UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Seberapa Dalam Pemahaman Anda?

   


Sepulang kerja, penulis pergi ke dokter gigi. Beberapa hari sebelumnya dokter gigi telah melakukan tindakan terhadap gigi penulis dan akan dilakukan proses selanjutnya. Sebelum diambil tindakan, asisten dokter mengukur tekanan darah penulis.

Ternyata tekanan darah penulis dalam keadaan tinggi. Dokter gigi mengatakan bahwa tindakan belum bisa dilakukan. Penulis mengatakan bahwa penulis tidak merasa pusing atau tanda-tanda yang menunjukkan sedang dalam kondisi darah tinggi.

Dokter kemudian menyuruh penulis jalan-jalan sebentar agar lebih rileks. Bisa jadi tekanan darah tinggi karena pengaruh stres setelah pulang kerja. Stres bisa menimbulkan hormon yang memicu tekanan darah. Penulis kemudian jalan-jalan di sekeliling klinik sambil berusaha menikmati suasana. Setelah berjalan-jalan beberapa lama, tekanan darah penulis menurun dan tindakan atas gigi dapat dilakukan.

Terkadang manusia membutuhkan alat bantu untuk mengukur tingkat sesuatu. Meskipun penulis merasa "baik-baik saja" dan tidak mengalami hipertensi, ternyata alat pengukur tekanan darah menyatakan sebaliknya. Meskipun pengukuran diulang kembali, tensimeter yang digunakan tetap menyatakan tingginya tekanan darah penulis.

Manusia membutuhkan jam untuk mengukur waktu, meteran untuk mengukur panjang, timbangan untuk mengukur berat, dan alat-alat lainnya. Penggunaan "perasaan" tidak dapat dengan akurat untuk mengukur sesuatu karena bersifat relatif.

Seperti seorang istri yang mengatakan kepada suaminya bahwa ia akan berdandan "sebentar" sebelum mereka berangkat ke pesta. Sang istri merasa ia sudah buru-buru, tetapi wajah suami tampak masam karena merasa istrinya berdandan terlalu lama.

─░stri merasa ia hanya sebentar berdandan. Bagi suami janji "sebentar" itu telah dilanggar. Karena tidak menggunakan alat ukur dalam satuan waktu, perasaan yang bersifat relatif tersebut memberikan hasil yang berbeda.

Seandainya istri mengatakan ia akan berdandan selama "sepuluh menit" maka keduanya bisa mengukur lebih akurat dengan jam. Mereka tidak bisa lagi beralasan dengan menggunakan perasaan karena sudah ada satuan hitung untuk mengukurnya. Perasaan istri yang menurutnya "sebentar" bisa dibantah oleh suami dengan jam yang menunjukan waktu lebih dari sepuluh menit. Jika ternyata jam menunjukkan hanya sembilan menit, berarti suaminyalah yang sebenarnya salah dan tidak sabar.

Alat ukur adalah hal yang penting karena manusia tidak bisa mengandalkan perasaan atau ingatan saja. Itulah sebabnya pilot pesawat di dalam kokpit selalu mengawasi Altimeter, Attitude Indicator, Airspeed Indicator, Turn Indicator, Course Deviation Indicator, dan alat-alat indikator lainnya untuk memastikan bahwa pesawat terbang dengan benar. Betapa bahayanya jika pilot hanya mengandalkan perasaannya saja.

Saat penulis masih sekolah, di dalam rapot sekolah dicantumkan nilai rata-rata kelas. Nilai rata-rata kelas ini menjadi ukuran untuk menentukan apakah murid termasuk anak yang pintar di sekolah atau tertinggal dibandingkan teman-temannya. Seorang murid yang hanya mendapat nilai tujuh puluh akan dianggap pintar jika nilai rata-rata kelas hanya enam puluh. Artinya hampir semua anak nilainya mendekati angka enam puluh.

Orang tua bisa menilai tingkat pemahaman anaknya dibandingkan teman-temannya di sekolah dengan adanya nila rata-rata kelas. Meskipun anaknya mengatakan bahwa ia adalah anak terpintar di kelasnya dalam ilmu matematika, orang tuanya tidak akan percaya jika ternyata nilai matematika anaknya di bawah nilai rata-rata kelas. Meskipun setiap kali ulangan matematika anaknya delapan puluh lima, jika nilai rata-rata kelasnya sembilan puluh, sulit bagi orang tuanya mempercayainya. Bagaimana paling pintar jika hampir semua temannya mendapat nilai sembilan puluh sedangkan ia hanya mendapat nilai delapan puluh lima.

