Allah Maha Pengampun (Bagian ke-2)

2 komentar
    



Buya Hamka adalah ulama besar kebanggaan Indonesia. Beliau adalah mufasir yang diakui dunia. Kitab Al Azhar menjadi rujukan bagi ulama-ulama di beberapa negara. Selain terkenal karena keluasan ilmunya, Buya Hamka juga terkenal karena memaafkan orang-orang yang telah memperlakukannya dengan semena-mena. Walaupun keras di parlemen, sesungguhnya hati Buya Hamka dipenuhi rasa cinta. Sikapnya yang tegas disebabkan karena semangatnya membela kebenaran.

Tanggal 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dengan tuduhan menyusun rencana untuk membunuh Presiden Soekarno. Dengan Undang-Undang Anti Subversif, Buya Hamka dijebloskan ke dalam penjara tanpa proses pengadilan. Buku-buku karya Buya Hamka juga dilarang beredar karena dianggap berisi ajaran-ajaran yang berbahaya.

Di akhir kehidupannya, Soekarno kehilangan kekuasaan, terasing dan sakit-sakitan. Beliau menitipkan pesan kepada Mayjen Soeryo, "Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam sholat jenazahku.” Pesan tersebut sampai kepada Buya Hamka saat Soekarno telah meninggal dan beliau melaksanakan wasiat tersebut dengan mendatangi wisma Yaso dan menjadi imam sholat jenazah.

Mohammad Yamin, tokoh partai PNI sangat membenci Buya Hamka yang merupakan tokoh partai Masyumi. Kebencian ini tampak di dalam ucapan-ucapannya saat sidang-sidang konstituante. Saat Mohammad Yamin jatuh sakit menjelang wafat, beliau dirawat di Jakarta. Beliau mengirim pesan melalui Menteri Chairul Saleh agar Buya Hamka mau mendampinginya di akhir kehidupannya. Ketika Buya Hamka datang, Mohammad Yamin melambaikan tangan kemudian menggenggam tangan Buya Hamka. Sambil memegang tangan Muhammad Yamin, Buya Hamka terus membacakan surah Al Fatihah dan menuntun Mohammad Yamin mengucapkan kalimat tauhid. Mohammad Yamin wafat dengan tangan menggenggam orang yang selalu ia musuhi. Buya Hamka mendampingi jenazah Mohammad Yamin sampai di liang lahatnya di Sumatera Barat.

Selain menulis buku-buku yang berkaitan dengan agama Islam, Buya Hamka juga menulis karya-karya sastra. Novel beliau bahkan ada yang difilmkan. Karena produktif menulis sejak muda sampai dengan usia lanjut, para ahli sastra tidak mengelompokkan beliau dalam salah satu angkatan sastrawan. Para ahli satra memasukkan beliau dalam angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 sekaligus Angkatan 66.

Salah seorang seorang sastrawan yang beraliran kiri, Pramoedya Ananta Toer, sangat membenci Buya Hamka. Pramoedya menuduh Buya Hamka melakukan plagiat karyanya. Sebagai tokoh di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), beliau menyerang dan memfitnah Buya Hamka melalui surat kabar Bintang Timoer.

Walaupun sangat membenci Buya Hamka, Pramoedya mengakui keluasan dan kecerdasan ilmu agama Buya Hamka. Ketika anaknya ingin menikah dengan orang yang berbeda agama, Pramoedya bingung dan sedih. Untuk memahamkan agama dengan baik Pramoedya meminta anaknya dan calon menantunya belajar agama kepada Buya Hamka. Buya Hamka menerima mereka dan mengajarkan agama kepada anak dari musuh politiknya.

Apa yang dilakukan Buya Hamka yaitu memaafkan dan melupakan kesalahan orang-orang yang membencinya adalah perbuatan yang berat. Apalagi pemberian maaf dilakukan saat seseorang mampu membalas atau membutuhkan bantuannya.

Di dalam Al Quran diceritakan kisah pemberian maaf yang dilakukan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya yang telah membuangnya ke sumur. Nabi Yusuf bukan hanya memberikan maaf, namun juga tetap mencintai mereka dengan mendoakan agar Allah SWT mengampuni sebagaimana ayat Al Quran:
"Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian. (QS. Yusuf ayat 92)"

Kalimat yang diucapkan oleh Nabi Yusuf yang tercantum dalam Al-Qu’ran ini dikutip oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Fathu Makkah. Nabi Muhammad mengucapkannya kepada orang-orang yang telah mengusirnya dari kota Mekah.

