UXGwYckfCgmqHszQE5iamiTBKMiIQBNym46UNkvU
Lembar Nasihat

Mengejar Sesuatu yang telah Ditetapkan

  

Penulis membaca undangan pernikahan sahabat penulis. Penulis bertanya karena setahu penulis ia sudah memiliki anak dan istri. Ia menjawab, "Nikah lagi, yang kemarin pisah karena pindah ke Jawa dan nggak mau ikut tinggal di Kalimantan."

Saat penulis bertugas di wilayah tempat tinggalnya, penulis tidak pernah bertemu dengan anak dan istrinya. Istrinya tinggal bersama orang tuanya di Jawa. Memang lokasinya relatif jauh, di perbatasan Malaysia. Ketika bertugas di sana, kalau ditanya tempat bertugas, penulis dengan bercanda menjawab di "KP2KP Malaysia Selatan".

Anak-anak, saat liburan mengunjungi penulis, harus menempuh kendaraan darat, laut, dan udara. Itupun harus menginap dulu semalam di pulau Tarakan karena saat pesawat landing, sudah tidak ada waktu lagi ke pelabuhan untuk mengejar jadwal speedboat yang paling sore.

Adalah hal yang wajar jika istri sahabat penulis merasa berat untuk tinggal di lokasi yang jauh dari keluarga besarnya. Di sisi lain, sahabat penulis juga memiliki rasa tanggung jawab untuk merawat dan menjaga pesantren yang sudah ia dirikan.

Manusia berusaha tetapi Tuhan yang menentukan

Semaksimal apapun usaha manusia, semuanya telah diatur oleh Allah SWT. Bersama atau berpisah terkadang terjadi di luar perencanaan manusia. Ada yang berusaha untuk tetap bersama, tapi terpisah karena berbagai hal.

Ada seorang yang berpura-pura mati agar hutangnya tidak ditagih dan mendapatkan uang asuransi. Ia membeli asuransi jiwa yang besar lalu menceburkan mobilnya ke dalam sungai.

Agar skenarionya sukses, ia tidak memberitahu istrinya. Jika ia beritahu, bisa jadi istrinya tidak pandai berbohong dan tipu muslihatnya terbongkar. Kepolosan dan kesedihan istrinya tentu akan bisa meyakinkan polisi dan perusahaan asuransi.

Yang tidak diduga olehnya adalah istrinya betul-betul sedih. Istrinya bunuh diri setelah membunuh kedua anaknya. Asuransi tidak didapat dan ia terpisah dengan keluarganya selamanya.

Permainan takdir yang merubah arah kehidupan juga dialami oleh teman penulis di Balikpapan. Di hari pernikahan, ia bersama keluarganya pergi ke tempat mempelai calon wanita. Ternyata, calon mempelai wanita menghilang, kabur dari rumah.

Keluarga calon mempelai wanita menawarkan adik perempuan calon kepada teman penulis. Ia merencanakan menikah dengan kakaknya, namun takdirnya menikah dengan adiknya. Teman penulis berkata, "Mulai saat itu saya semakin yakin dengan takdir."

Penulis pernah mendengar cerita tentang seorang ustadz yang menjalani takdir untuk berpoligami. Ustadz tersebut menjodohkan seorang pria dengan seorang gadis. Calon mempelai pria yang direkomendasikan oleh ustadz tersebut ternyata tidak datang di hari pernikahan. Padahal pihak keluarga calon mempelai wanita sudah mempersiapkan segalanya.

Tamu undangan sudah hadir dan berita putri mereka akan menikah juga sudah tersebar. Agar tidak menanggung malu, pihak keluarga calon mempelai wanita memaksa ustadz yang merekomendasikan calon pria untuk bertanggung jawab.

Ada juga wanita yang menikah karena tertipu. Kasus ini menimpa wanita Hongkong yang ditipu sehingga menikahi warga Cina. Ia diberitahu ada pekerjaan sebagai perencana pesta pernikahan dan harus berlatih ke Cina.