Pentingnya memiliki ukuran agar bisa mengetahui tingkat kemajuan sangat dibutuhkan. Lalu bagaimana caranya bagi seseorang untuk mengukur seberapa dalam pemahaman agamanya? Allah SWT mengatakan bahwa orang yang memiliki pengetahuan tidak akan bisa disamakan dengan orang yang kurang pengetahuannya. 
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar ayat 9)
Para ulama telah menyusun beberapa kitab yang bisa dijadikan standar ukuran bagi seseorang untuk menguji pemahaman agamanya. Kitab-kitab yang cukup ringkas yang memuat pokok-pokok dalam agama. Jika seseorang telah membaca dan memahami kitab yang menjadi ukuran tersebut, tentu bisa dikatakan bahwa ia telah memahami agama dengan baik.

Lalu kitab mana yang sebaiknya dijadikan ukuran? Pada dasarnya semua kitab yang disusun oleh para ulama yang merupakan ahlu sunnah wal jamaah dapat dipilih sebagai ukuran. Para ulama menyusun kitab-kitab berdasarkan Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Kitab disusun dengan dikelompokkan berdasarkan bab-bab atau pasal-pasal yang memiliki tema yang sama agar mudah difahami. Setiap orang boleh memilih kitab yang ia sukai untuk memperdalam dan mengukur pemahaman agamanya.

Seperti halnya untuk mengukur temperatur tubuh, setiap orang boleh memilih menggunakan termometer yang telah diakui secara internasional. Di antaranya adalah Celsius, Reamur, atau Fahrenheit. Di Indonesia umumnya termometer yang lebih banyak digunakan adalah skala Celsius. Tentu lebih nyaman jika termometer yang tersedia di rumah-rumah adalah termometer Celsius. Bayangkan jika ada seorang ibu berkata kepada dokter, “Dok, suhu badan anak saya 99 derajat Fahrenheit.” Tentu dokternya akan pusing dan mengambil kalkulator lebih dahulu untuk mengkonversikannya ke Celsius.

Salah satu kitab yang terkenal dan banyak dimiliki oleh masyarakat di Indonesia adalah kitab Riyadhush Shalihin yang disusun oleh Imam Nawawi. Kitab ini diakui kualitasnya oleh para ulama. Kitab ini meskipun ringkas namun isinya cukup lengkap. Hadits-hadits yang digunakan juga telah teruji keshahihannya. Kitab yang sangat laris dan banyak dijual di toko-toko buku. Kitab ini juga sangat mudah untuk didapatkan dan didownload dalam bentuk elektronik secara gratis. Ada yang berbentuk file PDF atau dalam bentuk aplikasi tersendiri.

Kemudahan dalam mendapatkannya serta kepraktisan dalam memahaminya membuat kitab Riyadush Shalihin menjadi salah satu kitab favorit yang sering dijadikan panduan untuk mempelajari adab dan akhlak dalam Islam. Kitab ini juga banyak terdapat di rak atau lemari masjid dan mushola di Indonesia. Banyak masjid-masjid yang menyelenggarakan ta’lim rutin yang mengupas kitab Riyadhush Shalihin.

Untuk menguji pemahaman tentang Islam terkait adab dan akhlak dimulai dengan membaca kitab yang akan dijadikan ukuran. Jika hampir seluruh isi kitab tersebut telah difahami, maka itu menunjukkan bahwa pemahaman Islamnya telah cukup baik. Jika cukup banyak pasal-pasal yang belum difahami, maka ini menjadi indikator bahwa pemahaman Islamnya masih belum cukup.

Ketika seseorang telah berusaha mengukur pemahaman agama dengan sebuah kitab dan mendapati bahwa pemahamannya masih belum cukup, ia harus berusaha menaikkan kelasnya. Ia harus berusaha memahami dan mencoba mengamalkannya agar lebih faham. Jika mengalami kesulitan, ia perlu mendatangi ustadz-ustadz atau ta’lim-ta’lim yang membahas kitab yang menjadi ukuran.

Menaikkan pemahaman Islam dengan mengacu pada sebuah kitab tentu tidak cukup dengan hanya sekali membacanya. Perlu dikaji berulangkali sehingga mampu menguasainya dengan baik. Setelah selesai dengan satu kitab, barulah dilanjutkan dengan belajar kitab lainnya. Begitulah para ulama dalam belajar. Mereka berusaha meng-khatamkan satu kitab dengan baik, baru beralih ke kitab-kitab berikutnya. Bagi orang awam, mempelajari dan menguasai satu kitab saja tentu sudah cukup bagus.

Seberapa dalam pemahaman agama Anda? Sudah siap untuk diuji? Mari kita buka Bab pertama.

Wallahu a'lam bishshowab

1 komentar

Translate