UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Fikih Hati

  


Hendra memerintahkan stafnya untuk membereskan kantor. Merapikan pembukuan dan membersihkan ruangan-ruangan. Hari ini auditor internal perusahaan akan memeriksa cabang perusahaan yang dinakodai Hendra.

Biasanya auditor sebelumnya hanya memeriksa permukaan saja. Fokus utama hanyalah kinerja cabang. Rupanya pemilik perusahaan yang baru memiliki konsep yang berbeda. Auditor kali ini memeriksa lebih detil dan lebih mendalam.

Hendra tidak mengira auditor bahkan memeriksa laci dan file komputer para pegawai. Bukan hanya capaian prestasi cabang, budaya dan akhlak pegawai juga menjadi perhatian auditor.

Untungnya Hendra selama ini selalu berusaha menjaga akhlak dari pegawainya. Ia bahkan menjaga ketat kepribadian karyawan. Hasil audit bersih, tidak ada temuan yang bertentangan dengan akhlak.

Hendra mendapatkan penghargaan karena bukan hanya memperbagus luar saja tetapi menjaga kualitas dalamnya.

Menjaga Kualitas Luar dan Dalam

Ilustrasi Hendra di atas adalah kondisi yang menggambarkan prilaku seorang sufi. Mereka ketat menjaga hati. Mereka faham bahwa Allah SWT bukan hanya memandang jasmani tetapi juga mengaudit isi hati. Mereka merasa malu jika memiliki perasaan yang buruk.

Manusia terkadang merasa cukup dengan ibadah jasmani berupa puasa, sholat, dan lain-lain. Namun, hanya sedikit yang menjaga kualitas perasaan di saat melakukan ibadah jasmani tersebut.

Bagi para sufi, gerakan badan dan ucapan lisan adalah hal yang penting. Namun, para sufi faham bahwa yang ada di dalam hati lebih penting. Allah SWT menilai seseorang berdasarkan perasaannya. Semua perbuatan akan dinilai berdasarkan niat dan perasaannya.

Ada orang yang bersujud, tapi pikiran kemana-kemana. Bahkan di saat sujud pun, ia masih memikirkan bisnis dan investasinya. Lebih parah lagi sambil bersujud, merencanakan perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Lupa Allah SWT melihat hatinya.

Ada orang yang memberi zakat, di saat bersamaan, perasaannya meremehkan mustahik yang menerima zakat. Bukan hanya sombong, ia juga kesal kepada mustahik yang selalu rutin datang.

Kelak saat hari perhitungan tiba, betapa terkejutnya manusia yang lupa mengawal perasaannya. Mereka hanya mengawal kedisiplinan ibadah jasmani saja.

Kitab Panduan Hati

Salah satu kitab yang menjadi rujukan dalam mengatur perasaan adalah kitab Al-Hikam. Kitab ini ditulis oleh wali Allah yang bernama Ibnu Atha'illah As-Sakandari. Kitab yang populer dalam masalah sufi selain kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis oleh Imam Ghozaly.

Membaca kitab Al-Hikam, terkadang membuat penulis terkejut. Beberapa perasaan yang dulu menurut penulis biasa saja, ternyata bagi para Wali Allah adalah perasaan yang sopan di hadapan Allah SWT.

Jika ucapan saja memiliki level kesopanan, demikian juga dengan perasaan. Jika cara duduk saja ada tingkatan kesopanan, begitu pula dengan perasaan. Para sufi berusaha menjalankan kesopanan yang tertinggi terhadap Allah SWT.

Contohnya masalah riya atau beramal karena ingin dilihat dan dipuji orang. Bagi orang awam beribadah secara tersembunyi tanpa dilihat orang sudah pasti selamat dari penyakit riya.

Ibnu Atha'illah menjelaskan bahwa ada ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun bagi para wali Allah itu bisa masuk dalam kategori riya. Meskipun ia menyembunyikan ibadahnya.

Beribadah agar ibadahnya berefek menimbulkan kewibawaan atau kharisma adalah hal biasa bagi orang awam. Bagi para kekasih Allah SWT, ibadah dengan perasaan tersebut belum terbebas dari riya. Tujuan utama ia beribadah bukan karena Allah SWT tetapi munculnya rasa hormat orang lain.

Secara tidak langsung ia beribadah karena manusia. Tipis bedanya. Hanya para kekasih Allah SWT yang menyadari perbedaannya. Sebagaimana hanya para bangsawan ningrat yang bisa membedakan tingkat kesopanan.

Banyak hal lain yang dibahas di dalam kitab Al-Hikam. Perasaan-perasaan yang untuk orang-orang level Abror adalah hal yang baik. Namun, bagi orang-orang level Muqorobin, itu adalah hal yang buruk. Hanya para muqorobin yang bisa memahami bedanya.

Perlunya Guru Pembimbing

Kitab Al-Hikam cukup berat dicerna. Sebagian orang bahkan melarang untuk langsung membaca Al-hikam bagi orang awam. Mereka menyarankan membaca kitab dasar seperti Ihya Ulumuddin dahulu sebelum membaca kitab Al-Hikam.

Bagi para salik yang sudah terbiasa melatih hati dan memiliki pengalaman rohani yang cukup akan mudah memahami Al-Hikam. Bagi yang belum pernah mengalami, akan kesulitan membayangkannya.

Contohnya orang yang sudah pernah tinggal di Jember tentu mudah untuk memahami lokasi. Jika disebutkan "Lokasi rumah di depan Yon Armed 8", mereka langsung menganggukkan kepala.

Bagi yang belum pernah ke Jember, sulit membayangkannya. Jangankan membayangkan lokasi rumahnya, memahami lokasi Yon Armed 8 saja sudah tidak bisa.

Mengkaji kitab Al-Hikam, karena makna yang tersirat cukup dalam, lebih baik mengikuti kajian yang dibawakan oleh para guru yang memiliki ilmu yang cukup. Tentu lebih mudah belajar berenang dengan bimbingan perenang daripada memikirkan dan mencoba menciptakan gaya sendiri.

Di kalangan sufi, selain sibuk berdzikir dan bersholawat untuk menimbulkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul, mereka juga sibuk mempelajari ilmu ma'rifatullah. Salah satu ilmu ma'rifatullah adalah memahami perasaan yang diinginkan Allah SWT berada di dalam hati manusia.

Tata cara perasaan ini adalah fikih hati yang melengkapi fikih jasmani. Fikih yang membuat mereka yang memahaminya berhasil menjadi kekasih Allah SWT. Anda mulai tertarik untuk membaca kitab Ihya dan kitab Al-Hikam? Selamat datang di dunia sufi.

Wallahu a'lam bishshowab


Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Translate