Dalam suatu perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, penulis bertemu dengan seseorang. Beliau penumpang yang naik dari Banyuwangi. Beliau tinggal di Yogya dan rutin ke Banyuwangi. Perjalanan Yogya - Banyuwangi berkisar sepuluh sampai dua belas jam tergantung rute dan kendaraan yang dipakai.
Melihat usianya yang sudah tujuh puluh tahunan dan jarak Yogya - Banyuwangi bukan jarak yang dekat, penulis menanyakan tujuannya ke Banyuwangi. Ternyata beliau ke Banyuwangi untuk belajar agama kepada gurunya. Penulis yang berusia lebih muda merasa tertampar. Keren sekali semangat yang ditunjukkan beliau.
Di suatu pengajian ba'da subuh di masjid, penulis pernah mendengar ceramah tentang pentingnya belajar agama langsung kepada guru. Belajar kepada guru secara langsung memiliki keutamaan yang tidak didapatkan dengan belajar melalui membaca buku atau menonton tutorial di YouTube.
Ada pelajaran-pelajaran yang tidak bisa dipelajari secara otodidak contohnya adalah membaca Al-Quran. Penceramah menjelaskan bahwa ada beberapa bagian di Al-Quran yang tulisan dan cara membacanya berbeda.
Di antaranya adalah bacaan-bacaan ghorib dan musykilat di dalam Al-Quran seperti Imalah, Isymam, Tashil, Naql, dan lain-lain. Mempelajari bacaan-bacaan ini tanpa bimbingan guru adalah hal yang sulit.
Ada tulisan di dalam Al-Quran yang tulisan bacaannya pendek (tanpa tambahan alif, ya, dan wauw) tapi cara membacanya panjang. Untungnya sekarang ada tanda harokat berupa fathah, kasroh atau dhomah berdiri yang menandakan itu adalah bacaan yang harus dibaca panjang (mad).
Jika tanda harokat dihilangkan, akan banyak orang yang salah dalam membaca Al-Quran. Selain para penghafal Al-Quran, hanya sedikit orang yang bisa membaca Al-Quran tanpa harokat.
Perbedaan tulisan dan cara membaca Al-Quran ini memang menyulitkan. Di sisi lain, kata ustadz tersebut, ini menjadi salah satu bukti keaslian Al-Quran. Tidak ada yang berani merubah cara membaca Al-Quran dari zaman ke zaman. Semua tetap mengikuti cara membaca yang diajarkan secara berantai dari para guru yang bersambung sampai ke Rasulullah SAW.
Perbedaan antara tulisan dan cara membaca Al-Quran membuat seseorang yang ingin belajar membaca Al-Quran dengan kualitas yang baik, wajib bertemu dengan guru. Kondisi ini membuat sanad (sandaran) terus terjaga sampai Nabi Muhammad SAW. Kondisi ini menimbulkan hubungan ikatan keberkahan antara guru dan murid.
Belajar membaca Al-Quran sebaiknya secara talaqqi (secara tatap muka dan langsung berhadapan dengan guru). Dalam metode talaqqi, setiap ayat dipelajari dengan dimulai dari guru yang membacakan. Setelah mendengar dari guru, murid membacanya dengan didengarkan dan dilihat langsung gerak mulutnya oleh guru. Adanya guru akan membuat kekurangan atau kesalahan lebih cepat terdeteksi.
Cara membaca Al-Quran memang bisa dilihat dan didengarkan melalui YouTube. Namun, saat proses mempraktekkan bacaan, YouTube bukan guru yang bisa mengoreksi bacaan. Ia hanya benda mati yang tidak bisa melihat bentuk mulut dan mengukur panjang pendek bacaan
Pentingnya memiliki guru bukan hanya dalam belajar ilmu syariat seperti membaca Al-Quran. Dalam belajar thoriqot, memiliki guru lebih wajib lagi. Ilmu syariat yang merupakan tata cara ibadah lahir saja membutuhkan guru, apalagi dengan ilmu thoriqot yang mempelajari tata cara ibadah hati. Ilmu yang berkaitan dengan hati lebih layak mendapat bimbingan guru.