Ia diberitahu bahwa pelatihan yang dilakukan adalah melakukan simulasi acara pernikahan. Ternyata acara yang ia kira hanyalah pelatihan, sebenarnya adalah penipuan untuk mendapatkan bukti pernikahan. Dokumen yang ditandatanganinya adalah dokumen resmi sehingga pernikahan tersebut sah dan tercatat.

Penipuan ini terjadi karena ada peraturan di Cina bahwa warga Cina yang ingin mengajukan permohonan untuk tinggal di Hongkong, salah satu syaratnya adalah menikah dengan pasangan dari Hong Kong. Begitu dokumen didapatkan, lelaki itu menghilang.

Jodoh memang misteri dan merupakan ketentuan dari Allah SWT. Ada kasus yang terpaksa menikah gara-gara ibunya mengancam akan bunuh diri. Ada yang menikah karena menggantikan saudaranya yang meninggal.

Wilayah Takdir yang Seharusnya tidak Perlu dipusingkan

Jodoh masuk ke dalam wilayah takdir. Pembicaraan takdir biasanya berkisar pada jodoh, ajal, dan rejeki. Sebenarnya wilayah takdir lebih luas, namun tiga hal inilah yang sering membuat manusia gelisah. Tiga hal ini yang sering membuat manusia sedih sehingga tidak fokus untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jodoh, ajal, dan rejeki adalah ketetapan yang ditentukan oleh Allah SWT. Rejeki diatur oleh Allah SWT ditegaskan di dalam ayat Al-Quran:
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (QS. Al-‘Ankabut ayat 60)
Lihatlah pembagian rejeki di padang rumput. Keberlangsungan hidup singa tergantung dengan jumlah rusa. Singa tidak bisa mengatur jumlah rusa tapi tetap bertahan hidup karena jumlah perkembangbiakan rusa sudah diatur oleh Tuhan. Rusa juga tidak bisa mengatur jumlah rumput yang tumbuh, tapi untungnya Tuhan telah menjamin dan menetapkan jumlah rumput agar rusa dapat bertahan hidup.

Keyakinan bahwa rejeki, jodoh, dan ajal ada Yang Mengatur, seharusnya membuat hati lebih tenang di dalam berusaha. Jika dapat berarti sudah ditetapkan miliknya, jika lepas memang bukan haknya.

Meskipun ditakdirkan, namun Harus Diusahakan.

Meskipun diatur Tuhan, manusia diminta tetap berusaha mencari jodoh, rejeki, dan menjaga kesehatan untuk memenuhi kewajiban syariat. Secara syariat, manusia diperintah berikhtiar untuk menjemput jodoh, rejeki, dan menjaga kesehatan. Lelah, sakit, dan mengalami kerugian dalam berikhtiar bisa menghapus dosa-dosa.

Meskipun diusahakan, manusia tidak boleh menjadikan mencari jodoh, rejeki, dan menjaga kesehatan sebagai alasan meninggalkan perintah ibadah. Perintah ibadah sangat jelas di dalam Al-Quran:
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat ayat 56)
Ada hal-hal yang sudah dijamin atau ditentukan oleh Allah SWT dan ada kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan. Masalahnya ada manusia yang melalaikan kewajiban dengan alasan berusaha mencari apa yang sebenarnya sudah ditentukan kadarnya. Pada butir kelima dari kitab Al-Hikam Syaikh Ibnu Atha'illah berkata:
Kesungguhanmu untuk mencapai sesuatu yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, dan (disertai) kelalaian terhadap kewajiban-kewajiban yang telah ditugaskan kepadamu, itu membuktikan butanya mata hatimu. (Kitab Al-Hikam butir 5)
Permainan takdir terkadang mengguncang perasaan. Padahal hasil akhirnya sudah ditetapkan. Beribadah terkadang menimbulkan perasaan enggan. Padahal kewajibannya sudah ditetapkan.

Wallahu a’lam bishshowab
Lebih lamaTerbaru

1 komentar

  1. Masya Allah Tabarakallah ustadz betul ustadz terkadang manusia melupakan bahwa janji Allah yang selalu pasti sedangkan takdir di dunia terkadang tidak bisa membuat bahagia meski sudah sesuai dengan keinginan

    BalasHapus
Translate