Prof. Fathul Wahid, Rektor UII, memiliki kebiasaan unik saat menandatangani ijazah. Setiap menandatangani ijazah, beliau menggunakan kesempatan untuk mendoakan mahasiswa yang namanya tertera di dalam ijazah.
Kebiasaan mendoakan setiap nama mahasiswa membuat Prof. Fathul Wahid tidak mau ijazah yang dikeluarkan ditandatangani secara digital. Ia tetap konsisten menggunakan tanda tangan basah di setiap ijazah.
Prof. Fathul Wahid menjabat sebagai rektor selama dua periode. Jumlah mahasiswa yang lulus pada periode tersebut lebih dari dua ratus ribu mahasiswa. Artinya beliau telah berdoa untuk mahasiswa minimal dua ratus ribu kali.
Ada seorang pengajar yang terkesan dengan kebiasaaan Prof. Fathul Wahid. Ia meniru kebiasaannya. Ia mengatakan bahwa setiap menginput nilai, ia mendoakan nama anak yang sedang diinput dengan doa, "Ya Allah, mudahkan urusan anak ini, berkahi ilmunya, kabulkan cita-citanya, dan jadikan anak ini pribadi yang bermanfaat."
Dari momen menandatangani ijazah saja, Prof. Fathul Wahid telah mendapatkan kesempatan berdoa sebanyak dua ratus ribu kali. Itu belum multiplier efek akibat adanya orang-orang yang meniru kebiasaannya.
Orang-orang yang memiliki karakter yang baik hatinya dan penuh rasa cinta seperti Prof. Fathul Wahid tentu banyak. Namun mereka tidak berdoa sebanyak yang Prof. Fathul Wahid lakukan.
Titik perbedaannya adalah mereka tidak memasang tanda pengingat atau alarm sebagaimana yang dilakukan Prof. Fathul Wahid. "Menandatangani ijazah" adalah alarm yang dibuat oleh Prof. Wahid untuk mendoakan mahasiswanya. Alarm ini menjadi pengingat yang mencegah terlewatnya momen sehingga hilang begitu saja.
Di dalam beberapa kajian kitab, ada tradisi membaca surah Al-Fatihah yang pahalanya diniatkan untuk diberikan kepada pengarang kitab sebelum kajian. Ada perbedaan pendapat terkait sampai tidaknya pahala. Untuk pahala sedekah, haji, membayar utang, doa, dan beberapa amal lain, ulama sepakat bisa diberikan kepada orang lain. Namun, untuk pahala membaca Al-Quran, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Terlepas dari perbedaan pendapat, tradisi membaca Al-Quran yang pahalanya diberikan kepada pengarang kitab adalah alarm yang dibuat untuk membalas jasa pengarang kitab. Momen kajian kitab dijadikan alarm untuk mendoakan dan menambah pahala pengarangnya. Kapan lagi teringat untuk mendoakan mereka?
Teknik menjadikan kegiatan sebagai alarm untuk melakukan sesuatu adalah hal yang lazim diajarkan dalam Islam. Saat bangun tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, makan, melihat cermin, bepergian, naik kendaraan, bekerja, ke masjid, dan lain-lain sampai dengan tidur kembali, ada doa-doa yang diajarkan untuk dibaca.
Sayangnya, banyak yang tidak menjadikan kegiatan tersebut sebagai alarm untuk berdoa. Banyak doa yang begitu indah terlewatkan. Lihatlah doa bercermin, selain pernyataan bersyukur, ada terselip permintaan agar memiliki akhlak yang baik. Lihatlah doa makan, selain permintaan keberkahan rejeki, ada terselip permintaan perlindungan dari api neraka.
Dengan asumsi sehari makan tiga kali, seseorang yang membaca doa makan, minimal dalam setahun telah meminta perlindungan dari neraka sebanyak seribu kali. Itu belum termasuk makan makanan ringan atau minum kopi di waktu santai. Dalam beberapa puluh tahun, berapa puluh ribu doa yang terucap.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa sebelum tidur. Khusus untuk yang ingin mendapatkan kebaikan yang banyak, Nabi mengajarkan tambahan sebelum tidur untuk berwudhu, membaca ayat kursi, membaca Surah Al-Ikhlas; Al-Falaq; An-Naas, membaca takbir; tasbih; tahmid, beristighfar, bersholawat, dan membaca Surah Al-Ikhlas 3 kali. Bayangkan, tidur saja bisa dijadikan alarm pengingat bermacam-macam amal.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab ayat 41)Perintah memperbanyak zikir membuat para ulama mengajarkan kumpulan zikir (wirid) yang disusun sedemikian rupa agar murid-muridnya menjadi banyak berzikir. Penyusunan wirid ini merupakan tanda pengingat berupa alarm yang dilakukan secara harian.
Wirid dibaca setiap hari dan disusun secara sistematis. Disusun dengan jumlah minimal yang ditentukan agar memenuhi standar yang diharapkan. Misalnya membaca istighfar seratus kali, dilanjutkan dengan sholawat seratus kali, dan tahlil seratus kali. Dengan susunan yang sudah ditentukan, murid akan lebih mudah mengingatnya dan tidak terlewatkan.
Wirid ini mengambil keutamaan zikir atau ayat yang disampaikan dari hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Karena berasal dari hadits yang terpisah-pisah, wajar saja wirid yang diajarkan di antara ulama ada perbedaan susunan dan jenisnya.
Lalu kenapa ada wirid yang bebas dilakukan oleh semua orang dan ada wirid yang sebaiknya mengambil ijazah dari Mursyid? Kenapa ada wirid yang seakan-akan pengamalannya harus di bawah pengawasan?
Di dunia farmasi ada obat bebas (lingkaran hijau) yang bisa dikonsumsi tanpa resep dokter. Ada yang penggunaannya terbatas (lingkaran biru). Ada obat keras (lingkaran merah) yang selain harus dengan resep dokter, penggunaannya harus diawasi oleh tenaga medis karena berisiko jika diremehkan.
Biasanya pasien tidak banyak bertanya aturan yang sudah ditentukan. Kenapa minum obatnya harus sesudah makan? Kenapa harus dihabiskan? Kenapa harus tiga kali sehari dan tidak boleh sekaligus? Pasien tahu bahwa dokter lebih tahu.
Jika di dalam obat ada aturan, demikian juga dengan zikir. Ada zikir yang secara dosis memiliki efek sangat kuat. Biasanya zikir yang khusus sejenis ini mengandung Ismul A'dzhom (nama Allah yang Agung). Oleh karenanya tidak layak untuk diremehkan tanpa penghormatan yang sepantasnya.
Nabi Muhammad SAW memberikan zikir yang khusus hanya melalui Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Tentu ada alasannya kenapa Nabi Muhammad SAW memberikan sanad zikir khusus hanya melalui jalur mereka berdua. Sebagaimana obat keras yang tidak boleh diremehkan dan hanya boleh diresepkan oleh dokter yang ahli.
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar