catatan atas ketidakjujurannya. Bagaimana mungkin menggosok sepatu ke keset sedangkan kesetnya tidak tersedia? Bagi yang mengatakan "belum" atau mengatakan tidak menemukan keset, ini menjadi indikator kejujurannya.
Secara bahasa Integritas berasal dari bahasa Latin, yaitu "integer" yang berarti utuh atau lengkap. Secara makna Integritas sering diterjemahkan dengan kesamaan antara perkataan dan perbuatan. Tidak terpecah antara perkataan dan perbuatan. Ada orang yang berkoar-koar anti korupsi tetapi diam-diam melakukan korupsi.
Integritas Mencakup Perkataan, Perbuatan, dan Keinginan.
Ada juga yang menerjemahkan makna integritas dengan lebih dalam. Integritas bukan hanya kesamaan perkataan dan perbuatan, tapi kesamaan antara isi hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ada yang perkataannya sudah sama dengan perbuatannya, tetapi hatinya tidak ingin melakukannya. Masih ada bagian yang terpecah yaitu keinginan hatinya.
Mengucapkan dan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan keinginan tentu melelahkan. Yang ideal adalah mengucapkan dan melakukan perbuatan atas sesuatu yang memang diinginkan. Memang menjadi kenikmatan baginya. Inilah integritas sejati.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Tidaklah sempurna keimanan seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikut kepada ajaran yang aku bawa. (HR. Al Baihaqi)
Integritas sejati akan didapatkan oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat. Iman membuat mereka bisa menikmati perbuatan kebenaran yang mereka lakukan. Mereka melakukannya tanpa merasa berat.
Suatu hari seorang ustadz pernah berceramah tentang hukuman potong tangan bagi pencuri. Beliau mengatakan bahwa beberapa orang merasa takut dan berat dengan aturan ini. Aturan ini dianggap terlalu berat.
Beliau bertanya, "Kenapa harus takut?" Toh tidak ada keinginan di dalam hati untuk mencuri. Yang takut dengan aturan ini hanyalah orang-orang yang ada keinginan mencuri. Kalau di dalam hati tidak ada keinginan mencuri, kenapa takut?
Orang yang tidak ada keinginan mencuri dan memandang mencuri adalah perbuatan buruk tidak akan melakukan pencurian. Saat mereka sangat membutuhkan sesuatu, mereka akan memilih meminta atau berhutang. Tanpa ada pengawasan sekalipun mereka tidak akan mau mencuri.
Iman yang Kuat akan Melahirkan Integritas Sejati.
Allah SWT berfirman:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ ayat 65)
Ciri orang yang sempurna imannya adalah tidak ada rasa berat di dalam hatinya di dalam melakukan nilai-nilai kebenaran. Jika masih ada rasa berat, maka itu menjadi indikasi belum sempurnanya iman.
Integritas yang sempurna adalah integritas yang mencakup lahir dan batin. Contohnya adalah seseorang yang ucapannya menganjurkan membaca Al-Quran, perbuatannya sering membaca Al-Quran, dan hatinya pun menikmati membaca Al-Quran. Inilah level orang-orang yang sempurna imannya. Level orang-orang yang berintegritas sejati.
Wallahu a’lam bishshowab



Masya Allah Tabarakallah ustadz
BalasHapus