UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Dua Air Mata yang Berbeda

   


Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Dunia, ada chanel youtube yang berafiliasi dengan lembaga Alzheimer’s Indonesia (ALZI) mengunggah video tentang liku-liku kehidupan caregiver dalam merawat seseorang yang mengalami demensia. Demensia adalah gejala, kehilangan memori, kesulitan berpikir, dan memecahkan masalah.

Demensia umumnya banyak diderita oleh mereka yang lanjut usia. Semakin tua seseorang, semakin tinggi resiko mengalami demensia. Bahasa yang umum dipakai di masyarakat untuk demensia adalah pikun.

Merawat penderita demensia memerlukan kesabaran yang tinggi. Untuk memberi makan saja memerlukan waktu yang lama. Satu suapan bisa menghabiskan waktu setengah jam. Bagaimana tidak lama, penderita demensia lupa bahwa makanan yang dimasukkan ke mulut mereka harus dikunyah dan ditelan. Harus diingatkan.

Om penulis yang mengalami demensia pernah membuat heboh keluarga karena tidak ingat jalan kembali ke rumah. Berjalan-jalan mengendarai sepeda, Beliau yang tinggal di Yogya, ditemukan di sekitar Klaten.

Gejala demensia yang dialami om penulis semakin bertambah. Itu sebabnya menantunya, memutuskan keluar dari pekerjaannya agar dapat merawat mertuanya dengan intensif. Apalagi suaminya bekerja di lokasi yang tidak setiap hari ada di rumah.

Banyak yang menawarkannya tempat untuk kembali bekerja. Mereka menyayangkan keputusannya untuk berhenti bekerja. Dengan ijazah master psikologi universitas ternama, rasanya mubazir jika tidak menerapkan ilmunya. Apalagi sebelumnya ia aktif mengisi pengajian dan PKK sehingga memiliki koneksi yang luas.

Kenapa tidak bekerja saja dan sebagian penghasilannya digunakan untuk membayar asisten yang merawat? Semua adalah pilihan dan semua tentu telah dihitung nilai lebih dan kurangnya. Untuk memastikan bahwa perawatan dilakukan dengan baik dan dengan sepenuh hati, alternatif tidak bekerja adalah pilihan yang diambil.

Selain memeras emosi, merawat penderita demensia akan mengalami kejenuhan yang tinggi. Sepupu penulis mengatakan bahwa jika ia berada di rumah, ia berusaha mengambil alih semua urusan ayahnya. Itu ia lakukan agar istrinya bisa beristirahat. Ia mengetahui betapa jenuhnya istrinya mendampingi orang yang mengalami demensia.

Penderita demensia harus diingatkan berkali-kali. Percuma mengatakan, "Khan tadi sudah dibilangin." Ia tidak mampu lagi mengingat kata-kata yang sudah didengarnya. Lebih efektif adalah mengulangi perkataan kepada mereka daripada menyuruh mereka mengingat-ingat kata-kata yang lalu.

Allah SWT berfirman:
Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin ayat 68)
Orang yang dipanjangkan usianya sehingga sangat tua akan kembali seperti anak kecil. Mereka kembali tidak mengetahui hal-hal yang dulu sudah mereka ketahui. Mereka kembali tidak mampu mengendalikan emosinya seperti anak-anak. Bahkan mereka kembali tidak mampu untuk mengerjakan hal yng sederhana seperti memakai pakaian dan celananya sendiri. Semua perlu bantuan orang lain.

Bagi beberapa orang, merawat orang tua adalah hal yang sangat dihindari. Mereka saling melemparkan tanggung jawab dengan saudaranya yang lain. Mereka yang "terpilih" untuk merawat, menjalaninya dengan terpaksa. Kondisi terpaksa ini mengakibatkan munculnya sikap-sikap yang menyakiti hati orang tua. Allah SWT berfirman:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ ayat 23)
Perkataan "ah" mewakili perbuatan yang paling ringan dari perasaan kecewa. Semua perbuatan ringan lainnya seperti wajah cemberut, menutup pintu dengan keras, meskipun tidak disebutkan di dalam Al-Quran juga sama hukumnya dengan mengucapkan "ah".

Meskipun tidak menyakiti secara jasmani, kalimat "ah", jika keluar dari mulut anak, akan terasa sangat menyedihkan bagi orang tua. Seperti belati yang ditusukan ke dalam dada.

Orang tua selama hidupnya sangat ingin membahagiakan anaknya. Mereka tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Seandainya tubuh mereka masih kuat dan sehat, mereka bahkan dengan senang hati ingin meringankan beban kehidupan anaknya. Kondisilah yang membuat mereka harus dirawat oleh anak-anak. Merepotkan saja sudah membuat mereka sedih, apalagi jika melihat melihat ekspresi "ah".

Merawat orang tua adalah hal yang berat. Meskipun berat, jika bisa dilakukan dengan wajah yang tersenyum ceria, akan memberikan pahala yang luar biasa. Senyum di wajah anak akan membuat orang tua yang merasa sedih karena merasa merepotkan, berkurang sedihnya. Itulah sebabnya banyak orang yang menjadi istimewa dan perbincangan di langit karena baktinya kepada orang tua.

Uwais al Qorni, adalah orang yang sangat istimewa. Umar bin Khattab berkata:
Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Uwais bukanlah panglima perang yang sangat hebat di medan perang. Uwais juga bukan hartawan yang kaya dan menyelamatkan banyak fakir miskin. Nabi Muhammad SAW justru menggarisbawahi peran Uwais yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun, perannya yang "sederhana" tersebut mampu membuat langit terbuka jika ia mengangkat tangan dan berdoa.

Merawat orang tua yang sangat lemah merupakan peluang sekaligus ancaman. Peluang karena ada ridho yang sangat besar dari Allah SWT bagi yang mampu melaksanakannya dengan baik. Namun, jika perawatan yang dilakukan menimbulkan perasaan sakit hati bagi orang tua, ada risiko murka Allah SWT di baliknya.

Meskipun merawat orang tua adalah hal yang berat, seorang anak akan sulit membalas jasa orang tuanya. Ini tergambar dalam hadits:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang anak tidak akan bisa membalas (jasa) bapaknya kecuali jika ia menemukannya dalam sebagai budak lalu membelinya dan memerdekakannya." (HR. Muslim)

Ada yang mengatakan bahwa anak tidak akan sanggup membalas jasa orang tua karena perbedaan yang ada di dalam perasaannya. Orang tua yang merawat anaknya, di dalam hatinya ada perasaan "nyaman". Sedangkan anak yang merawat orang tua, di dalam hatinya ada perasaan "tidak nyaman"

Pepatah berkata, "Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah". Ibu merawat anaknya dengan air mata bahagia. Anak merawat ibunya dengan air mata kelelahan. Dua air mata yang berbeda.

*Wallahu a'lam bishshowab*

1 komentar

  1. Barakallahu fikk Ustadz kisahnya sangat menginspiratif

    BalasHapus
Translate