
Suatu hari, saat penulis menunggu waktu sholat isya di suatu masjid, ada ustadz yang sedang berceramah kepada santri-santri. Masjid tersebut memang memiliki pesantren yang membina santri-santri penghafal Quran.
Kebetulan saat itu adalah malam yang merupakan salah satu malam yang di dalam Islam dianggap merupakan malam yang mulia. Penulis lupa apakah malam saat itu malam Nisfu Sya'ban atau malam Arafah.
Ustadz di majelis tersebut mengatakan bahwa karena malam tersebut malam mulia, ia meminta santrinya sebelum tidur membaca surah Al-Ikhlas sebanyak seribu kali sebelum tidur. Terdengar seruan kaget semi protes dari santri-santri.
Ustadz berkata, "Lho seribu itu sedikit." Sambil tertawa ia berkata, " dibandingkan dua ribu, seribu itu sedikit." Santri-santrinya tertawa. Iya sih, kalau dibanding dua ribu sedikit, tapi kalau dibanding seratus, seribu buanyak banget. Daripada dinaikkan jadi dua ribu, mending melaksanakan saja.
Ustadz bercerita bahwa dulu ia juga dipaksa kiainya agar mampu melaksanakan hal-hal yang dulu tidak bisa dia lakukan. Bahkan kiainya menemaninya saat melakukan amalan agar tidak tertidur. Kiainya tidak mamu memanjakannya agar ia menjadi kuat.
Manusia jika melatih dirinya, akan bertambah kemampuannya. Otot yang dipaksa bekerja keras akan membesar dan mengeras. Ia akan semakin kekar dan kuat.
Demikian juga dengan otak. Semakin sering otak berpikir, ia akan semakin cerdas. Apalagi jika ditunjang dengan nutrisi otak yang baik.
Selama abad ke-20, ada tren manusia semakin bertambah cerdas setiap dekadenya. Tren ini disebut Flynn Effect. Setiap sepuluh tahun, Intelligence Quotient (IQ) manusia meningkat.
IQ adalah ukuran standar untuk menilai kemampuan penalaran, memori, pemecahan masalah, dan pemahaman logika seseorang. Dengan standar perhitungan yang sama, diketahui beberapa generasi mengalami pertambahan kecerdasan.
Berdasarkan data, generasi yang lahir pada tahun di sekitar 1965-1980 (Gen X) lebih cerdas dari pada generasi Baby Boomers yang lahir di sekitar tahun 1946 -1964. Generasi Millennial yang lahir tahun 1981-1996 lebih cerdas daripada generasi X.
Pertambahan kecerdasan ini diperkirakan karena ada perbaikan gizi dan kesejahteraan. Selain itu ilmu pengetahuan juga bertambah.
Yang menjadi anomali adalah terjadi penurunan kecerdasan pada awal abad ke-21. Generasi yang lahir pada tahun 1997-2012 (Gen Z) dan Gen Alpha 2013-2024 mengalami penurunan pada kemampuan pemecahan masalah formal. Nilai tes IQ mereka lebih rendah daripada generasi sebelumnya.
Ada analisa terkait keanehan ini. Kecerdasan yang lahir di awal abad ke-21 mengalami penurunan karena kemajuan teknologi membuat otak menjadi manja. Banyaknya video-video pendek yang beredar membuat kerja otak menurun. Banyaknya video di media sosial membuat mereka malas membaca.
Membaca membuat otak bekerja lebih keras dari pada menonton video. Saat membaca, otak berusaha membayangkan dan menggambarkan obyek yang dideskripsikan dalam bacaan.
Bayangkan seseorang yang memakai baju merah dengan menggunakan sepatu hitam sedang mengendarai sepeda motor. Otak akan bekerja untuk mewujudkan bayangan tersebut. Jika dalam bentuk video, otak tidak perlu repot bekerja untuk membayangkan. Itu sebabnya membaca membuat otak bekerja lebih keras daripada melihat video.
Selain itu, video pendek seperti di TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts memicu pelepasan hormon dopamin instan secara bertubi-tubi ke otak. Akibatnya kemampuan otak untuk fokus dan konsentrasi berkurang. Padahal kemampuan berkonsentrasi akan meningkatkan kemampuan otak.
Rangsangan yang cepat dari video pendek memang menyenangkan. Keasyikan melihat video pendek membuat anak menjadi malas dan enggan untuk membaca. Membaca yang membutuhkan fokus yang tinggi terasa membosankan.
Bayangkan olahraga yang hanya menggerakkan tangan saja. Tentu hasilnya akan berbeda dengan olah raga yang menggerakkan seluruh tubuh. Olah raga yang menggerakan banyak otot seperti berenang akan membuat tubuh lebih kuat dan sehat daripada yang olah raga yang hanya mengerakkan tangan atau jari saja.
Gen Z disebut juga generasi Strawberry (buah stroberi). Diistilahkan dengan buah stroberi karena lunak dan mudah rapuh. Generasi yang hidup di zaman yang penuh fasilitas yang memanjakan. Generasi yang hidup di masa yang relatif sejahtera.
Kerapuhan generasi Stroberi yang tidak melewati kehidupan yang relatif keras di generasi sebelumnya konon juga dirasakan oleh mereka yang memperkerjakan mereka. Buaian mimpi di video drama pendek membuat mereka enggan meniti karir dari bawah. Banyak aduan bahwa pekerja generasi Stroberi gampang sakit hati dan mudah putus asa.
Jika generasi Stroberi menunjukkan kelemahan karena dimanja oleh geneasi sebelumnya, bagaimana kelak dengan generasi Alpha? Generasi Alpha saat ini memang belum memasuki usia kerja. Mereka masih anak-anak menjelang remaja. Namun, indikasi turunnya kecerdasan merupakan alarm yang perlu diwaspadai. Mereka dimanja oleh kecerdasan buatan (AI) sehingga malas berpikir dan berimajinasi.
Memanjakan anak dengan memberikan banyak fasilitas bisa membuat anak rapuh. Kurangnya tugas dan beban tanggung jawab yang bisa membuat lebih kokoh dan kekar akan melenakan anak.
Ustadz Adi Hidayat sambil bercanda mengatakan bahwa ada doa agar seseorang menjadi lebih hebat. Doanya " Allahumma, paksa aja". Seseorang harus bisa memaksa dirinya agar bisa lebih kokoh, kuat, dan cerdas.
Wallahu a’lam bishshowab


Posting Komentar