Di dalam salah satu ceramahnya Gus Baha membahas tentang guru-guru yang mempermasalahkan gaji mereka. Sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Namun, Gus Baha mempersoalkan jiwa mengajar yang seharusnya ada dalam diri guru. Jiwa mendidik yang saat ini sudah sulit ditemukan.
Bagi Gus Baha, guru yang menimbang-nimbang penghasilan yang diterimanya lebih fokus untuk mencari pekerjaan bukan ingin mengajar. Gus Baha mengatakan bahwa mereka sebenarnya "bekerja" bukan "mengajar". Tidak berbeda dengan pekerja di bidang-bidang lainnya. Bagi pekerja, tentu wajar menuntut upah sesuai beban kerja.
Bagi mereka yang benar-benar ingin mengajar, obsesi terkuatnya adalah ingin mendidik dan mencerdaskan murid-muridnya. Guru-guru di zaman dahulu banyak yang justru memberikan nafkah kepada murid-muridnya.
Gus Baha memberikan contoh-contoh Kiai yang menafkahi murid-muridnya yang kekurangan. Mereka membantu murid-murid yang kesulitan memenuhi kebutuhannya.
Penulis juga pernah mendengar cerita tentang Syeikh Sulaiman yang membayar muridnya agar mau belajar. Saking sulitnya mencari murid yang mau belajar agama di masa sekuler zaman Mustapa Kamal Ataturk berkuasa di Turki. Beberapa muridnya berasal dari para buruh harian.
Beliau bertanya berapa upah harian yang mereka terima dalam satu hari bekerja. Beliau kemudian menawarkan uang lebih banyak asalkan mereka mau belajar.
Guru Sekumpul menjelaskan bagaimana prilaku para Tuan Guru saat santri-santrinya datang ke rumah. Para Tuan Guru selalu menjamu makan para santrinya. Datang ke rumah tuan guru identik dengan acara makan-makan.
Setiap kali bersalaman dengan santri, selalu terselip di tangan para Tuan Guru amplop yang berisi uang untuk jajan santri-santrinya.
Ulama adalah Pewaris para Nabi
Para guru sejati mengikuti jejak para Nabi yang menghabiskan hidupnya untuk mengajar. Mereka adalah pewaris para Nabi.
Keikhlasan para guru membuat mereka mendapat penghargaan yang tinggi. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lobangnya sampai ikanpun berdo’a bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. (HR. At Tirmidzi)
Jika para dermawan bersemangat bersedekah dengan hartanya. Para guru sejati bersedekah dengan ilmunya. Nabi bersabda:
Sebaik-baik sedekah adalah seseorang muslim belajar ilmu, kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim. (HR. Ibnu Majah)
Keikhlasan para guru dalam mengajar membuat mereka mendapatkan doa-doa ampunan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya orang yang memahami ilmu agama dan mengajarkannya kepada manusia akan selalu dimohonkan ampunan dosa-dosanya oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan (HR. Abu Daud)
Berbakti dan Mencintai Guru
Ulama menjelaskan bahwa selain berbakti kepada orang tua, berbakti kepada guru juga memberikan keberkahan. Jika orang tua memberikan nafkah kebutuhan jasmani, guru memberikan nafkah berupa ilmu. Pada dasarnya guru adalah orang tua juga bagi murid-muridnya.
Saat orang tua meninggal, ia akan mendapat pahala jariyah berupa doa dari anaknya. Demikian juga dengan guru. Ia akan mendapat pahala jariyah dari muridnya berupa pengamalan ilmu yang diajarkan.
Mendapat guru yang ikhlas dan berkompenten adalah hal yang urgen. Apalagi untuk ilmu-ilmu yang sangat penting. Semakin penting tema yang dibahas, maka semakin penting ilmu tersebut.
Hal terpenting di dalam kehidupan manusia adalah Tuhan. Oleh karena itu, ilmu tentang Tuhan atau ma'rifatullah adalah ilmu yang paling penting. Merupakan keberuntungan yang besar bagi murid bertemu guru yang merupakan kekasih Allah SWT.
Guru yang bersih hatinya akan membuat muridnya pun memiliki hati yang bersih. Guru yang menguasai ilmu ma'rifatullah akan mampu mengantarkan murid-muridnya kepada Allah SWT. Guru-guru yang fokus mengenalkan Allah SWT biasanya disebut guru mursyid.
Guru Sekumpul mengatakan bahwa yang menghijab manusia dari mengenal Allah SWT adalah hawa nafsu. Para guru mursyid biasanya akan berusaha menghancurkan nafsu amarah yang ada pada muridnya agar mereka bisa mengenal Allah SWT.
Nafsu amarah adalah nafsu-nafsu yang merusak. Nafsu-nafsu yang menghilangkan ketenangan sehingga sulit untuk wushul kepada Allah SWT. (baca: https://www.lembarnasihat.com/2026/02/bagaimana-mencapai-ketenangan-mengapa.html?m=1 )
Cara Mendapatkan Guru yang Membimbing kepada Tuhan
Yang menjadi masalah adalah mendapatkan guru yang terkumpul di dalam dirinya keikhlasan dan kompetensi ilmu yang layak bukan hal yang mudah. Menemukan guru yang ikhlas saja sudah sulit, apalagi yang sekaligus menguasai ilmu ma'rifatullah.
Menemukan guru mursyid adalah karunia. Tidak semua orang menemukannya. Sebagaimana harta milik orang-orang kaya. Tidak semua orang memilikinya.
Ada juga yang sebenarnya sudah bertemu dengan guru yang layak. Namun, rasa curiga dan buruk sangkanya membuat ia tidak mampu memahami ilmu yang diajarkan. Hatinya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sulit mencintai gurunya.
Setan berusaha membisikkan rasa was-was kepada murid. Murid dibuat memiliki pikiran buruk kepada gurunya. Padahal cinta kepada guru merupakan kunci dari mudahnya memahami ilmu
Para ulama dahulu saat mereka mencari ilmu, mereka berdoa, “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dari ku.” Mereka menutup celah bisikan was-was dari setan.
Sulitnya mendapatkan guru yang mengantarkan diri untuk mengenal Allah SWT disebabkan karena langka atau karena munculnya was-was dari setan tentu tidak boleh menjadi halangan. Guru Sekumpul memberikan cara agar bisa mendapatkan guru mursyid.
Cara pertama dengan berdoa kepada Allah SWT agar bisa ditemukan dengan guru mursyid yang bisa menghancurkan hijab di dalam hati. Cara kedua, selama belum bertemu guru mursyid, memperbanyak sholawat kepada Nabi.
Menyampaikan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW akan membuat seseorang selalu terbimbing ke jalan petunjuk. Berbakti kepada orang tua dan guru saja membawa keberkahan dan kesuksesan, apalagi berbakti kepada Nabi Muhammad SAW.
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar