UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Pilih Mata Lebah atau Mata Lalat?



Suatu hari penulis membuat kopi untuk menemani penulis membaca. Rasanya baru sebentar membaca, tanpa penulis sadari, tahu-tahu minuman kopi yang penulis buat sudah dikerumuni semut. Dari mana mereka? Cepat sekali mereka datang.

Semut sangat menyukai hal yang manis seperti gula, tidak heran mereka memiliki kepekaan yang tinggi dengan keberadaan gula. Peribahasa berkata, "Ada Gula ada semut." Jatuhkanlah sesendok gula di ruang tamu, kamar mandi, dapur, halaman, kebun, tidak perlu waktu lama semut akan datang beramai-ramai.

Begitu juga dengan lebah yang menyukai bunga. Ia akan terbang ke sana kemari untuk mencari bunga. Baginya hal-hal yang lain tidak penting kecuali bunga. Sebaliknya bagi lalat. Bunga yang berwarna-warni adalah hal yang tidak menarik. Bahkan ia seperti tidak melihat bunga yang indah tersebut.

Lalat akan terus terbang melewati kebun bunga yang menebarkan harum semerbak. Aroma bunga yang sangat menggoda lebah jangan-jangan malah membuat mual lalat. Lalat terus mencari bau busuk yang sangat ia inginkan. Baginya sampah dan bangkai lebih menarik daripada bunga.

Kepekaan lebah terhadap bunga dan kepekaan lalat terhadap sampah disebabkan karena semua fokus terhadap hal yang disukai masing-masing. Konsep perbedaan ini menjadi jawaban atas keanehan yang dirasakan seseorang saat berbincang-bincang dengan Buya Hamka. Buaya Hamka adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama.

Ia mengatakan kepada Buya Hamka bahwa saat ia pergi ke Arab, ia menemukan di sana ada wanita tuna susila. Ia merasa aneh mengapa di lokasi tempat dua masjid yang disucikan ada wanita tuna susila yang beroperasi mencari mangsa. Ada wanita yang menawarkan dirinya dari balik hijab yang menutup rapat tubuhnya.

Buya Hamka memberikan jawaban yang sekilas terdengar aneh. Beliau bercerita bahwa beliau pernah pergi ke kota New York, Amerika Serikat, tetapi tidak menemukan wanita tuna susila di sana.

Tentu saja pernyataan Buya Hamka membuat ragu lawan bicaranya yang mengatakan menemukan wanita tuna susila di Arab. Tidak mungkin, masak tidak ada wanita tuna susila di New York, di Arab saja ada.

Di Arab saja ia bisa menemukan, apalagi di New York yang cara menawarkannya tanpa sembunyi-sembunyi. Kode dan sinyal yang diberikan tentu lebih jelas. Aneh jika Buya Hamka tidak melihat satu pun. Bagaimana mungkin Buya Hamka tidak bisa membedakan wanita biasa dengan wanita tuna susila.

Saat lawan bicaranya menyatakan meragukan cerita Buya Hamka, beliau menjawab, "Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari." Sindiran sekaligus teguran yang sangat keras dari Buya Hamka. Sebagaimana lalat yang bisa menemukan bangkai di kebun bunga atau semut yang bisa menemukan gula di mana pun berada.

Secara logika, orang yang sengaja mencari-cari sesuatu, ia akan lebih sering bertemu dengan sesuatu yang dicarinya. Ia lebih peka dengan sesuatu yang memang dicarinya.

Misalnya, ada orang yang diminta menjemput tamu di terminal dengan ciri-ciri memakai baju berwarna merah. Ia akan menemukan hari itu banyak yang berbaju merah. Karena perhatiannya fokus dengan warna merah dan tidak memperdulikan warna lainnya, ia menjadi peka dengan warna merah.

Begitu juga dengan seseorang yang ingin bergaul dengan orang baik dan berusaha mencari-cari orang baik. Ia seperti dimudahkan dan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Kepekaan dan fokus perhatian yang membuat ia seperti beruntung selalu bertemu dengan orang baik.

Selain masalah kepekaan, kesamaan frekuensi bisa membuat seseorang saling mendekat. Ketika sudah berdekatan, rasa akrab akan muncul dan lebih mudah untuk berinteraksi. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah. (HR. Muslim)
Di dalam dunia ilmu pengembangan diri, ada konsep Law of Attraction atau hukum tarik-menarik. Konsep ini menjelaskan bahwa pikiran yang positif akan menarik energi-energi positif. Sebaliknya pikiran negatif akan membuat hal-hal yang negatif akan berdatangan.

BIsa jadi berdatangannya sahabat-sahabat yang baik disebabkan karena adanya keinginan seseorang yang kuat untuk menjadi orang baik. Karena kesabaran seseorang untuk berusaha membersamai orang-orang baik. Allah SWT berfirman:
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi ayat 28)
Saat seseorang selalu berusaha dan bersabar bersama dengan orang-orang yang baik, akan ada interferensi frekuensi. Ketika frekuensinya telah berubah menjadi baik, ia akan semakin mudah ditemukan oleh orang-orang baik lainnya.

Berkumpul dalam komunitas kebaikan tentu akan memperbesar peluang menemukan kebaikan. Seakan-akan dunia ini penuh dengan peluang kebaikan. Bagaimana tidak, hal-hal yang dibicarakan di dalam komunitas tersebut pastilah di sekitar kebaikan. Wajar jika data-data peluang kebaikan akan terpampang dengan jelas.

Seandainya sekumpulan lebah bisa berkumpul dan berbincang-bincang, tentu bahan pembicaraan mereka sekitar bunga, nektar, dan madu. Mereka tidak akan membicarakan bangkai atau sampah karena bukan hal yang menarik.

Sekarang pilihan berada di tangan Anda. Apakah akan duduk di kerumunan lebah dan melihat dunia penuh dengan bunga? Atau memilih duduk bersama lalat yang melihat dunia penuh dengan sampah.

Wallahu a’lam bishshowab

1 komentar

Translate