UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Setelah Mengenal Tuhan, Semua Terlihat Berbeda.

  

Suatu hari, saat acara buka puasa bersama, penulis bertemu guru penulis yang lama tidak bertemu semenjak beliau mutasi ke unit kantor lain. Penulis bertanya, "Seperti apa orang yg sudah mengenal Allah itu?"

Beliau menjawab, "Dunia terasa hambar." Saat belum mengenal Tuhan, dunia begitu indah dan mempesona. Itu sebabnya bagi orang yang belum mengenal (ma'rifat) kepada Tuhan, banyak yang tergoda dan terpedaya dunia. Menjadikan dunia sebagai tujuan utama dalam hidupnya.

Saat seseorang sudah mengetahui Jalal (Keagungan) dan Jamal (Keindahan) Tuhan, dunia tidak lagi terlihat hebat. Saat seseorang sudah mengenal dan mencintai Tuhan, ia akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Keagungan, kedahsyatan, dan perasaan kedekatan berkombinasi begitu indah dan mengharukan.

Mengenal Tuhan yang Maha segala-galanya akan membuat dunia terasa kecil dan remeh. Kalau diperumpamakan, seseorang yang sudah bertemu wanita yang paling cantik di dunia, ia akan menganggap wanita yang paling cantik di kampungnya tidak lagi cantik. Bahkan terlihat jelek.

Merasakan Sensasi Keindahan AyatNya

Seseorang yang sudah ma'rifat dan mengetahui Jalal dan Jamal Allah SWT akan merasakan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan dari kenikmatan dunia. Jangankan keindahan dan keagungan Allah SWT, merasakan sensasi keindahan ayat-ayatNya di dalam Al-Quran saja sudah bisa membuat seseorang terhentak.

Memang tidak semua orang bisa merasakan ketinggian dan keindahan Al-Quran. Sebagian terhalang masalah bahasa dan pengetahuan tentang sastra. Namun, bagi mereka yang dibukakan hatinya oleh Allah SWT akan menemukan kedalaman makna ayat-ayatNya.

Ada yang diguncang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Al-Quran. Di antaranya adalah Jubair bin Muth’im yang mendengar ayat berikut:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) "(QS. Ath-Thur ayat 35)
Jika tidak ada Tuhan, mungkinkah alam semesta ada? Mungkinkah suatu yang wujud diciptakan oleh sesuatu yang tidak wujud? Mungkinkah sesuatu yang tidak ada bisa menciptakan sesuatu yang ada? Pertanyaan yang menampar mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan membuat Jubair bin Muth'im menyerah dan mengakui kebenaran Al-Quran.

Ada juga yang bertobat dan berhenti melakukan kejahatan akibat pertanyaan di dalam Al-Quran. Ini dialami oleh Fudhail bin Iyadh, seorang penjahat besar yang sangat kejam. Di saat akan melakukan kejahatan, tiba-tiba Fudhail bin Iyadh mendengar ayat berikut:
"Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an)..." (QS. Al-Hadid ayat 16)
Pertanyaan tersebut seakan-akan ditujukan langsung kepada dirinya yang ingin melakukan kejahatan. Fudhail bin Iyadh secara reflek menjawab, "Tentu saja wahai Tuhanku, sungguh telah tiba saatnya." Ia bertobat dan menjadi salah satu tokoh ulama sufi.

Banyaknya orang yang masuk Islam karena Al-Quran membuat kafir Quraisy menghalangi para pendatang mendengar Al-Quran. Saat Thufail bin Amru ad-Dausi berkunjung ke Mekkah, para pembesar kafir Quraisy menghasutnya agar jangan mendengar ucapan Nabi Muhammad SAW. Thufail,  kepala kabilah Daus sekaligus seorang ahli syair, kemudian menutup telinganya dengan kapas. Khawatir terkena sihir Al-Quran.

Setelah beberapa saat, Thufail berpikir, “Celaka?! Demi Allah, aku adalah penyair yang cerdas. Tidak sulit bagiku untuk membedakan ungkapan yang indah dan biasa. Tidak ada alasan yang bisa menghalangiku untuk mendengarkan Muhammad. Jika indah aku akan menerimanya. Dan jika tidak, aku akan meninggalkannya”.

Thufail membuka sumbat telinganya dan mendengarkan Al-Quran. Kedahsyatan kalimat-kalimat Al-Quran membuat Thufail terkejut dan meyakini bahwa ini adalah kalimat-kalimat yang berasal dari Tuhan. Ia kemudian menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang menyukai syair dan memiliki pengetahuan tentang sastra yang tinggi. Sebelum ayat Al-Quran diturunkan, banyak syair dan puisi yang ditempelkan di dinding Kakbah. Para penyair sangat bangga jika syair mereka di pajang di Kakbah.

Setelah Nabi Muhammad SAW diutus dan turun ayat Al-Quran, ada seseorang yang menempelkan ayat Al-Quran di dinding Kakbah. Keindahan dan ketinggian ayat Al-Quran membuat suasana berubah. Syair-syair yang sebelumnya dirasakan indah, menjadi terlihat buruk ketika bersanding dengan ayat Al-Quran. Karena malu, syair-syair tersebut dilepas oleh para penyairnya. Setelah disandingkan dengan ayat Al-Quran, kalimat para penyair menjadi terasa hambar.

Jika mengetahui rahasia yang ada pada ayat-ayat Allah saja bisa berefek dahsyat, bagaimana dengan orang yang mengetahui rahasia Allah SWT. Bagaimana kondisi para Wali Allah yang telah mengenalNya? Mereka hidup dengan penuh kegembiraan. Mereka merasakan kebahagiaan meskipun terlihat berada di dalam keheningan.

Saat mendengar keindahan kota Paris, banyak orang yang ingin pergi ke sana. Saat mendengar keseruan naik balon udara di Cappadocia Turki, banyak yang ingin mencobanya. Saat mendengar Pizza Italia yang renyah kulitnya tetapi lembut dalamnya, banyak yang ingin merasakannya. Namun, semua pesona tersebut akan terasa hambar bagi yang sudah mengenal Tuhan. Anda tidak ingin mencobanya?

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Translate