UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Matikan Dirimu Sebelum Mati



Salah satu penyakit yang bisa menghalangi manusia mengenal dan mencintai Allah SWT adalah kuatnya cinta terhadap dunia. Semakin kuat cinta kepada dunia, maka hidupnya akan semakin gelisah. Padahal kunci untuk mengenal Allah SWT adalah ketenangan jiwa.

Cinta yang kuat terhadap dunia membuat manusia diperbudak dunia. Bersedia melakukan apa saja untuk mengejar harta , pangkat, dan segala perhiasan dunia.

Rasa tidak puas dengan dunia yang ada atau takut kehilangan dunia membuat manusia gelisah. Gelisah saat mengejar harta yang belum juga berhasil didapatkan. Saat harta sudah berada di tangan, mereka juga gelisah karena takut kehilangan.

Mereka yang mengejar ketenaran dan kehormatan akan gelisah saat tidak mendapat perhatian. Ketika mendapatkan kemasyhuran, hatinya gelisah akan ada hal yang bisa merusak reputasinya. Satu kritikan di media sosial bisa membuat mereka tidak dapat tidur pulas.

Meminimalisir Cinta kepada Dunia

Di dunia sufi, salah satu metode untuk menghilangkan penyakit cinta dunia adalah mematikan diri sebelum mati. Mematikan diri efektif dalam menghapus rasa gelisah dan menimbulkan rasa tenang (muthmainah). Ketenangan yang mempermudah jalan untuk mencintai Tuhan.

Islam menganjurkan untuk banyak mengingat kematian. Mengingat kematian dapat menyadarkan seseorang bahwa dunia hanyalah tempat sementara.

Manusia harus meneruskan perjalanan setelah misi hidup di dunia terselesaikan. Dunia yang indah bisa membuat manusia lupa bahwa ada tugas yang harus diselesaikan selama hidup di dunia.

Nabi Muhammad SAW menyuruh mengingat kematian dalam sabdanya:
Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian). (HR. Tirmidzi)
Saat ditanya ciri-ciri orang yang cerdas, Nabi menjawab:
Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas. (HR. Ibnu Majah)
Di dalam Al-Quran manusia diingatkan bahwa jika ajal telah tiba, manusia tidak dapat menolaknya.
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Munafiqun ayat 11)
Mengingat kematian sangat penting karena memberikan efek merubah sudut pandang. Sungguh jauh gaya hidup orang yang merasa akan hidup selamanya dengan orang yang merasa bahwa hidupnya dapat berakhir kapan saja.

Mematikan Diri untuk Mendidik Jiwa

Konsep di dalam tasawuf untuk mematikan diri sebelum mati bukan hanya sekedar mengingat kematian. Ini adalah proses pendidikan jiwa untuk merasakan diri telah mati. Tentu efeknya lebih dahsyat daripada hanya sekedar mengingat kematian.

Salah satu ulama sufi yang mengajarkan metode mematikan diri sebelum mati adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau berkata, “Wahai hamba Allah, sadarilah bahwa engkau hanya sebatas diberi harapan. Maka, jauhilah segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla dengan kalbumu sehingga engkau dapat dekat kepada-Nya. Matilah engkau sebelum mati. Matilah engkau dari dirimu dan makhluk. Sungguh telah diangkat berbagai hijab dari dirimu dan Allah Azza wa Jalla.”

Implementasi dari mematikan diri sebelum mati dapat dilakukan dalam beberapa cara. Beberapa ulama menjelaskan arti-arti dari mematikan diri sebelum mati.

Buya Arrazy Hasyim saat menjelaskan konsep mematikan diri berkata, “Kita diperintah untuk mati dari hawa nafsu, dari tabiat buruk, dari pengharapan pada selain Allah SWT. Mematikan jiwa dari hal-hal tersebut akan membuat kita sadar atas fananya kehidupan dunia sekaligus bersiap untuk menghadapi kematian hakiki.”

Sebenarnya dengan banyak mengingat kematian, nafsu yang sifatnya dunia otomatis akan hilang dan berganti dengan nafsu yang sifatnya akhirat. Seseorang yang bersemangat mengejar dunia akan berubah menjadi bersemangat mengejar akhirat jika merasakan kematian pasti tiba.

Saat merasa hidupnya akan lama di dunia, seseorang bersemangat mengumpulkan harta untuk mendapat kenikmatan dunia. Saat merasa hidup akan berujung kematian, ia bersemangat mengumpulkan harta untuk mempersiapkan akhiratnya. Sama-sama bersemangat mengumpulkan harta, namun berbeda tujuan.

Mnghilangkan Ke-aku-an dengan Mematikan Diri

Mematikan diri sebelum mati juga bisa diartikan merasakan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua yang dilakukan itu atas seijin Tuhan. Manusia tidak bisa melihat, mendengar, berpikir, bahkan bergerak kecuali atas seijin Tuhan. Konsep ini dirangkum dalam kalimat "Laa haula wa laa quwwata illa billah (tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah)."

Menganggap diri mati dan tidak memiliki kepintaran, kekuatan, dan kekayaan akan membuat hilangnya rasa sombong dan takabur. Meskipun ia kaya raya, ia tidak memandang rendah orang yang miskin. Ia kaya karena Allah yang memberinya amanah kekayaan. Ia yakin bahwa jika Allah menghendaki, bisa saja esok ia menjadi miskin dan si miskin menjadi kaya.

Arti lain dari mematikan diri sebelum mati adalah merasakan bahwa jasad adalah benda mati. Yang hidup adalah ruh yang ada di dalam jasad. Saat ruh telah pergi dari jasad, jasad tidak akan sanggup bergerak sama sekali.

Saat berada di alam ruh, manusia berjanji mengakui Allah SWT sebagai Rab. Saat Allah SWT berfirman, "Alastu birobbikum? (bukankah Aku Tuhanmu?)." Ruh manusia menjawab, "Bala syahidna."

Saat ruh telah ditiupkan ke dalam jasad, sesungguhnya ruh yang merupakan "diri sebenarnya" lah yang harus beribadah kepada Tuhan. Saat mengerjakan sholat, ruh harus hadir menghadap Allah SWT. Bukan hanya jasadnya saja.

Konsep ini membuat ibadah lebih khusyuk karena berusaha menghadirkan jiwa dan perasaan saat beribadah. Mata jasad memang tidak bisa melihat Allah SWT. Tetapi ruh yang dulu telah berbicara kepada Allah SWT, bisa merasakan adanya Allah SWT. Itu sebabnya muncul rasa nikmat saat sedang sholat.

Meyakini bahwa jasad hanyalah benda mati membuat seseorang akan berusaha menghadirkan jiwa dan perasaannya saat berhadapan dengan Allah SWT. Sungguh tidak sopan jika sholat hanya menghadapkan jasad tanpa kehadiran "diri"nya yang sebenarnya.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

Translate