Bisa jadi seseorang tidak merasa bahwa ia memiliki penyakit sombong, bakhil, hasad, serakah, dendam, dan lain-lain. Penyakit jasmani saja kadang tidak disadari, apalagi penyakit hati. Penyakit jasmani saja membutuhkan dokter untuk menyembuhkan, apalagi penyakit hati dan keyakinan yang lebih sulit lagi mendiagnosa dan menyembuhkannya.
Guru yang ikhlas dan bersih hatinya bisa melihat penyakit di dalam hati yang tidak disadari oleh muridnya. Nabi di dalam hadits menjelaskan tentang firasat mukmin yang melihat dengan cahaya Allah SWT. Itu sebabnya belajar kepada orang-orang yang bersih hatinya lebih utama. Selain mendapatkan ilmu, dengan ketajaman hati, mereka bisa mendeteksi kekurangan muridnya.
Terkadang firasat itu terbaca melalui mimpi yang dialami. Gus Baha mengatakan bahwa mimpi itu lebih jujur dari pada yang ada di dalam pikiran. Pikiran bisa dipengaruhi prasangka dan keinginan sedangkan mimpi tidak bisa dibuat-buat. Itu sebabnya di saat belajar thoriqot, para murid diminta menyetor mimpi yang dialami kepada gurunya.
Terkadang firasat itu muncul melalui kasyaf. Sebagaimana Utsman bin Affan yang menegur seseorang karena melihat bekas dosa zina mata. Tentu saja yang ditegur terkejut sampai bertanya apakah wahyu turun kembali. Utsman mengatakan bahwa itu bukan wahyu melainkan firasat.
Dari sisi keberkahan, seorang murid yang belajar dengan guru akan membentuk ikatan kasih sayang. Guru menyayangi muridnya dan murid pun menghormati dan mencintai gurunya. Ikatan ini akan berlanjut dengan saling mendoakan dan saling memberikan syafaat di hari kiamat kelak.
Ikatan berupa guru dan murid menimbulkan keberkahan sebagaimana ikatan anak dan orangtua. Saat seseorang terjatuh dalam dosa, guru dan murid bisa saling menolong. Ikatan saling mencintai ini tentu tidak akan muncul jika belajar tutorial di YouTube. Begitu selesai belajar, langsung klik tombol tanpa ada perasaan yang timbul.
Adanya guru akan membuat seseorang menjadi lebih termotivasi. Banyak orang yang belajar namun malas untuk mempraktekkan. Tidak ada guru yang menagih dan menanyakan pelaksanaannya.
Guru juga bisa memotivasi seseorang yang mengalami kegagalan. Kegagalan menimbulkan perasaan putus asa. Namun, jika ia bertemu dengan seseorang yang pernah gagal kemudian berhasil melakukannya, maka ia akan lebih termotivasi.
Seorang guru pasti pernah mengalami kesulitan yang sama saat belajar. Namun ia berhasil melaluinya. Karena pernah mengalami hal yang sama, guru bisa menjelaskan faktor kegagalan dan faktor keberhasilannya.
Daripada gagal berkali-kali, lebih baik bertanya kepada seseorang yang pernah gagal dan berhasil melaluinya. Belajar dengan guru lebih cepat daripada belajar mandiri.
Guru yang ikhlas, bisa memberikan motivasi yang kuat untuk beramal. Buya Arrazy dalam suatu ceramah berkata, "Gurumu bukan yang ngasih kamu beban. Siapa gurumu? Walaupun dikasih dzikir tujuh puluh ribu, engkau tidak merasa terbebani. Itu gurumu."
Wallahu a’lam bishshowab



Posting Komentar