Memberikan ampunan dan melupakan kesalahan adalah perintah Allah SWT yang memiliki nama Al-Ghofur (Maha Pengampun). Memang Allah SWT memberikan hak seseorang yang dizhalimi untuk membalas dengan perbuatan yang sama demi asas keadilan. Namun Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi yang tidak mengambil haknya dan memilih untuk memberikan ampun. Di dalam Al Quran Allah SWT berfirman;


Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim. (QS. Asy Syuro ayat 40)


Allah SWT juga menjanjikan ampunan dosa bagi seseorang yang mau mengampuni orang lain. Saat peristiwa “haditsul ifki”, Misthah bin Utsatsah termasuk yang termakan isu yang disebarkan oleh kaum munafikin. Misthah ikut menyebarkan fitnah bahwa Aisyah binti Abu Bakar telah berselingkuh. Padahal Abu Bakar selalu memberi bantuan kepada Misthah yang miskin.

Ketika sudah jelas Aisyah binti Abu Bakar terbukti tidak bersalah, Abu Bakar menyatakan tidak akan memberikan bantuan kepada Misthah. Allah SWT menurunkan ayat Al Quran terkait perbuatan Abu Bakar yang ditutup dengan tawaran jika Abu Bakar mau memaafkan Misthah:
"… Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?(QS. An Nur ayat 22)"
Mendengar itu Abu Bakar berkata, “Iya, aku ridha Allah mengampuni dosaku.” Maka kemudian Abu Bakar memaafkan Misthah dan kembali menyantuni Misthah.

Allah SWT sangat ingin mengampuni hamba-hambaNya. Bisa jadi seorang hamba tidak memohon ampun karena sudah melupakan dosa-dosanya yang mungkin telah dia lupakan. Selama dia melakukan amal-amal sholih, maka amal sholih tersebut akan bisa menghapuskan dosa-dosanya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Tidaklah dua Muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah. (HR Abu Dawud)."
Barangsiapa yang berwudhu, kemudian memperbagus wudhunya, maka dosa-dosanya akan berguguran dari jasadnya sampai keluar dari bawah kuku-kukunya. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Tidaklah seorang Muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyuk dalam sholatnya, dan menyempurnakan rukuk, melainkan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya. (HR Muslim).

Barangsiapa yang berwudhu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi sholat Jumat, menyimak dengan baik dan diam, akan diampuni dosa di antara Jumat lalu dengan Jumat yang sedang dikerjakan dengan tambahan 3 hari. Barangsiapa yang menyentuh (memain-mainkan) kerikil (saat khutbah jumat) maka sungguh ia telah sia-sia. (HR Muslim).

Jika seorang hamba lemah dalam beramal, namun dia beriman dan mencintai Allah SWT maka hamba tersebut akan ditimpa kesukaran atau kesulitan hidup yang menjadi kafarat atas kesalahan-kesalahannya.

Tidaklah menimpa seorang Muslim rasa capek, sakit, cemas, sedih, ataupun suatu gangguan, maupun gundah gulana, sekalipun duri, kecuali Allah akan hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR Bukhari)

Beberapa amalan bahkan dapat menghapus dosa bukan hanya dosa-dosa kecil tetapi bisa menghapus semua dosa. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya." (HR Bukhari)

Allah SWT juga akan mengampuni dosa hambaNya melalui Syafaat Nabi Muhammad SAW. Orang-orang beriman juga dapat memberikan syafaat untuk menghapus dosa sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
"Tidaklah seorang mayit dishalati oleh sekelompok kaum muslimin yang jumlahnya hingga seratus orang, maka mereka semua akan memberikan syafa’at pada mayit tersebut” (HR. Muslim)"

Wallahu a’lam bisshowab.
Lembar Nasihat
Blog ini bermula dari kumpulan tulisan buletin Jumat Mushola KPP Pratama Tenggarong. Buletin jumat diterbitkan untuk Karyawan Muslimin/Muslimah di KPP Pratama Tenggarong. Agar dapat dibaca oleh pembaca yang lebih luas, serta adanya revisi yang harus dilakukan, tulisan-tulisan tersebut ditampilkan kembali dalam blog.

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar